Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juli 2012

Semalam Diantara Padang - Parapat


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (17)

kelanjutan dari : Mampir Sekejap ke Padang

Suasana nampak mulai mendung dan gerimis. Kami beranjak masuk ke dalam bus yang akan berangkat ini. Bus dengan rute panjang dari Padang menuju ke Medan. Beberapa penumpang meski tidak banyak juga mulai naik ke dalam bus. Keadaan bus lumayan bersih, dengan sebuah toilet di bagian belakang.



Tidak lama kemudian pengemudi bus dan kondekturnya masuk ke dalam bus. Perlahan-lahan bus mulai berjalan meninggalkan agen. Suasana jalanan sepi karena gerimis sudah berganti menjadi hujan. Pengemudi bus mengemudikan bus ini dengan nyaman, sedangkan kondekturnya sedari tadi sibuk memilih kaset lagu yang akan diputar.

Keadaan di dalam bus semakin lama semakin dingin. Hilmy dan Melyn yang duduk di depan saya juga mulai memakai jaket mereka. Untuk mengurangi dingin, saya keluarkan sarung saya untuk krukuban. Rute yang akan dilalui bus ini adalah dari Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, Padang Sidempuan baru kemudian akan masuk wilayah Sumatra Utara.

Satu jam selepas dari kota Padang, kami melewati jalan dengan hutan yang rindang di kanan dan kirinya. Jalanan sedikit menanjak dengan pemandangan yang menajubkan. Diantara jalan yang menanjak dan berliku kami melihat ada jembatan kereta diatasnya, lalu di bawahnya ada sebuah air terjun persis di pinggir jalan. Ada juga sungai yang mengalir dengan cantik, namanya Sungai Batang Anai. Hujan dan hijaunya hutan disekitarnya semakin menambah kecantikan tempat ini. Daerah ini adalah kawasan Lembah Anai. 

Jembatan kereta yang ada di atas adalah jalur kereta yang menghubungkan antara Padang dengan Sawahlunto. Jalur itu pula yang tempo hari saya lihat ada di tepian Danau Singkarak. Kawasan Lembah Anai sudah terkenal dari jaman Belanda sebagai kawasan yang cantik. Belanda pula yang membangun jalan raya dan jalur kereta mengikuti alur sungai Batang Anai ini.

Namun yang sangat kami sayangkan adalah kami hanya bisa menikmati pesona Lembah Anai dari dalam bus dan tidak bisa turun. Bus terus berjalan sehingga kami hanya bisa melihat Lembah Anai dalam tempo yang sekejap. Inilah alasan kenapa suatu saat nanti kami harus mengulang perjalanan kami di Sumatra ini dengan kendaraan sendiri. Agar bisa berhenti di tempat-tempat yang kami kehendaki.

Dari Lembah Anai bus kemudian mulai melewati jalur Padang Panjang – Bukittinggi. Jalur ini juga yang kemarin kami lewati dalam perjalanan Solok – Bukittinggi. Menjelang pukul 5 sore sampailah kami di Bukittinggi. Suasana di luar bus masih hujan, bus berhenti di sebuah agen di Bukittinggi untuk menaikkan beberapa penumpang.

Ada beberapa wisatawan asing yang naik dari agen bus ALS di Bukittinggi ini. Jalur Bukittinggi, Parapat (Danau Toba) sampai ke Banda Aceh adalah salah satu rute favorit dari para wisatawan asing. Biasanya dari Bukittinggi, mereka akan singgah ke Danau Toba. Diantaranya adalah beberapa wisatawan asing yang naik dari agen bus di Bukittinggi ini. 

Dari beberapa percakapan, kami kemudian berkenalan dengan 2 orang wisatawan dari Swiss yang duduk persis di depan Hilmy dan Melyn. Mereka memperkenalkan diri dengan nama Vera dan Marco. Sepasang muda mudi dari Swiss yang sudah 6 bulan ini berpetualang di Asia Tenggara. Setelah mengunjungi Thailand dan Malaysia, mereka kemudian pergi ke Padang dan Bukittinggi. Dari Bukittinggi mereka akan menuju ke Danau Toba dan Banda Aceh untuk kemudian kembali ke negara mereka melalui Singapura.

