Tampilkan postingan dengan label Inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiration. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2012

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi - Goenawan Mohamad (@gm_gm)


Salah satu puisi favorit saya karya Goenawan Mohamad berjudul "Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi". Puisi ini ada di buku Asmaradana ( Gramedia Widiasarana, 1992). Pernah dibacakan juga oleh Sujiwo Tejo di Film Telegram (cuplikannya ada di video youtube di atas). 


Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada

1966

Selasa, 06 Maret 2012

Terkunci di Stasiun Tanjung Karang

*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (3)

kelanjutan dari : Rajabasa dan Anggur Jamu 

Siang ini kami ke Stasiun Bandar Lampung (Tanjung Karang) dengan tujuan untuk membeli tiket kereta malam ke Palembang, sekaligus numpang mandi di stasiun kereta tersebut.  Sejak kemarin dari Purwokerto, kami belum mandi sama sekali. Sesampai di stasiun kami mencoba melihat jadwal kereta ke Palembang. Namun sayang tak ada loket buka sama sekali. Dari informasi diketahui bahwa loket di buka 2 jam sebelum kereta jalan. Lucunya, kalau di loket hanya bisa dibeli 2 jam sebelum kereta berangkat, tiket bisa dibeli di agen tiket jauh-jauh hari. Jadi misalnya untuk hari ini kereta akan berangkat pukul 9 malam, maka loket di stasiun baru buka jam 7 malam. Tapi anehnya di agen sudah di jual, bahkan jauh-jauh hari kita bisa memesan. Yang jadi pertanyaan, apabila tiket sudah terjual habis di agen, apakah loket akan tetap buka?

Beberapa orang menawari kami untuk membeli tiket di agen. Kami menolak, dengan pertimbangan harga tiket di agen pasti jauh lebih mahal dibanding dengan tiket yang di jual di loket. Kami mencoba berspekulasi nanti malam saja, meski agak khawatir mendengar penuturan banyak orang tentang susahnya membeli tiket di loket karena keterbatasan jumlahnya. Ah, inilah potret jasa di negara ini, meski sudah diurus oleh perusahaan yang ‘katanya’ milik negara sekalipun!

Dari loket-loket yang masih kosong melompong itu kami mencoba masuk ke dalam stasiun. Dengan membayar peron Rp.7500 untuk 3 orang kami diperbolehkan. Sesampai di dalam, Hilmy mondar-mandir mengambil foto. Melyn duduk melepas lelah. Ada kereta penuh penumpang yang akan berangkat. Selang beberapa waktu, kereta itu berjalan mengikuti alur perjalannya. Dari deretan kursi ruang tunggu, kami duduk melepas lelah. Hilmy berjalan agak menjauh mencari kamar mandi umum di stasiun untuk mandi. Namun tiba-tiba beberapa petugas pengamanan datang ke arah kami.
“Keluar-keluar, pintu akan di tutup! Silahkan mau keluar apa terkunci disini sampai malam”
Kami bertiga kebingungan. Kenapa kami di suruh keluar? Bukankah stasiun kereta buka 24 jam? Tapi begitu masuk ke stasiun kereta ini kami disuruh keluar lagi.

Kami keluar dari stasiun sambil bertanya-tanya. Adakah kesalahan yang kami buat sehingga kami diusir dari dalam stasiun kereta ini. Yang kami tau, di Pulau Jawa stasiun kereta buka 24 jam. Jam berapapun kita bisa masuk. Kalaupun tidak bawa tiket, bisa masuk dengan tiket peron. Tapi nampaknya di Sumatra ini berbeda. Jadi stasiun kereta hanya buka ketika akan ada kereta yang berhenti atau berangkat saja. Di luar jam itu ya stasiun ditutup!

Kami terusir keluar, dengan kondisi di dalam stasiun tadi kami belum sempat mandi. Badan kumal, kucel, dengan menggotong tas ransel besar. Tapi dengan PD-nya kami masih foto-foto di depan stasiun sampai beberapa orang yang ada disitu melihat kami dengan perasaan iba hahaha.

Di tengah kebingungan, tiba-tiba Febs telfon. Febs ini adalah teman baik dari Filipina. Saya pernah bertemu dengan dia di Jakarta, dan sering mengobrol meski hanya lewat YM atau sms. Kebetulan saat ini dia sedang ada pekerjaan di Lampung. Sebenarnya siang ini dia harus kembali ke Jakarta sehingga tidak bisa menemui kami. Tetapi, mungkin karena mendengar suara saya yang terdengar ‘kelaparan’, dia mengajak kami bertemu terlebih dahulu sebelum dia berangkat ke Bandara. Asik, makan gratis!

