Tampilkan postingan dengan label celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label celoteh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2012

Suatu Hari Yang Pasti...

    gambar dari sini
"Suatu hari yang pasti. Aku akan membuang segenap imajinasi tentangmu ke dalam sebuah botol. Membuangnya ke laut. Ke tengah deburan ombak. Melayang dan terombang-ambing meninggalkan bayangmu. Kamu, yang akan melewati sisa hidup bersama takdirmu itu"

#Sayup

Sayup-sayup aku mendengarmu..
Bagai gugusan lagu..
Dan kumandang syair kesayangan kita dari radio..

Sedang bintang di luar sana nampak berkilauan..
Batas keindahan nampak jauh
Berkedip dalam fatamorgana
Terurai seiring langkah kita

Suatu malam di tengah Jakarta
Aku melihat bintang
Juga bayang..
Bayang yang kini jauh terbentang..

Senin, 20 Februari 2012

Terpaksa atau Tidak Terpaksa

Sabtu sore yang padat ketika saya ada janji dengan seorang kawan di daerah Lebak Bulus. Dari kost, saya beranjak pergi untuk naik Trans Jakarta melalui Halte Sarinah. Meskipun hari Sabtu, nampaknya Trans Jakarta masih penuh sesak juga. Setiap hari Trans Jakarta selalu penuh, tak peduli itu hari kerja atau hari libur. Mungkin aja saking banyaknya penduduk di kota ini ya. Tak berapa lama naik Trans Jakarta dari Halte Sarinah, saya sampai di Blok M. Dari Blok M, saya harus berpindah bus ke arah Lebak Bulus. Tapi sore itu nampaknya saya sudah terlambat beberapa menit dari jam janjian saya dengan kawan saya. Saya harus buru-buru sampai Lebak Bulus. Dan satu-satunya solusi transportasi di Jakarta ketika macet adalah ojek!

Saya mengurungkan niat saya untuk melanjutkan perjalanan dengan bus. Dari Blok M menuju Lebak Bulus saya naik ojek. Abang ojeknya mencoba membuka percakapan ketika sudah jalan.
"Nanti turun dimana mas? Terminal Lebak Bulus? Mau pulang kampung?" tanya Abang Ojek
"Turun di Point aja ya bang, mau ketemu teman"
"Saya kira mau pulang kampung. Biasanya kalau ke Lebak Bulus bawa tas kan mau mudik"
"Oh enggak kok. Mau ketemu teman saja"

Melihat logat percakapan dari Abang Ojek yang nampaknya bukan dari Jawa, saya mencoba bertanya.
"Kalau Abang, dari mana asalnya bang?"
"Saya merantau disini mas, saya dari Padang"
"Padangnya mana bang?
"Tepatnya di Solok mas, Sumatra Barat"
"Oh Solok, kebetulan saya juga punya saudara disana bang. Baru bulan puasa kemarin saya kesana"
"Ada acara apa mas kesana?"
"Ya silaturahmi aja bang, ke tempat saudara. Sudah lama bang merantau di Jakarta?" saya mencoba bertanya.
"Sejak umur 19 tahun saya sudah kesini mas" jawab abang itu.
"Sumatra Barat itu bagus banget ya bang alamnya."
"Iya mas, kalau bagus emang iya, Cuma cari uang di kampung susah mas. Ya mau nggak mau harus ke Jakarta"
"Tapi kan orang dari daerah sana mudah beraptasi dimana aja bang?"
"Ya karena terpaksa mas. Karena di daerah sendiri susah. Jadi kami harus merantau. Prinsip kami merantau itu yang penting rajin sama nggak usah royal atau boros. Pokoknya diusahakan caranya biar bisa menabung. Mas kan pernah ke daerah saya, menurut mas gimana?"
"Kalau yang saya tau, disana makanannya enak-enak bang. Hehe. Pemandangannya bagus-bagus"
"Iya mas, mudah-mudahan keadaan di kampung makin lama makin mudah buat cari uang. Semakin enak seperti alamnya. Sekarang keadaan mulai lebih baik. Sudah banyak teman-teman saya yang pulang kampung"

Sepenggal kutipan percakapan sore itu membuat saya berfikir. Dalam minggu ini saya sudah beberapa kali mendengar ucapan "cari penghidupan di kampung susah". Kalau di pikir-pikir benar juga. Kalau kehidupan di kampung mudah, tentu orang tak berlomba-lomba pergi ke kota. Termasuk orang-orang di kampung saya tak perlu jauh-jauh jadi TKI ke luar negeri. Penghidupan memang susah di kampung. Tetapi kalau semua orang pergi beranjak ke kota, siapa yang akan 'nguri-nguri' adiluhung kehidupan di desa?

