Rabu, 31 Desember 2008

115 Hari di Serambi Mekah

Hari ini 26 Desember 2008, tepat 4 tahun bencana yang luar biasa dahsyat melanda Nanggroe Aceh Darussalam. Ratusan ribu jiwa tewas akibat bencana ini. Bencana terb esar dalam sejarah Indonesia bahkan dunia. Dibalik semua itu tsunami telah mengubur impian2 mereka dalam2. Tarian Aceh dan nyanyian merdu orang Aceh seakan berhenti mendadak saat itu. Dunia seakan tertegun..

Tepat setahun lalu saya masih di Aceh, melewati hari peringatan 3 tahun tsunami di rumah2 bantuan PMI di Punge Jurong. Salah satu daerah terparah yang jika kita lihat di Google Earth hancur lebur tak berbentuk ketika tsunami.

Di pagi hari tepat ketika 3 tahun tsunami, saya melihat banyak sekali orang berbondong-bondong menuju ke pantai. Ke Ulee Lhee salah satunya, di sana berkumpul banyak orang untuk berdoa demi saudara2 mereka yang telah “syahid” mendahului mereka.

Selama di Aceh saya tidak berani bertanya langsung dengan orang2 disana tentang keadaan mereka dimasa-masa konflik maupun saat tsunami menerjang Aceh. Saya tidak ingin pertanyaan saya membuka luka lama bagi mereka. Saya tidak ingin mereka mengingat-ingat memori buruk masa lalu disaat mereka sedang memulai masa depan dengan impian kedamaian.

Aceh, sebuah daerah yang memberi saya pelajaran luar biasa bagi saya. Bahwa hidup itu perjuangan, bukan sekedar “gincu” pemanis hidup. Awal2 disana saya merasakan kultur masyarakat disana keras. Apakah konflik masa lalu dan bencana dahsyat menghilangkan senyum mereka? Saya tidak tau saat itu..

Tepat 9 Desember 2007 di Bandara Polonia Medan yang habis terbakar, saya mulai “petualangan’ saya ke Banda Aceh. Suasana bandara Polonia kala itu kacau balau, ruang tunggu digelar di depan bandara seperti orang hajatan. Cuaca saat itu sangat buruk, sehingga keberangkatan ditunda sampai 2 jam. Setelah menunggu akhirnya pesawat diberangkatkan meski dengan cuaca yang buruk. Setelah sekitar satu jam akhirnya sampai juga di Bandara Sultan Iskandar Muda.



*) Bandara Sultan Iskandar Muda Yang Lama

Tepat pukul 16.00 tanggal 9 Desember 2007 untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di bumi Serambi Aceh. Syukur dipanjatkan bisa mencapai daerah yang luar biasa ini. Di negeri Syariah Islam.

Sesampai di Bandara, perasaan yang pertama kali muncul adalah bingung. Ya, bingung mau kemana tujuan setelah sampai disana. Maka yang dilakukan pertama adalah bagaimana agar sampai di Masjid Baiturrahman. Setelah bertanya kepada petugas disana, maka dianjurkan untuk naik Bus Damri agar sampai di Masjid Baiturrahman.

Di dalam bus yang membawa ke arah Banda Aceh ( Bandara Sultan Iskandar Muda ada di Kab. Aceh Besar ) saya sekilas begitu dengan suasana di Aceh. Saya seakan tidak percaya bisa menjejakkan kaki disana, padahal 3 bulan sebelumnya saya masih jadi “pemanjat tiang telepon” di Semarang. Akhirnya setelah 30 menit perjalanan, bus berhenti. Saya yang masih buta sama sekali daerah sana, lantas bertanya kepada sopir busnya. “ Bang, kok busnya berhenti disini. Enggak lewat Masjid Baiturrahman? “. Lalu sopir bus tadi bilang “Ini sudah sampai de’, liat tu sebelah kiri. Itu Masjid Raya..“



*) Masjid Raya Baiturrahman

Subhanallah, saya takjub luar biasa. Tidak pernah terlintas dalam benak saya, bisa ada disana. Beribu-ribu kilometer dari tanah Wonosobo, disana saya berdiri. Tepat di depan Masjid Baiturahhman. Masjid yang penuh dengan hidayah Allah. Tak terasa hati saya berlinang, mengingat semua yang telah berlalu. Mengingat ratusan ribu “syuhada” yang telah syahid sebagai “tumbal” dari keangkuhan manusia.

