Tampilkan postingan dengan label Love and Blessings. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love and Blessings. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2012

Suatu Hari Yang Pasti...

    gambar dari sini
"Suatu hari yang pasti. Aku akan membuang segenap imajinasi tentangmu ke dalam sebuah botol. Membuangnya ke laut. Ke tengah deburan ombak. Melayang dan terombang-ambing meninggalkan bayangmu. Kamu, yang akan melewati sisa hidup bersama takdirmu itu"

Rabu, 28 Desember 2011

"Umi, Delisa cinta Umi karena Allah"


"Umi, Delisa cinta Umi karena Allah"

Kalimat ini masih membekas di pikiran saya setelah saya menonton film ini. Hafalan Shalat Delisa, film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama dari Tere Liye. Saya belum pernah membaca novel itu sebelumnya. Tapi saya langsung mengiyakan begitu ada ajakan nonton film ini. Yang saya tau, dalam novelnya bercerita tentang seorang anak bernama Delisa yang tinggal di dekat pantai Lhok Nga, Aceh. Saya berharap dengan menonton film ini saya bisa melihat pantai Lhok Nga lagi. Tapi sayangnya pengambilan gambar di film itu tidak dilakukan di Aceh, tetapi di Pantai Ujung Genteng kalau tidak salah. Mungkin untuk menjaga perasaan warga di Aceh sana.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan di film ini, setidaknya film ini mempunyai cerita yang kuat juga emosi yang tersampaikan kepada para penontonnya. Vira yang duduk disamping saya sampai menangis sesenggukan menyaksikannya. Yang paling saya suka dari film ini justru akting Reza Rahadian, bagus banget!


Yang tak kalah bagus adalah soundtrack-nya. Suara Rafli Kande tetap juara :)

Selesai menonton film ini, timbul pertanyaan di pikiran saya. Seperti pertanyaan yang saya ungkapkan ke Hilmy ketika kami keluar dari Museum Tsunami di Banda Aceh tempo hari. "Bagaimana ya perasaan korban tsunami ketika ia masuk ke Museum Tsunami? bukankah itu akan mengingatkan traumanya akan tsunami lagi?". Persis pertanyaan setelah menonton film ini, "Bagaimana ya perasaan korban tsunami ketika ia melihat film ini? bukankah itu akan mengingatkan traumanya akan tsunami lagi"

Saya berkirim sms ke Cut Sani untuk bertanya tentang hal itu. Dia menjawab "Ndak terlalu tau mas. Tapi secara umum ndak trauma lagi mas. Paling beberapa aja yang trauma masih, kadang lihat ke laut dengar suara ombaknya. Gempa-gempa gitu  yang masih jadi trauma mas.."

*kemarin tepat 7 tahun tsunami. teringat peringatan 3 tahun tsunami ketika tinggal disana. orang berbondong-bondong ke masjid dan ke pantai untuk berdoa bersama. teringat seorang ibu yang menungguku ketika sakit di rumah sakit di banda aceh. ibu itu bercerita tentang beliau dan anaknya yang sempat terpisah karena tsunami. semoga kebahagian selalu tercurah untuk ibu itu, amin.

Rabu, 21 Desember 2011

Pengalaman Pertama ke Purwokerto

Kapan kamu pergi jauh untuk pertama kalinya sendiri?

Waktu itu tahun 2002 ketika saya belum genap berumur 15 tahun. Baru lulus SMP dan masih "galau" mau melanjutkan sekolah kemana. Eh tapi tahun segitu belum populer kalimat "galau" kan ya. Di antara beberapa pilihan sekolah itu, bapak menyarankan untuk masuk ke sebuah SMA di Wonosobo. Sedangkan emak, menyarankan masuk ke STM, dengan pertimbangan kelak ketika lulus akan ada banyak pilihan entah itu kuliah atau kerja.

Bermodal brosur sebuah sekolah yang tampilannya bagus, saya kemudian berminat pada sebuah STM. Tapi STM itu ada di Purwokerto. Purwokerto ini berjarak sekitar 90 km dari kampung saya, kira-kira membutuhkan waktu 2 jam untuk bisa sampai kesana. Saya menyampaikan ke emak kalau saya ingin melanjutkan ke sekolah itu, meskipun sekolahnya ada di luar kota. Emak sangat mendukung, pertimbangannya mungkin sudah saatnya saya bisa mandiri, terlebih jika diterima di sekolah itu dan harus kost disana. Bapak meskipun awalnya tidak setuju, namun lama kelamaan menyetujuinya juga. Meski butuh waktu agak lama untuk meyakinkannya.

Saat akan mendaftar, dengan pertimbangan tidak adanya biaya berangkat kesana untuk berdua atau untuk melatih saya, emak menyuruh saya untuk berangkat ke Purwokerto sendirian. Yang saya punya saat itu hanya alamat STM itu di Purwokerto dan nomor telfonnya. Kemudian saya mencoba telfon ke sekolah itu untuk tanya "ancer-ancernya".