Saya mungkin termasuk bagian dari orang yang pergi ke kota untuk mencari penghidupan juga. Bukannya tidak percaya bahwa saya bisa menghadapi keterbatasan di desa, namun sepertinya saya belum mencobanya saja. Atau bisa juga saya terbawa "mainstream" kebanyakan orang. Mainstream bahwa pekerjaan yang baik itu harus di kota, di perusahaan ternama yang akan memberi kita kemampuan finansial untuk hidup di kota. Sebatas itu? Harusnya tidak. Bahkan saya juga terpaksa tinggal dan hidup di kota.

Tetapi minimal sore itu saya harus belajar suatu hal dari Abang Ojek itu. Pelajaran bahwa ketika kita harus merantau, terpaksa atau tidak terpaksa, tekankan pada diri kita untuk jadi orang yang rajin. Juga rasa syukur kita atas apa yang sudah kita jalani. Kadangkala keterpaksaan akan membawa kita jauh lebih mensyukuri atas apa yang bisa kita hasilkan dari sebuah impian.

Rabu, 01 Februari 2012

“Tak Sepadan” (Chairil Anwar-Februari 1943)

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

Rabu, 28 Desember 2011

"Umi, Delisa cinta Umi karena Allah"


"Umi, Delisa cinta Umi karena Allah"

Kalimat ini masih membekas di pikiran saya setelah saya menonton film ini. Hafalan Shalat Delisa, film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama dari Tere Liye. Saya belum pernah membaca novel itu sebelumnya. Tapi saya langsung mengiyakan begitu ada ajakan nonton film ini. Yang saya tau, dalam novelnya bercerita tentang seorang anak bernama Delisa yang tinggal di dekat pantai Lhok Nga, Aceh. Saya berharap dengan menonton film ini saya bisa melihat pantai Lhok Nga lagi. Tapi sayangnya pengambilan gambar di film itu tidak dilakukan di Aceh, tetapi di Pantai Ujung Genteng kalau tidak salah. Mungkin untuk menjaga perasaan warga di Aceh sana.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan di film ini, setidaknya film ini mempunyai cerita yang kuat juga emosi yang tersampaikan kepada para penontonnya. Vira yang duduk disamping saya sampai menangis sesenggukan menyaksikannya. Yang paling saya suka dari film ini justru akting Reza Rahadian, bagus banget!


Yang tak kalah bagus adalah soundtrack-nya. Suara Rafli Kande tetap juara :)

Selesai menonton film ini, timbul pertanyaan di pikiran saya. Seperti pertanyaan yang saya ungkapkan ke Hilmy ketika kami keluar dari Museum Tsunami di Banda Aceh tempo hari. "Bagaimana ya perasaan korban tsunami ketika ia masuk ke Museum Tsunami? bukankah itu akan mengingatkan traumanya akan tsunami lagi?". Persis pertanyaan setelah menonton film ini, "Bagaimana ya perasaan korban tsunami ketika ia melihat film ini? bukankah itu akan mengingatkan traumanya akan tsunami lagi"

Saya berkirim sms ke Cut Sani untuk bertanya tentang hal itu. Dia menjawab "Ndak terlalu tau mas. Tapi secara umum ndak trauma lagi mas. Paling beberapa aja yang trauma masih, kadang lihat ke laut dengar suara ombaknya. Gempa-gempa gitu  yang masih jadi trauma mas.."