Setelah “plonga-plongo” dan ambil foto dengan “narsisnya”, akhirnya datang juga teman, namanya Moko dan Dedi. Teman satu perusahaan yang menjemput di depan Masjid setelah kami berjanjian sewaktu saya masih di Medan. Setelah kenalan dan bertegur sapa seadanya, saya diantar ke rumahnya di Punge Jurong. Agak “katrok” ketika melihat sebuah pesawat yang dipajang di sebuah lapangan. Ketika ditanyakan ternyata itu adalah pesawat RI 001. Pesawat pertama yang dimiliki Republik Indonesia hasil sumbangan dari rakyat Aceh. Dan nama lapangan itu adalah Lapangan Blang Padang. Nama lapangan yang tidak asing ditelinga saya karena nama itu sangat sering didengar di berita-beriat televise. Itu salah satu lapangan bersejarah ketika Aceh pada masa-masa konflik, juga salah satu tempat penyerahan dan pemusnahan senjata-senjata milik GAM pasca perjanjian damai.

Setelah sampai dirumah Dedi, saya agak merasa heran. Kok rumahnya sama semua ya. Ternyata dikawasan itu rumah-rumahnya baru semua, hasil sumbangan dari Palang Merah Indonesia karena daerah ini adalah salah satu daerah yang parah diterjang tsunami. Padahal jarak dari pantai mencapai 3 kilometer. Subhanallah.

Mulai saat itu, hari-hari saya di Aceh dimulai. Minggu-minggu pertama saya di Aceh, saya belum sempat kemana-mana karena disibukkan dengan dengan pekerjaan disana.
Namun ada satu yang berbeda, saya sedikit rajin shalat. Khususnya shalat Jum’at, soalnya kalau tidak shalat Jum’at takut ditangkap polisi syariah.:)

Kemudian sedikit demi sedikit saya mulai berinteraksi dengan orang yang saya temui disana. Sesekali sering mendengarkan keluhan dari perempuan-perempuan disana, yang merasa pemberlakuan hukum “syariat Islam” sedikit mendiskriminasi mereka. Karena hukum itu lebih banyak mengatur mereka daripada laki-laki. Lebih banyak mengikat mereka ketimbang kaum laki-laki.

Gempa sedikit demi sedikit mulai terbiasakan, terakhir gempa 7 scala richter dirasakan. Namun orang-orang disana seakan-akan terbiasa dengan gempa-gempa itu. Mungkin saking seringnya. Tiba-tiba diakhir Januari 2008 saya merasakan pusing dan demam yang sangat. Sempat malas berobat , namun setelah periksa darah ternyata kena Demam Berdarah. Mau tidak mau akhirnya harus tepar juga di rumah sakit Harapan Bunda Banda Aceh. Selain pengalaman tinggal di Aceh, ada juga satu pengalaman lagi. Yaitu untuk pertama kalinya dirawat di Rumah Sakit. Ribuan biotika harus dijejalkan ke tubuh yang tiap hari harus diambil darahnya. Tapi seminggu di Rumah Sakit saya sangat betah. Dokter dan perawatnya cantik-cantik semua. Bertahun-tahun disitu mungkin betah kali ya.. :D

Hari berganti hari, ketika kerjaan sudah mulai berkurang bosan datang. Maka hari-hari berikutnya di isi dengan acara “muter-muter”. Ngapalin jalan sampai jalan tikusnya. Tiap sore cuci-cuci mata didaerah Darussalam, tempat Universitas Syiah Kuala. Mencoba memandang generasi-generasi penerus Aceh disana. Bercerita tentang kegiatan-kegiatan mereka serta impiannya. Impian untuk melihat Aceh dengan kedamaian yang abadi.

Ketika bosan kembali datang, saya pergi lagi ke Pelabuhan Malahayati. Sekitar 30 kilometer dari Banda Aceh. Perjalanan ke daerah itu sangat menyenangkan, dengan pemandangan pantai timur Pulau Sumatera yang sangat Indah. Lebih bagus dari pantai-pantai di Jawa yang saya pernah lihat. Namun rasa getir akan hadir juga, karena sepanjang jalur itu adalah salah satu daerah yang terparah dihantam tsunami. Kehidupan di sana baru saja dimulai.





*) Di Pelabuhan Malahayati

Ketika mulai sombong dengan diri, saya pergi ke Punge Blang Cut. Tempat dimana perahu PLN yang besar terbawa arus tsunami. Terbawa arus sejauh 3 kilometer, padahal berat kapal itu berton-ton. Saya harus menyadari, tidak ada yang bisa disombongkan oleh diri ini. Karena segala sesuatunya milik Allah SWT.

Banyak pengalaman luar biasa bagi saya disana, meski sebentar semua pengalaman-pengalaman itu membuat perubahan dalam diri saya.
Namun jauh direlung hati, saya ingin kembali. Bertemu lagi dengan orang-orang hebat disana.

Suatu sore di 30 Maret 2008 saya kembali ke Jakarta, namun banyak impian saya masih tertambat disana. Salah satunya bertemu dengan dia. Dia yang mengajarkan saya apa arti kehidupan yang sempurna.



*) Pantai Look Nga

Tidak ada komentar:

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...