Febs dan driver yang akan mengantar dia ke Bandara menyempatkan datang ke stasiun. Kemudian kami diajak ke sebuah tempat makan yang tidak terlalu jauh dari stasiun. Inilah makan pertama kami di Sumatra. Saya, Hilmy, dan Melyn masih dengan tampilan kucel kami yang belum mandi dari kemarin. Bahkan belum tersentuh air sama sekali hari ini. Dengan tisu di tempat makan saya mencoba membersihkan muka. Busyet! Begitu diusapkan ke muka saya, tisunya langsung hitam penuh debu. Melyn senyum-senyum melihat bentuk tisu yang menghitam begitu menyentuh muka saya yang penuh debu ini. Kotor sekali tampilan kami siang ini.

Sempat ngobrol beberapa saat dengan Febs. Namun kami tak bisa lama-lama. Dia sudah harus ke Bandara karena sore ini harus bergegas ke Jakarta. Saya minta diantarkan ke Musem Lampung. Diantarkannya kami bertiga ke Museum Lampung yang kebetulan searah dengan jalan menuju bandara. Sesampainya di museum kami turun, kemudian Febs dan drivernya melanjutkan perjalanan ke Bandara. Febs berpesan untuk menceritakan apa yang ada di dalam museum kepada dia nantinya.
Kami sendiri masuk ke Museum Lampung, suasana sangat sepi. Hampir tak ada orang yang kami temui. Nampaknya museum ini sudah tutup. Entah tutup karena memang sudah jam tutup, atau tutup karena tak ada orang yang datang menyambanginya. Agak kecewa karena kami tak bisa masuk ke dalamnya. Namun satu hal luar biasa yang kami temukan di kompleks museum ini, sesuatu yang bahkan tidak bisa kami dapatkan di stasiun karena sudah terlebih dahulu terusir. Di museum ini ada kamar mandi! Dan untuk pertama kalinya di Sumatra, setelah 24 jam kami di jalan. Di tempat yang tidak terduga ini kami bisa mandi!

Jadi kalau di kemudian hari Febs tanya, “Saya ingin ke Museum Lampung, apa ada yang menarik di dalamnya?” Saya menjawab “Ada satu yang menarik” “Apa?” “Kamar mandi. Karena kami juga tidak tau apa isi dari Museum Lampung itu selain kamar mandinya.” 

Selepas mandi di Museum yang nampak kosong ini, kami melanjutkan perjalanan. Rencananya kami akan jalan-jalan ke kota Bandar Lampung. Tapi ada hal yang membuat saya bingung sebenarnya. Semua orang Indonesia ketika ditanya Ibukota Provinsi Lampung pasti menjawab Bandar Lampung. Di buku-buku sekolah, di internet bahkan dalam tata pemerintahan, Ibukota Provinsi Lampung adalah Bandar Lampung. Tetapi yang saya temui di kota ini, entah itu di petunjuk jalan, papan nama toko, semuanya tertulis Tanjung Karang. Lalu di mana yang namanya Bandar Lampung ibukota Provinsi Lampung? 

Sebelumnya ketika makan, saya sudah mencoba bertanya kepada teman Febs. “Mas, kalau Bandar Lampung itu dimana? Dari tadi semua petunjuk kok nyebutnya daerah ini namanya Tanjung Karang ya? Bukan kita ini sudah di  Bandar Lampung?”. “Ya Bandar Lampung ya disini ini mas”. “Tapi dari tadi kok tulisannya Tanjung Karang ya mas?”. “Ya Bandar Lampung ya Tanjung Karang ini”. Duh, saya semakin bingung saja. 

Menurut beberapa informasi, dulunya Ibukota Lampung adalah Tanjung Karang. Namun pada tahun 1983 Ibukota Lampung diganti dengan nama Bandar Lampung. Bandar Lampung sendiri adalah gabungan dari 3 daerah yang terintegrasi yakni Tanjung Karang, Teluk Betung, dan daerah Panjang (Kedaton). Jadi ketika Bandar Lampung di jadikan nama kota termasuk sebagai nama Ibukota Provinsi, maka secara otomatis Tanjung Karang menjadi nama kecamatan. Mungkin karena nama Tanjung Karang sudah melekat sebagai nama kota sebelum adanya Bandar Lampung, maka nama di stasiun, nama tempat, papan nama, pasar, tetap dinamai dengan Tanjung Karang. Toh, daerah itu juga masih masuk wilayah Kecamatan Tanjung Karang.

**


Selepas dari Museum kami naik angkot lagi ke arah pusat kota. Definisi ‘pusat kota’ ini beragam. Ada yang menyebut pusat kota adalah pusat ekonomi suatu daerah atau pun pusat pemerintahan. Sore ini kami tidak tau dimana pusat kota Bandar Lampung. Kami hanya berpatokan sederhana. Pusat kota adalah tempat yang paling ramai disuatu daerah. Nah, sepertinya daerah di dekat stasiun yang kami datangi tadi adalah salah satu pusat keramaian di kota Bandar Lampung. Penampilan kami sudah berubah. Penampilan kucel dan bau sudah berganti dengan semerbak wangi dan rapi karena sudah mandi di museum. Di angkot pun sudah berani mencuri pandang ke arah cewek. 