*kemarin tepat 7 tahun tsunami. teringat peringatan 3 tahun tsunami ketika tinggal disana. orang berbondong-bondong ke masjid dan ke pantai untuk berdoa bersama. teringat seorang ibu yang menungguku ketika sakit di rumah sakit di banda aceh. ibu itu bercerita tentang beliau dan anaknya yang sempat terpisah karena tsunami. semoga kebahagian selalu tercurah untuk ibu itu, amin.

Sabtu, 24 Desember 2011

Di Luar Kendali

Gelap di luar sana
Entah karena apa
Tapi semua akan baik-baik saja

Tertambat kita pada satu hal
Yang lepas di luar kendali kita

Di sini..
Ada banyak manusia
Tapi aku percaya
Hanya satu harapnya

Berharap bus ini bisa
kembali melangkah di lajurnya

*2 Desember 2011. 03:21. di atas bus pahala kencana yang membawaku dari jakarta menuju wonosobo. busnya berhenti, ada masalah. tepat di depan bank bri ajibarang

Rabu, 21 Desember 2011

Pengalaman Pertama ke Purwokerto

Kapan kamu pergi jauh untuk pertama kalinya sendiri?

Waktu itu tahun 2002 ketika saya belum genap berumur 15 tahun. Baru lulus SMP dan masih "galau" mau melanjutkan sekolah kemana. Eh tapi tahun segitu belum populer kalimat "galau" kan ya. Di antara beberapa pilihan sekolah itu, bapak menyarankan untuk masuk ke sebuah SMA di Wonosobo. Sedangkan emak, menyarankan masuk ke STM, dengan pertimbangan kelak ketika lulus akan ada banyak pilihan entah itu kuliah atau kerja.

Bermodal brosur sebuah sekolah yang tampilannya bagus, saya kemudian berminat pada sebuah STM. Tapi STM itu ada di Purwokerto. Purwokerto ini berjarak sekitar 90 km dari kampung saya, kira-kira membutuhkan waktu 2 jam untuk bisa sampai kesana. Saya menyampaikan ke emak kalau saya ingin melanjutkan ke sekolah itu, meskipun sekolahnya ada di luar kota. Emak sangat mendukung, pertimbangannya mungkin sudah saatnya saya bisa mandiri, terlebih jika diterima di sekolah itu dan harus kost disana. Bapak meskipun awalnya tidak setuju, namun lama kelamaan menyetujuinya juga. Meski butuh waktu agak lama untuk meyakinkannya.

Saat akan mendaftar, dengan pertimbangan tidak adanya biaya berangkat kesana untuk berdua atau untuk melatih saya, emak menyuruh saya untuk berangkat ke Purwokerto sendirian. Yang saya punya saat itu hanya alamat STM itu di Purwokerto dan nomor telfonnya. Kemudian saya mencoba telfon ke sekolah itu untuk tanya "ancer-ancernya".

Keesok harinya, dengan berbekal uang 65.000 pemberian emak, saya berangkat. Dengan diantar emak ke pinggir jalan tempat bus ke arah Purwokerto lewat. Nampak berat emak melepas saya pergi sendirian, tapi saya memang harus pergi sendiri karena uangnya tidak cukup untuk kami berangkat berdua. "Hati-hati di bus banyak copet, kalau sudah di Purwokerto, kalau mau tanya apa-apa ke polisi saja biar tidak ditipu orang". Itulah kalimat yang dipesankan emak kepada saya kala itu. Pagi itu akan menjadi moment yang spesial untuk saya, pertama kalinya saya pergi naik bus sendirian. Naik bus sendirian ke kota yang jauh dari kampung, yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Agak takut, tapi dengan semua keterbatasan saat itu mudah-mudahan akan ada hasil positif. Saya melihat kekhawatiran pada mata emak melihat saya harus berangkat sendiri kala itu. Tapi emak sepertinya tidak ingin menunjukkan itu. Beliau ingin menunjukkan kalau saya harus berani!