Keesok harinya, dengan berbekal uang 65.000 pemberian emak, saya berangkat. Dengan diantar emak ke pinggir jalan tempat bus ke arah Purwokerto lewat. Nampak berat emak melepas saya pergi sendirian, tapi saya memang harus pergi sendiri karena uangnya tidak cukup untuk kami berangkat berdua. "Hati-hati di bus banyak copet, kalau sudah di Purwokerto, kalau mau tanya apa-apa ke polisi saja biar tidak ditipu orang". Itulah kalimat yang dipesankan emak kepada saya kala itu. Pagi itu akan menjadi moment yang spesial untuk saya, pertama kalinya saya pergi naik bus sendirian. Naik bus sendirian ke kota yang jauh dari kampung, yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Agak takut, tapi dengan semua keterbatasan saat itu mudah-mudahan akan ada hasil positif. Saya melihat kekhawatiran pada mata emak melihat saya harus berangkat sendiri kala itu. Tapi emak sepertinya tidak ingin menunjukkan itu. Beliau ingin menunjukkan kalau saya harus berani!

Sepanjang jalan saya tetap tidak bisa tenang, meski sudah bilang ke kondektur untuk menurunkan saya di Karang Bawang. Ya, Karang Bawang ini adalah daerah "ancer-ancer" yang diinfokan dari orang yang menerima telfon ketika saya menelfon sekolah itu sebelumnya. Karang Bawang, nama perempatan di sebuah daerah di Purwokerto. Setelah 2 jam, kondektur bilang kalau bus sudah akan sampai di Karang Bawang, Purwokerto. Saya bersiap beranjak turun. Perjalanan selama 2 jam yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya. Antara rasa takut dan keinginan untuk sekolah di sana. Anak kecil yang baru SMP, belum pernah naik bus sendirian ke luar kota. Bahkan pertama kalinya ke Purwokerto. Plus belum jaman HP, sehingga tidak bisa telfon/sms untuk meminta petunjuk jalannya. Siang itu sampai juga saya di Purwokerto!

Turun di perempatan Karang Bawang itu saya "clingak-clinguk" bingung arah. Untungnya di perempatan itu saya melihat ada papan petunjuk arah ke STM yang saya maksud ( note : papan petunjuk ini roboh 2 tahun kemudian karena hujan ketika saya sudah jadi murid di STM itu ). Karena ragu lokasi STM itu dekat atau jauh dari perempatan, saya mencoba naik becak yang banyak mangkal di perempatan itu. Saya kira jauh, ternyata dari perempatan itu, letak STM cuma sekitar 200 meter. Sialnya, saya harus membayar 3000 rupiah untuk membayar becak itu. Wah, anak kecil kena tipu fikir saya.

Sampai STM itu, saya segera membeli formulir kemudian mengisikannya. Sudah ramai dengan banyak anak yang mendaftar dengan didampingi orang tuanya masing-masing. Ternyata di formulir pendaftaran itu ada form untuk tanda tangan orang tua. Lha, saya kan kesitu sendirian. Ah, tak perlu bingung, dari pada bolak balik Purwokerto - Wonosobo lagi hanya untuk meminta tanda tangan tentu membutuhkan waktu dan biaya lagi. Tanpa pikir panjang, tanda tangan orang tua saya tanda tangani sendiri. Petugas pendaftaran yang kemudian saya kenal dengan nama Pak Adnan dan Bu Woro menerima form pendaftaran tanpa curiga kalau itu tanda tangan palsu. Wah, lega saya :)

Selesai pendaftaran, saya harus pulang ke Wonosobo lagi. Tapi masalahnya saya bingung, gimana cara pulangnya. Pikir saya saat itu, mungkin saya harus ke terminal untuk mencari bus ke arah Wonosobo. Dari depan STM saya berjalan kaki ke arah perempatan Karang Bawang lagi. Lama disitu nampaknya tak ada bus ke arah Wonosobo, mungkin memang saya harus ke terminal. Kemudian saya naik angkot ke arah terminal. Saya kira jauh, rupanya perempatan Karang Bawang ke Terminal Bus Purwokerto tak begitu jauh. Hanya beberapa ratus meter. Lagi-lagi uang 1000 rupiah harus terbayar untuk jarak sedekat itu.