Ketika hampir dekat dengan pasar di dekat stasiun, kami meminta turun. “Stop Pak, kiri.. kiri.. kiri” Tetapi angkot masih saja jalan. Nampaknya isyarat untuk turun dari angkot berbeda-beda tiap daerah. Seorang ibu di dalam angkot memberitahu kami, caranya turun dari angkot di daerah sini adalah dengan ucapan “minggir”. Kamipun serentak berteriak “MINGGIRR!”, dan dalam sekejap sopir angkot langsung memberhentikan angkotnya. Luar biasa keanekaragaman di Indonesia. Isyarat berhenti dari angkot pun berbeda-beda tiap daerah.  

Dari daerah tempat kami turun, kami berjalan-jalan. Menyusuri keramaian pasar di dekat stasiun Tanjung Karang. Pasar di sini tak ubahnya seperti pasar tradisional di Jawa. Kebersihan tidak terjaga, sampah berserakan, tetapi banyak sekali barang yang di jual. Lelah karena muter-muter, kami berhenti di sebuah Masjid. Duduk di serambi sambil ngobrol-ngobrol. Tak terasa, dalam waktu 24 jam kami sudah sampai di Bandar Lampung. Sebuah kota di seberang pulau, Sumatra. 

Setelah agak lama kami istirahat di masjid, kami beranjak kembali ke stasiun. Berharap stasiun sudah buka dan kami sudah bisa membeli tiket. Tetapi sesampai di stasiun pintunya masih ditutup. Suasananya sudah lebih ramai, banyak sekali orang di depan stasiun. Entahlah bagaimana nasib kami, apakah malam ini kami bisa melanjutkan perjalanan ke Palembang, atau harus menerima kenyataan tidak mendapatkan tiket dan bingung kami akan menginap dimana. Entah orang-orang ini siapa, kami juga tak mengenalnya. Apakah mereka juga akan mengantri tiket seperti kami, atau hanya orang yang sedang singgah ke stasiun ini.

Tak lama kemudian, setelah semakin banyak orang berdatangan dan berkumpul di bukalah pintu stasiun oleh petugas. Secara refleks, orang-orang yang tadinya di luar itu berhamburan masuk dan berebutan ke arah loket penjualan tiket. Ternyata orang-orang yang tadi berkumpul di depan stasiun adalah orang yang sore ini akan antri membeli tiket juga. Mereka berhamburan ke dalam dean loket dan secara otomatis membentuk antrian panjang ke belakang. Beruntung, di tengah tidak sadarnya kami akan hal ini, Hilmy dan Melyn sudah ikut berlari ke arah loket penjualan tiket sehingga otomatis kami sudah ikut antri untuk membeli tiket. 

Tapi taukah kawan? Loket penjualan kereta ini baru akan di buka pukul 19.00 untuk keberangkatan kereta pukul 21:00. Dan saat orang berhamburan untuk antri itu jam di tangan kiriku ini masih menunjuk pukul 17:30. Ya kami akan menunggu sampai loket ini buka pukul 19:00 nanti.

Itulah senja pertama kami di Pulau Sumatra. Menikmati antrian di dalam stasiun yang gelap. Dengan harap-harap cemas apakah kami masih dapat tiket untuk malam ini. Tapi semua akan kami nikmati, senja yang samar ini. Pada saat nantinya akan kami temui senja yang lebih indah dari ini.

"The road of life twists and turns and no two directions are ever the same. Yet our lessons come from the journey, not the destination.” - Don Williams, Jr

Di depan Stasiun Tanjung Karang

Masih di depan Stasiun Tanjung Karang

Terusir dari dalam stasiun :D

Antri tiket...

Suasana pasar di dekat stasiun..

Masih duduk antri tiket..

Selasa, 07 Februari 2012

mBolang Yogyakarta - Pacitan (hari kedua)

Selepas hari pertama mBolang Yogyakarta - Pacitan. Di hari kedua kami bersiap untuk pergi ke Pacitan, Jawa Timur. Semalaman kami menginap di kost Noe di Yogyakarta. Pagi sekitar pukul 7 kami beranjak pergi ke arah Pacitan melalui jalur Yogyakarta - Wonosari - Pacitan. Kali ini kami berempat karena Iftien sudah kembali ke Kebumen. Saya, Hilmy, Vira dan Noe. Tanpa sempat sarapan kami melaju, dingin sisa hujan tadi malam masih terasa. Lepas dari Wonosari kami melewati gugusan pegunungan kapur yang panjang. Di kanan kiri yang nampak hanya pemandangan gunung kapur. Sesekali ada ladang jagung yang luas, mengingatkan saya pada pemandangan ladang gandum di game German Truck Simulator. Indah!