Sepanjang jalan saya tetap tidak bisa tenang, meski sudah bilang ke kondektur untuk menurunkan saya di Karang Bawang. Ya, Karang Bawang ini adalah daerah "ancer-ancer" yang diinfokan dari orang yang menerima telfon ketika saya menelfon sekolah itu sebelumnya. Karang Bawang, nama perempatan di sebuah daerah di Purwokerto. Setelah 2 jam, kondektur bilang kalau bus sudah akan sampai di Karang Bawang, Purwokerto. Saya bersiap beranjak turun. Perjalanan selama 2 jam yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya. Antara rasa takut dan keinginan untuk sekolah di sana. Anak kecil yang baru SMP, belum pernah naik bus sendirian ke luar kota. Bahkan pertama kalinya ke Purwokerto. Plus belum jaman HP, sehingga tidak bisa telfon/sms untuk meminta petunjuk jalannya. Siang itu sampai juga saya di Purwokerto!

Turun di perempatan Karang Bawang itu saya "clingak-clinguk" bingung arah. Untungnya di perempatan itu saya melihat ada papan petunjuk arah ke STM yang saya maksud ( note : papan petunjuk ini roboh 2 tahun kemudian karena hujan ketika saya sudah jadi murid di STM itu ). Karena ragu lokasi STM itu dekat atau jauh dari perempatan, saya mencoba naik becak yang banyak mangkal di perempatan itu. Saya kira jauh, ternyata dari perempatan itu, letak STM cuma sekitar 200 meter. Sialnya, saya harus membayar 3000 rupiah untuk membayar becak itu. Wah, anak kecil kena tipu fikir saya.

Sampai STM itu, saya segera membeli formulir kemudian mengisikannya. Sudah ramai dengan banyak anak yang mendaftar dengan didampingi orang tuanya masing-masing. Ternyata di formulir pendaftaran itu ada form untuk tanda tangan orang tua. Lha, saya kan kesitu sendirian. Ah, tak perlu bingung, dari pada bolak balik Purwokerto - Wonosobo lagi hanya untuk meminta tanda tangan tentu membutuhkan waktu dan biaya lagi. Tanpa pikir panjang, tanda tangan orang tua saya tanda tangani sendiri. Petugas pendaftaran yang kemudian saya kenal dengan nama Pak Adnan dan Bu Woro menerima form pendaftaran tanpa curiga kalau itu tanda tangan palsu. Wah, lega saya :)

Selesai pendaftaran, saya harus pulang ke Wonosobo lagi. Tapi masalahnya saya bingung, gimana cara pulangnya. Pikir saya saat itu, mungkin saya harus ke terminal untuk mencari bus ke arah Wonosobo. Dari depan STM saya berjalan kaki ke arah perempatan Karang Bawang lagi. Lama disitu nampaknya tak ada bus ke arah Wonosobo, mungkin memang saya harus ke terminal. Kemudian saya naik angkot ke arah terminal. Saya kira jauh, rupanya perempatan Karang Bawang ke Terminal Bus Purwokerto tak begitu jauh. Hanya beberapa ratus meter. Lagi-lagi uang 1000 rupiah harus terbayar untuk jarak sedekat itu.

Sampai di terminal, saya masuk dan mencari bus ke Wonosobo. Begitu naik dan busnya jalan, saya baru sadar kalau busnya lewat perempatan Karang Bawang! Sial, tau gitu tadi tinggal nunggu di perempatan Karang Bawang ya, tidak usah ke terminal. Selang 2 jam sampailah saya di kampung saya lagi. Pengalaman pertama pergi sendirian ke luar kota. Dengan sisa 4 ribu rupiah sampai di rumah. Alhamdulillah, bersisa. Kalau tak salah rinciannya adalah sebagai berikut :

- Wonosobo - Purwokerto  : 8000
- Becak                             :  3000
- Formulir                          :  40000
- Permen                           :  1000
- Angkot                           :  1000
- Purwokerto - Wonosobo  : 8000

Hari-hari berikutnya setelah diterima di STM itu, saya menikmati jalur Wonosobo - Purwokerto selama 3 tahun. Dengan bus-bus dekil yang memberi "aksesoris" dalam cerita panjang disana. Rentang panjang salah satu masa terberat dalam kehidupan saya. Tapi salah satu moment terbaik juga karena bisa bertemu dengan teman-teman dan orang-orang yang luar biasa :)

*model bus yang dulu sering saya tumpangi.. jurusan purwokerto - wonosobo

**hari rabu lalu 141211 mencoba bernostalgia ke purwokerto dengan naik bus lagi. memori saya jauh melayang ke belakang. berawal dengan keyakinan emak kalau saya berani, sampai banyaknya memori suka duka yang dilalui disana..