Sampai di terminal, saya masuk dan mencari bus ke Wonosobo. Begitu naik dan busnya jalan, saya baru sadar kalau busnya lewat perempatan Karang Bawang! Sial, tau gitu tadi tinggal nunggu di perempatan Karang Bawang ya, tidak usah ke terminal. Selang 2 jam sampailah saya di kampung saya lagi. Pengalaman pertama pergi sendirian ke luar kota. Dengan sisa 4 ribu rupiah sampai di rumah. Alhamdulillah, bersisa. Kalau tak salah rinciannya adalah sebagai berikut :

- Wonosobo - Purwokerto  : 8000
- Becak                             :  3000
- Formulir                          :  40000
- Permen                           :  1000
- Angkot                           :  1000
- Purwokerto - Wonosobo  : 8000

Hari-hari berikutnya setelah diterima di STM itu, saya menikmati jalur Wonosobo - Purwokerto selama 3 tahun. Dengan bus-bus dekil yang memberi "aksesoris" dalam cerita panjang disana. Rentang panjang salah satu masa terberat dalam kehidupan saya. Tapi salah satu moment terbaik juga karena bisa bertemu dengan teman-teman dan orang-orang yang luar biasa :)

*model bus yang dulu sering saya tumpangi.. jurusan purwokerto - wonosobo

**hari rabu lalu 141211 mencoba bernostalgia ke purwokerto dengan naik bus lagi. memori saya jauh melayang ke belakang. berawal dengan keyakinan emak kalau saya berani, sampai banyaknya memori suka duka yang dilalui disana..

Senin, 07 November 2011

Label Buku


Senang sekali rasanya ketika pulang ke kampung dan mendapati salah satu sudut rak buku sudah tertata rapi. Mungkin ingin memberi kejutan, bapak merapikan rak dan memberi label buku-buku saya. "Biar tidak hilang.." katanya singkat. Dan foto ini salah satu sudutnya.. :)

Selasa, 23 Agustus 2011

Garis, Skenario, dan Kamu

"Jika garis ini tak membawaku semakin dekat ke lingkaran hidupmu. Biarkan semua skenarioNya yang akan menuntun langkah kita. Entah dalam pusaran yang membuat kita semakin jauh. Atau teori magnetik yang membuat takdir kita semakin mendekat. Tapi aku masih percaya bahwa teori diam itu lebih bermakna dari teori gombal di muka bumi manapun. Di tempat ini aku mencari ragaku, juga mencari pencerah akan jalanku, jalanmu, atau mungkin jalan kita. Sampai kau mengerti bahwa diamku bukan keacuhanku. Tapi ejawantah dari semua ilmu, untukku bisa memandang senyum dari juwita layaknya dirimu."

-masih di Jakarta saja, besok mudik Wonosobo-

Merapal Rindu

Aku ingin merapal rindu denganmu.. Menunggu kilatan hari sebelum bertemu.. Dan aku yakin, kau masih menunggu di depan tapal biru.. Dengan senyum layaknya juwita yang berkalang sendu..
 -di sudut Jakarta, aku masih normal, masih bisa berkalang rindu-

Senin, 27 Juni 2011

Hujan Bulan Juni

  Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Senin, 13 Juni 2011

[Korea's Got Talent] Sung-bong Choi


Menurutku ini mengharukan..

Pasar Malam

Senja mulai mengalun indah di kota ini. Kabut turun seiring datangnya gelap menggantikan terang. Matahari sudah tak nampak sedari tadi. Angin mulai berhembus merasuk, dingin. Di pematang, petani berjalan kembali menuju peraduan. Sepi, karena kota kecil ini tak diciptakan untuk menjadi sebuah keramaian seperti glamornya kehidupan ibukota. Semua nampak biasa, temaram namun syahdu menghanyutkan. Jalanan mulai sepi, penduduk bergegas masuk ke rumah mereka untuk berlindung dari dinginnya udara lereng gunung. Ternak sudah dikandangkan dan lampu penerang sederhana menghiasi tiap sudut rumah-rumah sederhana khas dataran tinggi.

Di sudut kampung yang jauh dari gemerlap, nampaklah ada yang berbeda malam itu. Ada dentuman suara musik dan kelap-kelip lampu yang begitu terang. Ada bianglala, tong setan, ayunan dan banyak lagi permainan yang membawaku seakan-akan terbang jauh ke masa kecil dulu. Ya, di tempat ini ada pasar malam. Pasar malam seperti menghadirkan kilatan masa kecil yang sangat mengasikkan, tentu dengan beragam jajannya. Namun tak bisa dipungkiri, aku tidak suka pasar malam. Kamu pasti tau alasannya boi..

Namun malam itu aku terpaksa ada di kerumunan banyak orang yang menikmati pasar malam itu. Mengantar banyak sepupu kecil yang begitu menikmatinya tempat itu. Aku duduk di ujung, di antara beberapa orang orang yang tak kukenal. Di sampingku ada 2 perempuan yang sepertinya juga sedang menunggui entah anak atau saudaranya. Namun mereka berdua saling kenal, karena aku melihat mereka kadang berbincang. Aku masih tak bisa menikmati tempat itu. Namun kulihat 2 orang perempuan di sampingku ini juga gelisah, seakan tak bisa menikmatinya juga.