Gunung kapur nampak kering dan gersang. Beberapa kali kami melewati perkampungan yang sepi. Jarang sekali melihat anak muda di daerah ini. Mungkin, karena daerah ini gersang sehingga kebanyakan anak muda lebih suka untuk merantau ke kota besar. Jalanan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini sangat mulus. Saya sempat nyelutuk, kalau jalanan sudah tidak mulus lagi berarti kita sudah masuk Jawa Tengah. Hehe. Tapi kondisinya memang demikian, jalanan di Yogyakarta dengan Jawa Tengah sangat berbeda.

Lepas dari jalan mulus di Yogyakarta, kami mulai masuk ke jalan yang 'kurang' mulus. Nampaknya, kami sudah masuk daerah Wonogiri Jawa Tengah. Pemandangan di luar masih sama, tebing-tebing gunung kapur yang indah. Kira-kira 30 km dari Wonosari ketika kami menemukan sebuah papan petunjuk Museum Kars Indonesia. Daerah ini masuk wilayah Pracimantoro,Wonogiri, Jawa Tengah. Sempat heran karena ada museum di tengah pegunungan kapur seperti ini. Kami berinisatif masuk ke areanya. Sambil masih bertanya Museum Kars Indonesia ini museum apa? Kenapa didirikan di tengah pegunungan kapur seperti ini?
Kars merupakan istilah bahasa Jerman yang diadopsi dari bahasa Slovenia yang berarti lahan gersang berbatu. Kars diartikan sebagai bentang alam yang terbentuk akibat pelarutan batuan. Umumnya batu gamping maupun dolomite oleh air. Selain itu, pembentukan kars dipengaruhi oleh faktor struktur geologi, relief, iklim dan waktu. Museum ini dibangun dan baru diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 30 Juni 2009. Prasasti peresmian itu terpasang di depan museum. Daerah Wonogiri, khususnya Wonogiri bagian Selatan seperti Pracimantoro memang merupakan daerah yang tandus dan alamnya di penuhi oleh batu-batu kapur. Museum Kars ini letaknya sekitar 2 kilometer dari pusat kota Pracimantoro. Di dalam museum, wisawatan akan disuguhi tentang berbagai gambar, diorama film dan informasi tentang Kars dari seluruh dunia. (koranjitu.com)
Ternyata daerah ini termasuk dalam kawasan kars. Sempat bingung dengan istilah kars ini, tapi setidaknya informasi di dalam museum lumayan membantu. Yang saya simpulkan dari museum ini isinya tentang batuan sebagai pembentuk kawasan kars, gua-gua disekitar museum juga tentang kehidupan masyarakat yang tinggal di daerah kars. Selebihnya bingung! mungkin harus belajar geologi dulu ya atau bisa juga saya 'gak dong' karena belum sarapan (alibi). Yang membuat salut adalah tentang bagaimana masyarakat bisa bertahan hidup di daerah yang kering dan gersang seperti kawasan kars. Kalau masih ingin tau tentang kars bisa di buka di wikipedia :)









Hanya beberapa saat kami mampir di Museum Kars untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke arah Pacitan. Kami terus melaju ke arah timur, masih di daerah Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Melewati jalanan yang naik turun di sela-sela gunung kapur. Pemandangan indah yang tentunya berbeda dengan topologi daerah di Indonesia pada umumnya.

Kami yakin sudah masuk ke wilayah Pacitan, Jawa Timur ketika kami melewati gapura selamat datang dengan tulisan "Selamat Datang di Bumi Kelahiran Presiden SBY". Yup, Pacitan ini memang tempat kelahiran Presiden Indonesia. Kami terus melaju sampai kemudian bertemu papan petunjuk ke arah Pantai Klayar, tujuan pertama kami. Melewati jalan rusak yang panjang dengan pemandangan desa-desa yang sepi. Jalanan rusak sehingga menggoncangkan seluruh isi mobil yang kami tumpangi ini. Semua kembali ke pengharapan awal, "Perjalanan yang jauh dan rusak harus ketemu pantai yang bagus". Masih kebingungan seberapa jauh pantai Klayar bisa kita jangkau ketika kami mampir untuk mencari pengganjal perut di sebuah kios kecil, di tengah kampung dengan jalan rusak. Bahkan sinyal hp pun tidak bisa terjangkau dari sini.

Setelah beberapa saat, sampailah kami di sebuah pantai yang luar biasa indah! Pantai Klayar Pacitan! Tidak ada yang sia-sia nampaknya. Perjalanan jauh dengan jalan rusak langsung dibayar tunai dengan indahnya pantai ini. Laut sedang pasang, ombak begitu meninggi sehingga petugas penjaga pantai tidak henti-hentinya memperingatkan pengunjung untuk tidak berenang di pantai. Kami sarapan di sebuah warung makan dengan penjual yang begitu ramah dan bersahabat. Dari percakapan dengan bapak penjualnya, kami baru tau ternyata jalan yang kami lalui tadi bukan jalan utama, pantas saja jalannya begitu rusak. Selesai makan kami langsung bergegas untuk menuju sebuah bukit di sisi kiri pantai. Pemandangan dari atas bukit sungguh indah sehingga panas terik siang tidak begitu kami rasakan.