Selasa, 13 Desember 2011

Kenangan bisa disusun kembali?

Bapak     :  Le, motornya tukar tambah sama yang baru aja. Biar lebih bagus.
Saya       :  Motor jarang kepakai juga kok. Di pakai kalau pas mudik. Lagian kalau ingin yang lebih bagus ya mending beli lagi. Jangan menjual yang lama.
Bapak     :   Lha kenapa?
Saya       :   Motor kenangan je.. hehe
Bapak     :  Kenangan bisa disusun lagi haha
Saya       :  Wew! *sambil berfikir*

Sabtu, 26 November 2011

Numpang Narsis

Kehidupan itu seperti menghitung angka. Dari satu hingga tak terhingga. Dari masa kanak-kanak, remaja, dan beranjak dewasa. Sampai suatu saat dianggap sudah senja umurnya. Harusnya, setiap masa dan setiap perubahan itu selalu positif. Bukankah riak-riak kehidupan yang mengisi harus selalu di jadikan pembelajaran? Banyak hal yang di lewati, tapi tak setiap orang mampu mengambil catatan dari setiap perjalanan kehidupan, termasuk saya, mungkin. Tapi bisa juga seperti yang di tulis Andrea Hirata :

Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang melesat-lesat itu. Analogi eksperimen itu tak lain, karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolut, dan waktu relatif tergantung kecepatan gerbong—ini pendapat Einstein—maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain.

Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan sepanjang hidup.


(Andrea Hirata, Laki-Laki Zenit dan Nadir, Edensor).
Dan bicara tentang perjalanan kehidupan, iseng-iseng malam ini membuka foto-foto jadul. Ah, saya ingin memasukkannya kesini. Mungkin foto-foto ini adalah bukti paling otentik dari sebuah jalan kehidupan. Barangkali 10 tahun yang akan datang saya akan membuka blog ini lagi. Dan mungkin sambil tertawa-tawa :) Foto-foto yang sebagian belum pernah saya upload karena sangat cupu. Foto-foto kadang begitu dirindukan :)
- 5 tahun usiaku :D 

 -bersama adikku saat umurku 7 tahun :)

-purwokerto, high school, 16 tahun :))

-medan, 2007, 20 tahun :)

-aceh, 2008, di atas tower :) 

- 2008 aceh, lagi cakep-cakepnya :P

- bekasi, 2008, troubleshoot bts =))

- jakarta, 2008  

-semarang, 2008, pernah ada yang suka foto ini :P

 - 2009, purwokerto :D

- 2010, semarang ;)
- 2011 =))
Ah, posting kali ini membuatku mengaca. Tapi kok cakepan dulu ya :(( Narsis!

Minggu, 09 Oktober 2011

Malam Bintang

Pada malam yang bertabur bintang. Aku bersimpuh di atas rerumputan. Aku hanya titik kecil. Tak pantas congkak bersemayam dalam kalbu ini.

Di atas rerumputan aku mengeja rangkaian kata. Terketik di langit. Laksana noktah putih di atas pusara hitam yang legam. Namun penuh makna.

Lonceng di atas kastil itu melontarkan nadanya. Aku terbangun dari lamunan. Ah, ini hanya perjalanan. Masih panjang jalan di sana..

Sebuah jalan dimana aku harus percaya intuisi, takdir, hidup, karma, dan sebuah doa. Doa yang di panjatkan ibu untuk anak terkasihnya.

Sampai di ujung jalan tempat kita menghabiskan usia kita. Di tepi danau, di sela ilalang dan bintang yang masih sama. Diiringi lagu kesukaan kita. Seperti malam ini.

Mari sudahi khayalan ini. Sedang tidak bisa melihat langit. Apalagi di tepi danau. Malam ini, malam panas di kost kota Jakarta :D

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...