Beberapa saat kemudian entah siapa yang mengawali tiba-tiba kami sudah saling menyapa. Padahal sebelumnya saya tak pernah kenal sama sekali dengan kedua orang tersebut. Lumayan pikirku daripada bengong dan bosan menunggu. Dari percakapan itu aku baru tau kalau mereka berdua berasal dari kampung sebelah yang datang kesini mengantar anak dari salah satu perempuan itu. Sepertinya umur kedua perempuan itu tidak beda jauh, mungkin sekitar 35 tahunan.

Bla.. bla.. bla.. tak terasa kami sudah berbincang banyak hal. Di awali dari basa-basi sampai ngobrol "ngalor-ngidul". Kami sendiri sudah saling memperkenalkan diri. Aku juga baru tau, 2 perempuan itu yang satu sudah berkeluarga dan satunya lagi adalah janda tanpa anak. Sambil menunggu kami bertiga berbincang banyak hal. Dari masalah umum sampai kemudian pada hal-hal pribadi. Seakan-akan mereka malah curhat dan bercerita tentang kehidupan mereka. Padahal niatku dari awal cuma sekedar ngobrol ngisi waktu. Tapi tak apa, barangkali bisa jadi pembelajaran buatku. Benar apa yang aku pikirkan sedari awal, mereka juga tidak bisa menikmati tempat ini. Mungkin sekilas dari garis wajah mereka tak nampak kegelisahan, namun dari cerita mereka tersimpan beban yang amat berat.

Mbak yang pertama bercerita bahwa ia sebelumnya sudah berkeluarga namun bercerai. Alasannya karena suaminya sering berlaku kasar kepada dia ( baca : KDRT ). Sedari awal memang dia tidak direstui orang tuanya untuk menikah dengan laki-laki tersebut, namun tetap memaksakan. Setelah menikah dia baru tau bahwa ternyata suaminya suka kasar kepada dia. Dia sangat kecewa pada dirinya sendiri kenapa tidak menuruti nasehat orang tuanya. Namun dia menyadari, pasti ada resiko dari setiap keputusan sebagain bagian dari frase kehidupan. Kemudia ia memutuskan untuk meminta cerai. Selepas bercerai untuk melanjutkan hidupnya dia bekerja menjadi pembantu rumah tangga ke Hongkong. Empat tahun disana dia pulang ke kampung kemudian kuliah di fakultas pendidikan kemudian menjadi guru pada sebuah taman kanak-kanak sampai sekarang.

Mbak yang kedua juga bercerita tentang kehidupannya sambil terisak. Di awali dari pernikahan tanpa restu orang tua juga. Saat ini dia masih berkeluarga, masih punya suami dan sudah di karunia 2 anak. Kalau melihat sekilas orang pasti mengira tak ada apa-apa dengan mbak ini. Namun ternyata kehidupan di dalam keluarganya berbeda 180 derajat. Mbak ini terjebak pada situasi antara KDRT dan tak mau mengorbankan kebahagiaan anak. Ya, dia mendapat perlakuan kasar dari suaminya. Namun dia juga tak bisa melakukan apapun karena dia takut akan merusak kebahagiaan anaknya jika dia ingin berpisah dari suaminya. Di sebuah sudut itu, dia bercerita dengan terisak.

Berbagai pikiran berkecambuk dalam hatiku kala itu. Namun aku tak sanggup untuk berkata apapun karena aku merasa umurku jauh dibawah mereka. Dan aku tak merasakan apa yang mereka rasakan. Namun menurutku, sudut pandang pemikirannya harus diubah. Dia merasa tak bisa berbuat apapun karena dia tak ingin menyakiti anak-anaknya. Namun apakah dia yakin anak-anaknya bahagia ketika orang tuanya saling baku hantam? Akan menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan, ketika anak mereka melihat ayah dan ibunya bertengkar dan salah satu pihak memutuskan bertahan dalam pernikahan yg abusiv itu. Karena ditakutkan tertanam dalam benak anak bahwa hal itu wajar. Padahal itu sama sekali tak wajar.


Ah, malam itu tiba-tiba aku tak mampu berkata lagi. Aku tak bisa membayangkan ada pada posisi mereka. Aku bingung, tapi mungkin kesimpulan kecil sementara yang bisa kuambil : "Restu Orang Tua adalah Restu Allah". Mungkin wajar kita berbeda pendapat dengan orang tua, kadang ada sudut pandang orang tua yang sangat berbeda dari sudut pandang kita. Boleh kita ambil jalan yang berbeda dengan keinginan orang tua, namun yang utama adalah pastikan restu dan doa orang tua tercurah untuk kita dalam meyakini jalan yang kita ambil itu. 


Pasar malam kembali menulis sebuah pembelajaran untukku. Setelah peristiwa manis berakhir pahit kala itu. Mungkin ini cerita pahit yang mudah-mudahan bisa jadi pembelajaran yang manis untukku kelak. Bianglala di depanku masih bergerak naik turun dalam 1 sumbu yang menyimpul. Mungkin seperti itulah kehidupan, kadang naik kadang turun. Kadang di atas kadang di bawah.