Jalanan selepas dari Bukittinggi mulai berliku. Hutan Bukit Barisan yang hijau menghias di kanan dan kirinya. Pemandangan begitu indah ketika jalan raya ada di atas bukit dan kita bisa melihat gugusan perbukitan dengan pepohonan yang luas. Kabut tipis-tipis menyelimuti perbukitan dengan gerimis yang menambah syahdu suasana. 

Kondektur bus memutar lagu-lagu india yang bising. Saya membayangkan kami sedang ada di dalam bus yang mengitari perbukitan di Kashmir dengan iringan lagu-lagu India. Serta penumpangnya yang saling bercengkerama dan berjoget. Membayangkan di sebelah saya adalah Kareena Kapoor yang jelita itu. Ah, ini bukan di India boi.

Mungkin karena kondektur bus mendengar jeritan hati kami yang merasa tersiksa dengan lagu india yang bising itu. Ia menggantinya dengan lagu-lagu Ebiet G Ade.
Menurut saya, lagu-lagu Ebiet G Ade adalah lagu yang paling enak didengarkan ketika kita sedang ada di jalan. Paling nyaman dipakai untuk merenung ketika kita sedang punya pandangan jauh ke luar bis. Terlebih suasana hujan di luar sunggu membuat perjalanan ini berkesan sekali.

Di tengah lamunan saya, Hilmy dan Melyn. Vera bertanya kepada kami judul lagu yang sedang diputar di bus ini. Dia suka dengan lagu yang diperdengarkan. Nampaknya ia tau mana lagu yang bagus dan mana yang kurang bagus. Vera lalu bersiap menuliskan nama penyayi dan judul lagu di sebuah kertas yang telah ia persiapkan. Dari liriknya kami menjawab kalau ini adalah lagu Ebiet G Ade, judulnya Berita Kepada Kawan. Mungkin Vera tidak mengetahui arti dari liriknya karena menggunakan bahasa Indonesia. Tapi musik tentu adalah bahasa yang universal. Dan disini, puluhan ribu kilometer dari tempat asalnya, dengan budaya dan bahasa yang berbeda dari negaranya. Di tengah perjalanannya di pelosok Sumatra, ia bertemu dengan sebuah lagu yang tanpa ia ketahui arti liriknya adalah bercerita tentang sebuah perjalanan.
“..perjalanan ini terasa sangat menyedihkan. sayang engkau tak duduk di sampingku kawan. banyak cerita yang mestinya kau saksikan..” | Berita Kepada Kawan – Ebiet G Ade

Bus terus berjalan ketika langit mulai gelap. Pukul 7 malam ketika bus akhirnya berhenti di depan sebuah rumah makan. Banyak sekali bus antar kota berhenti disini. Saya, Hilmy dan Melyn kemudian makan Sate Padang yang belum kesampaian dari kemarin. Kalau kemarin kami sudah makan masakan Minang di tanah Minang. Kini kami ingin merasakan sate Padang yang terkenal itu. 

Hampir berhenti 1 jam, bus kembali melanjutkan perjalanannya. Suasana bus makin lama makin dingin.  Kami semua kedinginan, bahkan wisatawan-wisatawan dari Eropa yang sudah terbiasa dengan hawa dingin saja mereka kedinginan di bus ini. Saya menduga pengatur AC di bus ini rusak, karena saya melihat pengemudi bus juga kedinginan. Kalau pengatur AC tidak rusak, tentu pengemudi bus sudah menaikkan suhunya agar ia tidak kedinginan. Namun yang saya lihat, pengemudi bus sampai melilitkan sarung pada badannya untuk mengurangi dingin.