Pantai Klayar dari atas (dari wikimapia) :



Indahnya Pantai Klayar Pacitan :







Setelah puas menikmati keindahan Pantai Klayar yang konon begitu bagus ombaknya untuk selancar. Kami melanjutkan perjalanan untuk transit ke rumah Noe yang ada di Pacitan. Istirahat sebentar di rumahnya, kami melanjutkan perjalanan kami ke Goa Gong yang masih ada di wilayah Pacitan juga. Goa Gong ini masuk dalam kawasan kars yang teorinya kami dapatkan di Museum Kars sebelumnya. Pegunungan di Pacitan adalah rangkaian pegunungan tandus di mulai dari Kebumen Jateng (Pegunungan Sewu), terputus di Wates Jogjakarta, dilanjutkan di Gunung Kidul/Wonosari (Yogyakarta) hingga Pacitan, Ponorogo, Trenggalek dan terus ke Malang dan Jember

Layaknya ketika berada di Lubang Jepang Bukit Tinggi, saya masih agak 'malas' untuk masuk ke Goa/Lubang. Semacam ada kesumpekan ketika ada di dalamnya. Ada perasaan semacam terpenjara sehingga ingin sekali keluar dari dalamnya.



Selepas dari Goa Gong kami melanjutkan perjalanan ke arah Pantai Srau, masih di Kabupaten Pacitan. Dari perjalanan ke Goa Gong ke arah Pantai Srau kami sedikit mengetahui topografi daerah Pacitan yang berbukit-bukit. Jalanan masih saja sepi sehingga kami sempat berfoto di tengah jalan yang kanan kirinya penuh dengan hutan.



Kami sampai Pantai Srau ketika langit mendung menghiasi cakrawala. Mungkin kami gagal untuk menikmati senja disini, tapi setidaknya pantai ini juga sungguh indah. Pantai ini sangat sepi, hanya ada kami berempat disini sehingga kami menyebutnya 'private beach'. Pantai yang begitu pasir putih yang membuat kita kagum akan penciptaan yang indah ini.

Di pantai ini kami akhirnya mencoba untuk mandi. Menyatukan diri dengan alam, begitu Hilmy menyebutnya. Memasrahkan diri kepada ombak, menyatu dengan pasir juga mengikuti irama setiap deburan yang membuat kita sungguh merasa kecil. Menikmati angin, gerimis dan belaian alam yang membuat kami bersyukur bisa sampai ada di tempat ini. Sore, gerimis, pantai putih, ombak, dan nada indah dari pianika. #bahagiaitusederhana










Hampir menjelang magrib ketika kami meninggalkan Pantai Srau ini. Perjalanan pulang dengan baju yang basah kuyup karena mandi di pantai. Vira memilih duduk di bak belakang agar dapat menikmati hujan katanya. Langit gelap sedang bayang-bayang tentang penciptaanNya masih membayang di benak kami sore itu. Saya buka HP, tiba-tiba saya teringat puisi Sapardi.

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku

Sapardi - Sajak Kecil Tentang Cinta

Bersambung ke hari ke-3 --> http://ginanjaryuwana.blogspot.com/2012/02/mbolang-yogyakarta-pacitan-hari-ketiga.html

Selasa, 23 Agustus 2011

Garis, Skenario, dan Kamu

"Jika garis ini tak membawaku semakin dekat ke lingkaran hidupmu. Biarkan semua skenarioNya yang akan menuntun langkah kita. Entah dalam pusaran yang membuat kita semakin jauh. Atau teori magnetik yang membuat takdir kita semakin mendekat. Tapi aku masih percaya bahwa teori diam itu lebih bermakna dari teori gombal di muka bumi manapun. Di tempat ini aku mencari ragaku, juga mencari pencerah akan jalanku, jalanmu, atau mungkin jalan kita. Sampai kau mengerti bahwa diamku bukan keacuhanku. Tapi ejawantah dari semua ilmu, untukku bisa memandang senyum dari juwita layaknya dirimu."

-masih di Jakarta saja, besok mudik Wonosobo-

Selasa, 31 Mei 2011

Omm Writer

Buat teman yang suka menulis di laptop/pc, ataupun sekedar mengetikkan curhatnya. Ada software bagus, namanya OmmWriter. Bisa di download di http://www.ommwriter.com/ . Sebelumnya hanya untuk Mac. Namun sekarang sudah bisa untuk windows juga. Software ini bisa menghadirkan sensasi mengetik memakai mesin tik. Diiringi nada-nada yang mengalun indah. Preview-nya bisa di lihat di web-nya. Kalau saya bilang : ini Syahdu!