Jumat, 03 Juni 2011

#curhat

ada sudut pandang di mana setiap orang tidak punya perspektif untuk melihat ke semua arah
"kerjanya enak ya, bisa sesuka hati kapan harus kerja" | seorang teman via YM
"wah enak banget mas, jam segini masih tidur" | ibu kost yang heran tiap hari aku bangun siang
"jan, enak tenan. kerja sambil sarungan, 'ngligo', durung adus, kerjo mung remote | teman yg datang ke kost
"kerjanya gitu tok ya? kok enak" | komentar teman lama waktu ketemu

Ah, kadang orang hanya melihat kondisi dan keadaan kita saat ini. Tidak tau bagaimana susahnya mencapai titik seperti saat ini. Bagaimana dulu memulainya dengan kerja malam tiap hari, berangkat kerja dari pagi pulang pagi. Bahkan sampai diputus pacar karena lebih mengutamakan kerja dari pada memberi sedikit perhatian ke pacar --> curcol

*maap tak bermaksud sombong, ataupun merasa tak ikhlas.. hanya mengungkapkan sedikit uneg-uneg di kepala yang sedang "agak" panas ini hehehe
*apapun itu, semua daya dan upaya ini mudah-mudahan selalu di ridhoi Allah.. Amin...

Jumat, 27 Mei 2011

#Pergi


Aku tau, aku tak bisa pamit dengan indah. Aku tak bisa pergi darimu dengan kata-kata yang mengharu biru. Aku sadar, sebagus apapun prosa untuk menggambarkan kepergianku(mu) tetap saja sakit diterima. Sebagus apapun rangkaian kata tak akan bisa merubah keadaan. Mukaku masih nampak culun, hmm idiot barangkali di hadapanmu.

Tak ada lagi bintang yang bisa kita lihat bersama meski aku di sini dan kamu di sana. Serta tak ada mantra yang saling menguatkan kita lagi. Kenangan kecil itu kembali menjadi kecil. Maaf, aku memang tak bisa memberi penjelasan. Penjelasanku hanya satu : aku tak bisa, itu saja. Waktu akan terus berputar, juga kepercayaan. Kita tidak bisa menerka sebuah akhir perjalanan dengan dimensi yang tidak bisa kita lihat secara visual.

Kamu boleh saja menutup semua aksesku untuk sekedar tau keadaanmu. Namun suatu waktu, di senja yang kau sukai itu. Di sela hujan yang meneduhkan sikapmu. Kamu akan tau jawaban dari sebuah kepergian. Mungkin kata maaf memang tak bisa keluar dari hatimu sekarang. Namun suatu hari dimana kamu ada pada siklus kehidupan yang berbeda, aku harap pintu maaf itu terbuka.

Setiap perjalanan akan bertemu titiknya. Aku, juga kamu tak akan pernah tau. Akhir dari sebuah perjalanan di mana kita terpisah kemudian tersatukan, hingga terpisah lagi ini akan berjalan begitu cepat. Ketika kamu bilang bahwa kamu tidak mengenal aku, mungkin itulah realitanya.


#kutulis tanggal 17 Mei 2011, namun hilang entah kenapa. republish untuk menghilangkan prasangka

#Maaf

Polder Tawang, 240511
Proses hidup itu beriringan dan berkaitan.. Ada sebab dan akibat.. Tidak fair jika menyalahkan suatu proses di masa lalu sebagai pembenar masa depan.. Maaf untuk semua kesalahan ini, ...

Kamis, 12 Mei 2011

#Bapak



Malam ini mulai larut, seperti biasa mata enggan terpejam meski badan mulai berontak. Waktu terus berjalan tanpa kusadari. Hilir mudik cerita kehidupan terus mengalir mengikuti alur dan skenarioNya. Entah apa yang kucari, juga apa yang orang cari di luar sana. Yang pasti, kehidupan akan terus mengalir sedemikian rupa sampai pada ujung dimana kita tak dapat berbuat apa-apa.

Bulan ini aku melewatkan sesuatu yang penting bagiku. Meski mungkin tidaklah penting untuk bapakku namun sangat penting untukku. Ya, aku melewatkan hari ulang tahunnya, entah lupa atau bagaimana. Padahal hari itu aku ada di rumah bersamanya, bodohnya diriku. Aku lahir ketika umur bapakku 23 tahun, sama seperti umurku saat ini. Ya, 46 tahun. Namun aku selalu menganggap bapakku adalah orang yang selalu nampak muda dari orang seumuran dia.