Kami kemudian tertidur pulas. Beberapa kali saya terbangun karena dingin yang luar biasa di bus ini. Dua orang laki-laki dari Inggris nampak berkali-kali pergi ke toilet bus karena dinginnya.
Sekitar jam 12 saya terbangun dan melihat bahwa bus sudah memasuki daerah Padang Sidempuan. Menjelang sahur, bus kembali berhenti disebuah rumah makan. Banyak sekali bus yang berhenti di tempat ini. Dari nama daerah dan logat bicara orang-orang yang ada disitu, saya mengira bahwa kami sudah masuk wilayah Sumatra Utara.

Saya, Hilmy dan Melyn kemudian makan sahur. Saya memperhatikan dari sejak kami di Lampung sampai di sini, Sumatra Utara, kebanyakan kami berhenti di tempat makan yang menyajikan makanan Padang. Sehingga kami tidak terlalu sudah beradaptasi dengan makanan selama dalam perjalanan. Marco dan Vera tidak makan, mereka hanya menyedu teh hangat untuk mengurangi dingin. Disisa perjalanan, kami lebih banyak tidur. Bangku sebelah saya kosong sehingga saya bisa tidur dengan lebih leluasa.

Saya terbangun ketika hari nampak sudah sedikit terang. Jam menunjuk angka 7 lebih. Parapat sepertinya masih jauh. Di luar yang kami lihat adalah perkampungan-perkampungan yang tenang cenderung sepi. Nama daerahnya sudah mengandung nama-nama Batak. Suasana pagi yang indah gumam saya.

Senin, 23 Juli 2012

Menjelang Sore di Bukittinggi..

*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (15)

kelanjutan dari : Danau Singkarak dan Padang Panjang 

Suasana berdesak-desakan di travel yang membawa kami dari Padang Panjang menuju Bukittinggi tidak begitu saya rasakan. Meski berdesak-desakan namun pemandangan di luar begitu indah. Gunung Singgalang disisi kiri memberikan panorama yang menyejukkan mata. Terlebih dengan aroma mobil yang diselimuti aroma durian. 

Selepas kota Padang Panjang, disisi kiri menuju Bukittinggi kami melewati sebuah papan nama bertuliskan Rumah Puisi Taufiq Ismail. Ada keinginan untuk turun dan berkunjung ke rumah puisi itu, namun diantara ragu akhirnya kami memutuskan untuk tidak turun dan melanjutkan perjalanan kami ke Bukittinggi.

Hampir satu jam ketika beberapa penumpang lain sudah mulai turun dan keadaan travel tidak sesesak sebelumnya. Menjelang masuk ke kota Bukittinggi, beberapa kali kami mengalami kemacetan. Kota ini lumayan ramai, tidak heran kalau menjadi kota yang paling padat penduduknya di Sumatra Barat.

Menjelang masuk tengah kota, pengemudi travel memberi tau kepada kami bahwa ia tidak bisa mengantar sampai ke Jam Gadang. Sehingga kami turun dan berpindah ke angkot agar bisa sampai ke Jam Gadang.

Hilmy sibuk membaca peta kota Bukittinggi di buku Lonely Planet yang ia bawa. Ia menyarankan kami untuk pergi ke Ngarai Sianok terlebih dahulu sebelum pergi ke Jam Gadang. Di sebuah perempatan diantara Jam Gadang dan Ngarai Sianok kami turun dari angkot. Kemudian berpindah angkot lagi menuju Ngarai Sianok.

Sekilas kota Bukittinggi ini adalah kota wisata. Bisa dilihat dari banyaknya penginapan juga wisatawan asing yang kami lihat berlalu-lalang. Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur di sepanjang pulau Sumatra. Kota ini berbukit-bukit (namanya juga sudah pakai bukit ya hehe). Hawa sejuk kami rasakan di kota yang berada pada tepi sebuah lembah bernama Ngarai Sianok ini.

Tak berapa kemudian angkot berhenti persis di pintu gerbang Taman Panorama Ngarai Sianok. Kami bergegas turun, namun sebelum masuk ke Ngarai, kami tertarik untuk masuk ke sebuah museum yang ada di depan Ngarai. Sebuah pesawat AT-16 buatan Amerika Serikat yang ada di depan museum membuat kami penasaran apa yang ada di dalam museumnya.