*kemarin berhasil membujuk Hilmy untuk memakai software ini
*bukan iklan :P

#korea


Ada yang tau ini dari serial korea berjudul apa?

Senin, 30 Mei 2011

#KamusHidupku - 507



Terpuruk tiada dalam kamusku
Selalu mencoba, punya harapan
Hari berlalu datang rintangan baru
Berikan senyuman semua tantangan

Inilah sekilas tentang kamus hidupku
Jalan berliku takkan ciutkan nyaliku

Terpuruk tiada dalam kamusku
Selalu mencoba, punya harapan
Boleh saja kita kalah sesaat
Ambil hikmah untuk menang sepenuhnya

Inilah sekilas tentang kamus hidupku
Jalan berliku takkan ciutkan nyaliku

Bernyanyi ooh mencoba sembuhkan semua luka

Inilah sekilas tentang kamus hidupku
Jalan berliku takkan ciutkan nyaliku

Inilah sekilas tentang kamus hidupku
Jalan berliku takkan ciutkan nyaliku

Jumat, 27 Mei 2011

#Naked Traveler

Panas pekat berhembus di kamar kost yang sempit ini. Hari sudah berjalan setengahnya. Tumben, jam segini sudah mandi. Bangun 'agak gasik' jam 8, kemudian menyelesaikan membaca buku Naked Traveler 3 yang sekarang sedang ditarik dari peredaran untuk revisi karena di bredel. Beruntunglah saya masih mendapat versi 'original-nya' plus bertemu langsung dengan penulisnya :) Seperti Naked Traveler 1 dan 2, di seri ke-3 ini tulisannya masih sangat nyaman untuk dibaca. Bercerita tentang perjalanan ( traveling ) dari 'sisi lain'. Maksudnya 'sisi lain', ceritanya mengambil sudut pandang yang berbeda dari buku 'traveling' kebanyakan yang biasanya hanya menyajikan tentang laporan perjalanan dari titik A ke titik B ke titik C. Blognya di http://naked-traveler.com juga selalu update :)



Oiya, penulis Naked Traveler ini menggunakan nama samaran 'Trinity Traveler'. Alasannya dulu sewaktu awal-awal ngeblog, beliau nulisnya dari kantor saat jam kerja. Sehingga biar tulisannya tidak ketahuan bos, digunakanlah nama samaran Trinity. Kalau nama asli, di google ada kok :)

Nah kemarin sewaktu acara meet and greet Naked Traveler 3 di Semarang ada pertanyaan unik dari peserta yang saya catat :

1. 5 tempat di dunia yang wajib kita kunjungi sebelum kita mati?
 
   - Pink Beach di Pulau Komodo
   - Wakatobi
   - New Zealand / Selandia Baru
   - India ( Bukan karena bagus tapi karena lucu kebudayaan dan orang-orangnya )
   - Petra ( Yordania )

**detail dari tempat2 tersebut googling sendiri ya :)


2. Jika di "Eat, Pray and Love"-nya Elizabeth Gilbert adalah Italia, India dan Bali Indonesia. Dimanakah "Eat, Pray and Love" versi mbak Trinity?

   - Eat = Indonesia, Pray = Yerussalem, and Love = Italy :)









Lalu dimana 5 tempat dunia yang wajib dikunjungin versimu? :)

Senin, 16 Mei 2011

#Ketidakpastian

Hampir delapan bulan sudah saya mencoba keluar dari "zona nyaman" saya seperti yang pernah saya tulis di Zona Nyaman. Benar seperti yang saya pikirkan saat itu, penuh dengan ketidakpastian. Namun saya ingin menikmatinya, merasakan setiap adrenalin yang tercipta. Di tempat baru saya bertemu dengan pekerjaan di mana saya harus berinteraksi dengan banyak orang, juga berinteraksi dengan mesin. Lebih banyak tantangan, karena posisi kita sebagai "cecunguk" dalam suatu project tidak hanya di tekankan kepada hasil namun juga proses.

Memang sih masih ada rasa takut juga. Misal jika project ini selesai kemudian mau kemana lagi? Apakah next project pekerjaannya lebih sukar? Bahkan sampai pertanyaan apakah gaji bulan depan akan tepat waktu diterima.. :) Namun itulah serunya fase ini, semua serba tidak pasti sehingga benar-benar mengoptimalkan kemampuan, juga kesabaran :). Sempat beberapa saat lalu bos di kantor lama menawari untuk bergabung lagi dengan tempat yang kusebut "zona nyaman" itu, namun pembelajaran kehidupan ini begitu tak ternilai harganya. Meskipun cukup manusiawi ketika kita juga mempertimbangkan suasana kerja, salary juga fasilitas yang bisa kita dapat dari tempat kita bekerja.