Dia bukan bapak yang setiap hari selalu menghubungi untuk sekedar tanya kabar dan sebagainya. Namun aku menganggap dia adalah laki-laki sejati. Suatu waktu aku pernah kabur dari rumah beberapa hari untuk menghindari sebuah masalah. Bapak yang saat itu tau aku kabur segera kirim sms untukku. Kalimatnya singkat "Kamu laki-laki, pulang. Hadapi masalahmu dan kamu akan menjadi orang yang lebih baik". Aku langsung pulang saat itu begitu membacanya, setelah kabur berhari-hari dari rumah.

Kehidupan kami tak berjalan dengan semestinya. Banyak masalah yang kami hadapi, tapi kami tak boleh menyerah pada keadaan. Akan ada titik di mana semua problematika kehidupan menjadi pondasi yang kuat untuk kehidupan kami. Sangat mengharukan ketika aku tertidur di sofa, dia selalu datang membawa selimut. Kemudian menutupi badanku dengan selimut sebagai penghangat. Aku menjadi laki-laki yang begitu "kecil" jika ada disampingnya. Aku menjadi orang paling aman sedunia jika ada di sampingnya.

Kini di usianya yang ke-46, aku memang belum bisa memberi kebanggan untuknya. Namun aku berjanji, suatu saat nanti aku harus bisa menjadi orang yang bertanggung jawab untuk hidupku, istriku dan anak-anakku kelak. Sebagai impian hidup yang mungkin gagal ia wujudkan meski aku tau dia telah berjuang mati-matian untuk itu.

*selalu ingin meneteskan air mata jika mendengarkan lagu ini :

Kamis, 21 April 2011

Menemukan Tuhan

Seorang kawan akrab yang beberapa akhir ini kami jarang berkomunikasi, entah kenapa tiba-tiba mengirim pesan di Facebook :

"kunaon atuh nyo...
sajak sedang ingin menemukan Tuhan...
wanna share with me?
i wanna know, what's your feeling...
i ever fell that way...."

Entah kapan terakhir aku bersujud dengan kesungguhan hati... Entah kapan terakhir aku bisa mengucap syukur dalam kedamaian.. Entah kapan terakhir aku bisa berdoa dengan menundukkan hati.. Entah kapan terakhir hatiku bisa menebar kasih.. Mungkin benar apa yang kawanku itu rasakan, aku sedang ingin menemukan Tuhan..

Jumat, 11 Maret 2011

Tentang Cinta.. (1)




Suatu sore seorang teman yang sudah lama tak menyapa tiba-tiba menyapa via Yahoo Messenger. Tiba-tiba dia bertanya dengan santainya, “gimana cara melupakan mantan, Boy”. Aku mendesir sebentar, “kok tanya gitu, km lagi sakit hati? di tinggal pacarmu?”. Dia membalas dengan cepat “hmm.. ya pokoknya aku ingin melupakan mantanku itu, complicated tenan pacaranku karo deknen. kamu toh punya pengalaman untuk hal melupakan hehe”. Asemik, dia kira aku ahlinya apa ya.. Hahaha 

Aku jawab sebisaku “ya pokoknya, sebuah hubungan itu selalu berkombinasi sempurna dengan keyakinan kita untuk mempercayai bahwa cinta itu bukan hanya sekedar masalah kemana-mana bareng, apa-apa harus berdua, mau ngapa-ngapa harus laporan. cinta itu kepercayaan. selama kamu sama cowok kamu itu saling percaya  kamu mau jungkir balik kemanapun, kamu pasti kembali ke dia begitu juga sebaliknya. lagian kalian baru pacaran mbul. cinta yang sebenarnya itu ketika hati kamu sudah terpatri pada ritual dimana cowokmu di depan ayah kamu berucap dengan sepenuh hidupnya.. “saya terima nikahnya dan kawinnya Raisa binti Taupik bla bla bla.. “ ayahmu namanya beneran Taupik kan? Hahaha”
“sialan kowe GAY, tak dongakke gay tenanan hahaha”.. “asem yo, piye? Masa nyerah gitu aja?”

Dia kembali bertanya “Aku baru putus ik, piye ben lali?”
Aku kembali menjawab meski “aras-arasen” hehehe “ya kalau mau lupa ya jangan di inget. prinsipnya tuh, semua cowok itu sama, makanya aku gak naksir sama cowok.. hahaha.. wes too, kalau kamu yakin sama cowok kamu itu ya yakini aja, toh semuanya baru tahap pacaran.. lagian kenapa gak nikah aja? hehe”
Dia nyletuk dengan sengaknya “emang gampang nikah?”
“gampang, tinggal beli cincin ke Pekojan belakang Pasar Johar. Daftar ke KUA, jadi deh hehehe” aku jawab sambil guyon
“gak bisa gitu boy, ini masalah ketetapan hati. Masalahnya aku sama dia belum saling bisa percaya”
“lha itu masalahnya, kenapa kamu pikirin pusing kalau kamu putus dengan orang yang secara hierarki belum kamu percaya?”
“ah kamu ki gak tau perasaan cewek, dalam boy.. aku tu cinta sama dia. C I N T A. simple kan?”