Namanya Museum Tri Daya Eka Dharma. Kondisi museum ini sangat sepi, hanya kami bertiga yang memasuki museum ini. Namun sesampainya di dalam ternyata pintu masuk museum terkunci. Tidak ada orang sama sekali di museum ini. Sampai pada akhirnya seorang yang masih muda dengan rambut cepak berperawakan tentara keluar dari bagian dalam museum ini. Ia bertanya kepada kami bertiga apakah akan masuk ke dalam museum. Kami mengiyakan bahwa kami akan masuk ke dalam museum. Lalu kami disuruh untuk mengisi buku tamu dan membayar biaya masuk museum seikhlasnya. Seumur-umur baru kali ini saya masuk ke museum yang retribusi masuknya seikhlasnya.

Di dalam museum disajikan berbagai macam persenjataan tentara Indonesia dan asing, termasuk alat-alat komunikasi untuk militer. Seperti museum-museum di Indonesia pada umumnya, kondisinya ya begitu-begitu saja. Selain kota wisata, Bukittinggi ini memang salah satu kota bersejarah di Indonesia. Bukittinggi pernah menjadi ibukota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang dipimpin oleh Syafruddin Prawinegara.

Keluar dari museum kami lalu masuk ke Ngarai Sianok. Kami berdecak kagum pada keindahan Ngarai ini. Sebuah lembah curam (jurang) yang membentuk patahan panjang dengan dinding curam bahkan ada yang tegak lurus. Membentuk lembah hijau dibawahnya dengan sungai kecil memanjang mengikuti alur dari Ngarainya. Di seberang Ngarai nampak Gunung Singgalang berdiri gagah.

Di dalam Taman Panorama Ngarai Sianok ini banyak kami temui pedagang-pedagang yang menjual oleh-oleh khas dari tanah Minang ini. Ada kain tenun, replika rumah gadang dan juga ada lukisan-lukisan dengan panorama khas Minang yang biasa saya lihat di rumah makan Padang.

Masih di dalam kawasan Taman Panorama Ngarai Sianok ini, kami kemudian masuk ke dalam Lubang Jepang. Dulu dalam masa penjajahan Jepang, karena lokasinya yang sangat strategis di tengah-tengah Pulau Sumatra. Bukittinggi dijadikan sebagai pusat komando pertahanan tentara Jepang di Sumatra. Jepang membangun tempat ini selain sebagai pertahanan, dipakai juga sebagai tempat untuk menyimpan amunisi dan perbekalan. Di dalamnya terdapat banyak ruang dengan berbagai macam keperluan tentara Jepang. Saya bergidik ngeri ikut turun memasuki lubang ini. Sampai dibawah suasana remang-remang, jalanan juga bercabang-cabang. Bangunannya sangat kokoh, seperti bangunan-bangunan Jepang lainnya. Bahkan gempa Sumatra Barat ditahun 2009 tidak merusaknya. Entah berapa romusha yang dikerahkan untuk ikut membangun lubang ini. 

salah satu lembah di Ngarai Sianok

Ngarai Sianok
sekitar Ngarai Sianok..

pelukis di Ngarai Sianok

Melyn :P

Tak berapa lama kemudian kami kemudian kembali naik. Saya dan Melyn lalu mencoba menghitung berapa jumlah anak tangga sampai ke atas. Namun antara haus dan lelah berjalan menanjak saya sudah tak mampu menghitungnya lagi. Ada ratusan anak tangga agar kami bisa sampai ke atas lagi. Sesampainya di atas, kami seperti sekelompok orang yang tanpa daya selepas bekerja begitu keras.