Delapan bulan sudah saya keluar dari zona nyaman itu. Alhamdulillah, saya justru mendapatkan kenyamanan. Saya juga tidak terpaku kepada jam kerja, ataupun tempat kerja. Pekerjaan bisa saya kerjakan dari kost, atau dari manapun yang penting bisa online dan akses ke jaringan milik klien yang saya kerjakan. Meskipun saya sempat kedodoran dalam mengatur waktu seperti yang saya tulis di "siklus hidup". Saya juga kurang baik dalam pengaturan keuangan, padahal dulu juga sempat belajar seperti yang pernah saya ceritakan di sini.

Apapun itu hari ini saya bersyukur. Alhamdulillah, atas semua jalan ini Allah. Saya percaya kedepan tak semudah yang nampak. Masih banyak fase entah itu di atas atau di bawah. Semua ketidakpastian ini mudah-mudahan hanya sebagai penguat hati, penguat kehidupan, bahkan mungkin menjadi sebuah alur dari kehidupan dengan berbagai frekuensinya.

*menjelang dzuhur, baru bangun, subuh tadi tertidur setelah semalaman mengerjakan pending pekerjaan. mau keluar sarapan tapi iler masih tertambat di bibir. mandi dulu! :D

Kamis, 14 Oktober 2010

Siti Bugiah

Cerita ini sebenarnya di mulai di bulan ramadhan lalu. Waktu itu hari Jumat, jam yang terekat di tangan kiri saya menunjuk 16.30. Hari itu saya ada di Jakarta untuk datang ke kantor dimana saya biasa bekerja sama dengan mereka untuk pekerjaan di kantor lama saya. Setelah selesai acara, hujan turun deras. Sedangkan sore itu saya harus kembali ke Semarang karena sudah memesan tiket kereta api ke Semarang pukul 19.20 dari Stasiun Senen. Saya sangsi apakah bisa sampai di stasiun pada jam itu, karena sudah menjadi hal lazim Jumat sore di Jakarta pasti macet apalagi di tambah dengan hujan. Jika naik Busway pasti waktunya tidak cukup karena harus menuju ke Blok M kemudian di Harmoni pindah rute. Mungkin naik taksi bisa lebih cepat menurut saya.

Kemudian dengan memanggil taksi berhentilah sebuah taksi di depan kantor. Di tengah rintik hujan itu naiklah saya ke dalam taksi. Agak terkejut, ternyata driver taksi yang ada di dalam adalah seorang perempuan. Baru kali ini saya mendapati driver taksi perempuan, yang tiap hari harus menembus kemacetan Jakarta yang sedemikan parah. Kira-kira umurnya sekitar 35 tahun. Sampai di dalam beliau menyambut dengan ramah, bertanya tujuan saya. Hmm.. saya agak tertegun sedikit, mungkin bisa dibilang salut untuk pekerjaan beliau. Sesaat setelah taksi melaju, beliau mulai membuka percakapan. Asalnya dari mana, mau kemana dan sebagainya. Obrolan kemudian berjalan asyik, beliau nyambung banget. Setelah itu gantian saya yang bertanya, asalnya mana, tinggal dimana. Beliau tidak keberatan untuk menjawabnya.

Beliau asli Jakarta (asli Betawi katanya), tinggal di Jakarta bagian selatan bersama 2 orang anaknya. Saya tidak berani bertanya lebih lanjut tentang suami dan sebagainya karena takut beliau tersinggung. Karena sebelumnya beliau bilang tinggal hanya bertiga dengan kedua anaknya yang masih SD. Perbincangan berlanjut "ngalor ngidul" di tengah kemacetan Jakarta sore itu. Intinya saya benar-benar salut untuk usaha beliau, saya yakin beliau pasti mau bekerja berat seperti itu untuk anak-anak beliau. Mungkin inilah Jakarta, dimana orang harus bekerja apapun itu asal tetap bisa survive. Satu pelajaran yang saya ambil dari beliau, kerja keras!. Tidak perlu malu untuk sesuatu yang baik. Dan yang pasti saya melihat keikhlasan yang luar biasa pada beliau.

Pelajaran menjelang buka puasa yang luar biasa di tengah kemacetan Jakarta. Sesaat kemudian adzan maghrib berkumandang, kami masih terjebak macet di pusat ibukota negeri ini. Saya yang tidak membawa bekal apa-apa ditawari berbuka dengan roti yang beliau bawa dari rumah. Sesaat sampai Gambir saya mampir membeli minum, itung-itung mengganti roti yang beliau kasih untuk saya. Dan tepat pukul 19.00 kami sudah sampai di Stasiun Senen, alhamdulillah tidak terlambat, begitu gumam saya. Beliau memberi nomor telfonnya dan berpesan nanti kalau di Jakarta mau kemana-mana pakai taxi beliau saja. Hari itu saya mendapat rejeki yang luar biasa : Nilai kehidupan, Buka puasa, juga pekerjaan baru :)

Dan sekarang saya sudah ada di Jakarta, dan tadi pagi saya bertemu beliau lagi untuk mengantar saya bepergian. Beliau bertanya tentang keluarga & masih memberi sekedar nasihat untuk bisa "temata" tinggal di Jakarta. Di dalam taksi itu masih saya temui ID Card yang sama seperti beberapa bulan yang lalu saya pertama bertemu beliau, Siti Bugiah.