Hmm.. susah juga nih klw udah nyangkut perasaan cewek pikirku, “yaudah balikan lagi aja, dari pada putus, kamu malah serba salah untuk melupakan dia”
“masalahnya dia kayaknya udah gak sayang sama aku boy, dia itu aneh”
“hmm.. gini ya, kalau kamu udah gak yakin, yaudah berhenti. masih banyak yang harus kamu pikiran selain berkutat ke masalah cinta mulu dari kemarin2.. prinsip untuk melupakan itu gampang, anggap aja dia bukan jodohmu, dia ada di luar garis edar kehidupan kamu, masih ada A, B, sampai Z yang akan meyakini kamu bahwa kamu bisa mengisi hari-hari mereka. tapi ini masalah sensi juga si, masalah intuisi, masalah feels, yo complicated lah.. ngene wae, sesuk tak kenalke karo koncoku sing luwih ngganteng soko bintang FTV idolamu kae?”
“hehehe.. iyo si, tapi gak semudah itu boy, butuh waktu, udah aku unfriend dari FB, unfollow dari twitter, tapi ki bayangannya masih ada teruss”
“ya memang butuh waktu, tapi percayalah. makin lama nanti km juga bisa lupa. sesuk2 kan juga ono maneh sing teko nang kowe. jodoh itu sudah di tentuin sejak kamu belum njedul ke dunia. Tinggal bagaimana kamu mempositifkan diri kamu agar kamu juga dapat jodoh dengan aura yang positif juga. perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. begitu juga sebaliknya. kaya kuwe! mudeng ora son?”
“iya juga si, yaudah aku coba dulu boy, kalau perlu besok-besok gak usah pacaran, aku mau langsung nikah aja. hahaha”

“yaudah klw kamu nikah pokoknya aku ndaftar jadi pagar ganteng”
“wah kamu gak cocok boy, kurang ngganteng. hehe :piss: lagian aku gak mau pakai pager ganteng, mau yang biasa-biasa aja, klw ganteng kaya kamu entar mempelai prianya kalah ganteng hahaha”
“wah aku tersanjung.. ke langit penuh bidadari hahaha.. emang aku ganteng ya?”
“heh! lebay, tak iyani wae lah, dari pada kowe gak gelem ngeterke dolan maneh”
“asemik! cinta itu tidak buta tapi emang gak pakai logika, kayak kamu hahaha kita ini paling pinter teori tapi selalu gagal di praktek ya”
"hahahaha..yoi boyyy"

(bersambung)
sambil mencari-cari arsip lagi di YM hehe

Siklus Hidup


Setiap orang memiliki siklus hidup yang berbeda-beda. Dari hal yang paling sederhana, misalnya siklus tidur dan bangun. Ada orang dengan siklus tidur yang teratur. Misal tidur pukul 9 malam dan bangun pukul 4 pagi keesok harinya. Dulu jaman masih sekolah, saya bisa terbiasa tidur jam 10 dan bangun jam 4 pagi. Waktu sudah kerja berubah, bangun jam 6  pagi tidur lagi jam 11 malam. Sekarang karena kerjaan tidak terpancang waktu, siklus tidur saya berubah total. Belum bisa tidur sebelum jam 12 malam dan belum bisa bangun sebelum jam 9 pagi.. Parah ya?

Ada siklus tidur ada juga siklus kehidupan. Ada kalanya kita berada pada masa puncak, ada pula masa dimana kita berada pada saat dimana semua serba sulit, tak jelas, complicated. Sudut pandang setiap orang pasti juga berbeda-beda dalam menyikapi masalah.Tak terasa sudah 5 bulan saya ada di jalan ini. Dengan pekerjaan yang dulu saya impikan, tak terikat waktu, persaingan terbuka, dan bukan ada di zona nyaman. Alhamdulillah semua masih dalam koridor yang bisa saya kendalikan meski bayangan tak sama dengan kenyataan. Semua masih harus berjalan dan saya tetap harus “fight” untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di depan. Seorang Nahkoda yang hebat tidak diciptakan dari air laut yang tenang. Tapi dari gelombang, badai, dan pasang surut yang menguatkannya.