Lubang Jepang

Ngos-ngosan sehabis dari Lubang Jepang


Dari Taman Panorama Ngarai Sianok ini kami bergegas naik angkot lagi menuju ke Benteng Fort de Kock. Ini adalah sebuah benteng yang dibangun oleh Belanda di sebuah puncak bukit di Bukittinggi. Benteng ini dibangun tentara Belanda untuk menghadapai rakyat Minangkabau pada saat Perang Paderi. Dari atas bukit ini kita bisa melihat pemandangan kota Bukittinggi dari atas. Disekitar benteng ini kini dibuat menjadi sebuah taman yang hijau dan sejuk.

Dari benteng ini kemudian kami berjalan lagi menuju Jembatan Limpapeh. Jembatan ini menghubungan antara Benteng Fort de Kock ke Kebun Binatang Bukittinggi. Jembatan ini persis diatas sebuah jalan utama di Bukittinggi, Jalan Ahmad Yani.  Setelah sampai di kebun binatang ini, saya memisahkan diri dari Hilmy dan Melyn. Saya tidak suka dengan sebuah kebun binatang dengan konsep mengurung binatangnya. Bagi saya hal itu semacam penyiksaaan yang dipertontonkan. Saya duduk menunggu di depan pintu masuk kebun binatang dimana ada replika rumah gadang juga disini.

Selepas Hilmy dan Melyn berkeliling, kemudian kami bertemu kembali di depan pintu gerbang kebun binantang. Dari tempat itu kami kemudian berjalan kaki ke arah Pasar Ateh yang ada di dekat Jam Gadang.

Di dekat pasar kami mampir untuk shalat asar di Masjid Raya Bukittinggi. Saya dan Hilmy kemudian bergegas mengambil wudhu dan shalat asar. Suasana masjid begitu ramai, terlebih ini adalah bulan ramadhan. Selesai shalat berjamaah berdua kami keluar dari masjid. Saat kami keluar, banyak sekali orang yang berjalan masuk ke masjid. Dan tak beberapa lama kemudian terdengar adzan. Saya dan Hilmy berpadangan sambil bertanya-tanya. Kok baru adzan asar ya. Padahal kami mengira sudah asar sehingga kami langsung bergegas shalat asar. Nampaknya kami masih berpegang kepada jadwal shalat asar di Jawa, padahal ini sudah di Sumatra. Bahasa Belandanya kegasiken!

Di depan Masjid Raya Bukittinggi ada semacam pasar wisata. Namanya ‘Pasar Pabukoan Wisata Bukittinggi’. Di pasar ini dijajakan berbagai macam makanan khas Minang. Kondisi pasarnya sangat ramai dengan banyak orang yang membeli makanan untuk berbuka puasa. Ini seperti surganya kuliner makanan khas Minang. Kami kemudian membeli beberapa untuk bekal kami buka puasa hari ini.

Jembatan Limpapeh

Dari atas Jembatan Limpapeh




Dari pasar pabukoan ini kami berjalan lagi ke arah Jam Gadang. Menuju Jam Gadang kami melewati Pasar Ateh yang sedang ramai orang hilir mudik. Meskipun ramai, namun suasananya tetap saja nyaman. Akhinya, setelah putar-putar sampailah kami ke Jam Gadang. Sebuah menara jam sebagai simbol kota Bukittinggi. Kota bersejarah tempat kelahiran tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Hatta dan Agus Salim. 

Jam Gadang tahun 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai hadian dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, controleur Fort de Kock. Jam ini digerakkan secara mekanik oleh mesin yang di dunia hanya ada 2 yaitu Jam Gadang ini dan Big Ben di London Inggris. 




Namun sayang ketika kami sampai di Jam Gadang cuaca sangat mendung dan akhirnya turun hujan. Kami bertiga berteduh persis di sebuah bangunan di sekitar Jam Gadang. Lama berteduh namun hujan tak reda, akhirnya ditengah rintik hujan kami nekat mencari angkot untuk pergi ke Terminal Air Kuning. Terminal dimana kami harus mencari travel untuk kembali ke Solok. Sesampainya di Air Kuning hujan belum reda. Sementara travel ke Solok sore ini jarang kami temukan.