Jakarta, 14 Oktober 2010

Selasa, 27 April 2010

Mempertimbangkan Tradisi - Prie GS

IZINKAN saya mengutip salah satu judul buku WS Rendra ini: Mempertimbangkan Tradisi. ”Bangsa tanpa tradisi adalah bangsa yang hilang,” kata penyair ini.

Rendra sudah pergi, tetapi pesan-pesannya atas tradisi mengganggu saya hingga kini. Sementara tradisi kita melemah, tradisi pihak lain menguat. Sementara mereka menengah, kita meminggir. Kepada mereka tersedia seluruh peran utama, kepada kita hanya tersisa peran-peran figuran saja.

Sementara pihak lain membuat handphone kita cuma  sanggup menjual pulsa. Sementara mal-mal raksasa dibangun kita cuma kebagian menjadi penjaga. Sementara mereka membuat mobil, kita sekadar tukang kreditnya. Inilah hasil dari kekalahan tradisi itu.

Pihak yang kalah itu terpaksa mengenakan seluruh pakaian yang ukurannya ditetapkan pihak lawan. Kita menjadi serupa tawanan perang, pihak yang setelah kalah pun masih harus membayar pampasan. Bentuknya adalah kekalahan peran yang telak: yakni sekadar menjadi pelayan, pembuat chasing, tukang servis, tukang catat, kuli angkut, jago kepruk dan seterusnya.

Serendah itulah derajat manusia Indonesia? Tidak, jika bangsa ini sukses memperkembangkan tradisinya. Tapi jangankan diperkembangkan, tradisi itu, dipertimbangkan saja sering tidak. Jika sebuah jalan tol dibangun, siapakah pemegang tradisi besar di sebaliknya? Pasti bukan para petani, karena banyak petani malah kehilangan sawahnya demi proyek ini.

Jika sebuah mal raksasa dibangun, adakah ia bertumpu pada kepentingan masyarakat terbesar kita? Saya ragu, jika kehadiran pusat belanja malah menyebabkan kematian pasar tradisional dan warung-warung kelontong sebagai basis ekonomi publik yang nyata.

Maka gerakan besar bangsa ini ke depan harus segera diselenggarakan. Apa bentuknya? Perlawanan tradisi. Jika Eropa  sanggup mengembalikan mebel kita cuma karena keliru cara kita memaku, itulah keteguhan tradisi namanya. Mereka memiliki keteguhan membangun harga. Kepada mereka, akhirnya kita terpaksa cuma menjual barang dengan standar yang mereka tetapkan.

Sementara kepada kita, rasanya orang lain boleh berjualan apa saja: sampah, barang rongsok, ban bekas, kosmetik beracun, makanan berpengawet, zat warna berbahaya dan seterusnya.  Inilah kekalahan tradisi. Tradisi kita dalam menghargai diri sendiri memang terkenal rendah sekali.

Maka menjadi jelas, bahwa para penjaga tradisi itu, terutama, bukanlah publik semata-mata, tetapi para politikus, para  pemimpin, pembuat undang-undang dan aparat penegak hukum.

Karena  jangan lupa, ujung dari kebangkitan tradisi sebetulnya adalah kebangkitan moral.
Meskipun secara tradisi kita mengerti bahwa sebuah lahan sangat layak dikonservasi sebagai sawah abadi, tetapi jika secara moral kita goyah, sawah itu boleh saja diubah menjadi pencakar langit  karena besarnya komisi.

Jadi banyak sekali  tradisi yang dikorbankan bukan karena kita buta tradisi, melainkan karena kita amat hobi kepada komisi.

Gagal tradisi di lapis atas itu  akan merembet ke bawah sebagai gagal lanjutannya. Bentuknya adalah mental yang rapuh di depan persaingan. Kehadiran aneka pusat belanja yang bersih dan gemerlapan  itu memang ancaman  bagi toko-toko kelontong kita.

Tetapi banyak toko yang menolak berubah  dan malah mempercepat sendiri kematiannya. Ada toko yang begitu hemat lampu hingga memasukinya pembeli seperti masuk kuburan, ada yang malas mengecat temboknya yang kusam, ada pemilik yang melayani dengan ogah-ogahan dan ada pula pelayan toko yang bertugas sambil kerokan.

Banyak sekali pihak yang harus mati bukan karena persaingan tetapi mati oleh perilakunya sendiri. Maka mari mempertimbangkan tradisi agar terhindar dari aneka tradisi yang membangkrutkan. (35)

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...