Sampai kapan?
Sampai di suatu pagi ada yang bertanya pada saya, “kamu mau apa?”
Dan saya akan menjawab “saya mau menetap di Wonosobo, bertani juga mengabdikan hidup saya untuk sesama, mudah-mudahan bisa mengurangi dosa-dosa saya dan juga menghapus dosa orang tua saya”


-semarang, siang terik, sayup-sayup terdengar lagu Anang-Aurel.. “aku dan kamu selalu bersama..”-

Rabu, 12 Januari 2011

Catatan Akhir Tahun

Sudah 12 hari berlalu dari tahun 2010, tapi baru nulis ini. Maklum kemarin-kemarin jauh dari sinyal yang bagus untuk upload :)

#2010

Banyak hal yang sudah terjadi, mirip zodiak mungkin. Banyak cerita tentang kesehatan, keberuntungan, dan cinta.. :))
Namun ada 1 hal di tahun 2010 yang menurut saya sangat berani setengah nekat untuk saya : saya keluar dari zona nyaman saya dengan pemikiran bahwa kehidupan di luar seperti ini lebih menarik dari pada kehidupan di kantor dulu. Dan mudah-mudahan saya akan terus bisa survive dengan kehidupan yang saya yakini ini..

Kamis, 14 Oktober 2010

Siti Bugiah

Cerita ini sebenarnya di mulai di bulan ramadhan lalu. Waktu itu hari Jumat, jam yang terekat di tangan kiri saya menunjuk 16.30. Hari itu saya ada di Jakarta untuk datang ke kantor dimana saya biasa bekerja sama dengan mereka untuk pekerjaan di kantor lama saya. Setelah selesai acara, hujan turun deras. Sedangkan sore itu saya harus kembali ke Semarang karena sudah memesan tiket kereta api ke Semarang pukul 19.20 dari Stasiun Senen. Saya sangsi apakah bisa sampai di stasiun pada jam itu, karena sudah menjadi hal lazim Jumat sore di Jakarta pasti macet apalagi di tambah dengan hujan. Jika naik Busway pasti waktunya tidak cukup karena harus menuju ke Blok M kemudian di Harmoni pindah rute. Mungkin naik taksi bisa lebih cepat menurut saya.

Kemudian dengan memanggil taksi berhentilah sebuah taksi di depan kantor. Di tengah rintik hujan itu naiklah saya ke dalam taksi. Agak terkejut, ternyata driver taksi yang ada di dalam adalah seorang perempuan. Baru kali ini saya mendapati driver taksi perempuan, yang tiap hari harus menembus kemacetan Jakarta yang sedemikan parah. Kira-kira umurnya sekitar 35 tahun. Sampai di dalam beliau menyambut dengan ramah, bertanya tujuan saya. Hmm.. saya agak tertegun sedikit, mungkin bisa dibilang salut untuk pekerjaan beliau. Sesaat setelah taksi melaju, beliau mulai membuka percakapan. Asalnya dari mana, mau kemana dan sebagainya. Obrolan kemudian berjalan asyik, beliau nyambung banget. Setelah itu gantian saya yang bertanya, asalnya mana, tinggal dimana. Beliau tidak keberatan untuk menjawabnya.

Beliau asli Jakarta (asli Betawi katanya), tinggal di Jakarta bagian selatan bersama 2 orang anaknya. Saya tidak berani bertanya lebih lanjut tentang suami dan sebagainya karena takut beliau tersinggung. Karena sebelumnya beliau bilang tinggal hanya bertiga dengan kedua anaknya yang masih SD. Perbincangan berlanjut "ngalor ngidul" di tengah kemacetan Jakarta sore itu. Intinya saya benar-benar salut untuk usaha beliau, saya yakin beliau pasti mau bekerja berat seperti itu untuk anak-anak beliau. Mungkin inilah Jakarta, dimana orang harus bekerja apapun itu asal tetap bisa survive. Satu pelajaran yang saya ambil dari beliau, kerja keras!. Tidak perlu malu untuk sesuatu yang baik. Dan yang pasti saya melihat keikhlasan yang luar biasa pada beliau.

Pelajaran menjelang buka puasa yang luar biasa di tengah kemacetan Jakarta. Sesaat kemudian adzan maghrib berkumandang, kami masih terjebak macet di pusat ibukota negeri ini. Saya yang tidak membawa bekal apa-apa ditawari berbuka dengan roti yang beliau bawa dari rumah. Sesaat sampai Gambir saya mampir membeli minum, itung-itung mengganti roti yang beliau kasih untuk saya. Dan tepat pukul 19.00 kami sudah sampai di Stasiun Senen, alhamdulillah tidak terlambat, begitu gumam saya. Beliau memberi nomor telfonnya dan berpesan nanti kalau di Jakarta mau kemana-mana pakai taxi beliau saja. Hari itu saya mendapat rejeki yang luar biasa : Nilai kehidupan, Buka puasa, juga pekerjaan baru :)

Dan sekarang saya sudah ada di Jakarta, dan tadi pagi saya bertemu beliau lagi untuk mengantar saya bepergian. Beliau bertanya tentang keluarga & masih memberi sekedar nasihat untuk bisa "temata" tinggal di Jakarta. Di dalam taksi itu masih saya temui ID Card yang sama seperti beberapa bulan yang lalu saya pertama bertemu beliau, Siti Bugiah.

Jakarta, 14 Oktober 2010

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...