Kami bertiga berdiri di emperan toko sambil kedinginan. Di samping saya, ada ibu-ibu penjual es yang nampak cemberut dagangannya tidak laku karena hujan. Kadang hujan memang menyejukkan, namun ada kalanya hal seperti ini yang kami temui. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya kami menemukan travel menuju Solok. Kami bergegas masuk dengan kondisi baju agak basah. Menikmati perjalanan kami pulang ke Solok.

Di jalan menuju pulang, hari mulai gelap. Kami membatalkan puasa kami dengan jajan yang kami beli tadi di pasar dekat Masjid Raya Bukittinggi. Travel melaju dengan cepatnya, samar-samar diantara kegelapan saya melihat lagi Danau Singkarak di sisi kanan. Ah, hari ini saya merasakan banyak kesyahduan.

Danau Singkarak dan Padang Panjang


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (14)

kelanjutan dari : Manisnya Buka Puasa di Solok

Dulu, ketika belum pernah datang ke Sumatra Barat, saya selalu membayangkan bahwa daerah ini sangat indah. Keindahannya saya imajinasikan seperti lukisan-lukisan yang saya lihat di rumah makan Padang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.  Dalam lukisan-lukisan di rumah makan Padang biasanya digambarkan tentang indahnya rumah gadang, bukit-bukit, sawah-sawah dan danau.

Kini hal tersebut ada semua di hadapan saya. Dalam sebuah perjalanan menggunakan travel dari Solok ke Padang Panjang, semua imajinasi saya tentang lukisan itu kini benar-benar nyata. Diantara riuh rendah kecepatan travel dengan pengemudi yang terobsesi menjadi pembalap, saya berdecak kagum.

Di sisi kiri saya melihat Danau Singkarak dengan rumah-rumah gadang di tepiannya. Sementara gugusan bukit dan persawahan hijau yang lapang di sisi kanan begitu menyejukkan mata. Jalanan yang berkelok-kelok persis di pinggir danau nampak tidak terlalu ramai. Ah, saya kira ini salah satu puncak keindahan perjalanan kami ke Sumatra kali ini.

Hilmy dan Melyn duduk di depan samping pengemudi. Sementara saya duduk di belakang sambil termangu mendengar bapak-bapak berbicara dengan Bahasa Minang yang sama sekali saya tidak paham maksudnya. 

Di tepi Danau Singkarak, terlihat juga sebuah jalur kereta. Rel kereta penghubung antara Padang Panjang – Solok – Sawahlunto. Dulunya, jalur kereta ke Sawahlunto dibangun pemerintahan kolonial Belanda karena melihat Sawahlunto sebagai kota penghasil batubara. Sehingga jalur kereta ini lebih difungsikan sebagai jalur transportasi batubara. Namun ketika produksi batubara dari Sawahlunto ini sudah menurun, jalur kereta ini dipakai untuk kereta wisata. Salah satu kereta wisatanya bernama “Mak Itam”. Sayangnya kereta wisata ini hanya beroperasi pada akhir pekan sehingga kami tidak bisa mencobanya.

Merasakan lekak-lekuk tepian Danau Singkarak dengan pengemudi travel yang terobsesi menjadi pembalap sungguh membuat hati gundah gulana. Terlebih tadi malam nenek di rumah Solok bercerita tentang Danau Singkarak ini dari sisi ‘lain’. Beliau bercerita tentang beberapa kejadian mobil tercebur ke danau ini dan tidak dapat ditemukan. Juga tentang mistisnya danau ini. Mengingat cerita tadi malam dan merasakan pengemudi travel ini begitu ngebutnya, dalam hati hanya bisa beristighfar. Astaghfirullah yang berselang-seling dengan Subhanallah melihat indahnya danau ini.

salah satu sudut pasar diantara Solok - Padang Panjang

Tak berapa lama kemudian, gapura bertuliskan ucapan selamat datang di Padang Panjang nampak di depan kami. Di sebuah pertigaan setelah gapura kami turun dari travel untuk kemudian berganti ke sebuah angkot untuk menuju pusat kota. 

Saya memperhatikan di Padang Panjang ini banyak sekali sekolah dan universitas. Mungkin bisa disebut sebagai ‘kota pelajar’-nya Sumatra Barat. Suasana kotanya lebih ramai dibandingkan dengan Solok yang kami datangi sebelumnya. 

Di angkot kami bertanya-tanya kepada para penumpang lain bagaimana kami bisa sampai ke tujuan kami, Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minang (PDIKM). Seorang ibu dengan anaknya yang masih kecil memberi informasi detail bagaimana cara kami agar sampai kesana.

Untuk menuju ke PDIKM  kami harus berganti angkot lagi. Di angkot kedua, nampak 2 wanita muda yang jaim. Untuk memastikan kami tidak salah angkot, kami bertanya kepada mereka. Ternyata mereka juga punya tujuan yang searah dengan kami. Namun selepas pertanyaan itu, kami tidak melanjutkan percakapan lagi. Rasanya enggan untuk bertanya lagi ketika melihat wajah mereka yang begitu jaim. 

Tidak jauh dari pusat kota, hanya sekitar 15 menit sampailah kami ke tujuan kami. Sebuah gapura penunjuk Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minang (PDIKM) terpampang besar di pinggir jalan. Kami turun dari angkot untuk kemudian berjalan tidak seberapa jauh ke pintu gerbang PDIKM.





Sebuah bangunan besar bergaya Minang kini ada di depan kami. Antara perasaan takjub dan bersyukur bisa sampai di sini. Tempat ini begitu luas dengan banyak pepohonan dan rerumputan hijau. Di tengahnya berdiri gagah sebuah rumah gadang besar, seolah-olah menjadi simbol kejayaan Minangkabau dimasa lalu.

Padang Panjang Kota Serambi Mekah

Di depan PDIKM

Serombongan wisatawan asing nampak keluar dari dalam dengan bus yang sudah menunggu di luar. Saya, Hilmy dan Melyn bergegas masuk. Ini pengalaman pertama saya masuk ke dalam rumah gadang. Melewati tangga depan, kami masuk ke anjungan. Anjungan adalah bagian yang lebih tinggi dari bagian dasar rumah, ditandai dengan adanya anak tangga.

Di dalam saya merasakan agak goyang dengan suara berderit. Mungkin karena baru pertama kalinya. Kalau diibaratkan ini rumah yang dihuni sebuah keluarga, setiap ada orang yang berjalan menghentak, seluruh anggota keluarga akan merasakan.


Di dalam bangunan utama ini, disajikan beberapa cerita sejarah Minangkabau yang terdapat pada koleksi-koleksi fotonya. Ada juga perpustakaan dengan koleksi buku-buku sejarah Minangkabau. Termasuk tentang berbagai macam model rumah gadang dan asal muasalnya. Salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Sumatra Barat Moh Hatta, mendapat apresiasi yang sangat baik di tempat ini. 

Kami kemudian turun ke lantai dasar. Di lantai dasar ini disajikan beberapa pakaian tradisional Sumatra Barat. Karena tidak ada orang yang menunggu di lantai dasar ini maka kami iseng-iseng mencobanya. 








Selepas dari bangunan utama ini, kami kemudian bergegas keluar untuk melanjutkan perjalanan kami ke Bukittinggi. Melewati pintu lain yang berbeda dengan pintu masuk kami tadi, kami melewati sebuah jembatan gantung yang indah. Sungguh tempat ini menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan menjadikannya indah.

Kemudian kami kembali ke jalan raya untuk menunggu transportasi ke Bukittinggi. Jalan raya di dekat PDIKM ini adalah jalan raya penghubung antara Padang – Padang Panjang – Bukittinggi. Seorang ibu pemilik warung di pinggir jalan sekitar PDIKM menunjukkan cara kami untuk pergi ke Bukittinggi. Untuk pergi ke Bukittinggi, ibu itu menyarankan kami untuk naik travel yang banyak lewat di jalan ini. Travel yang dimaksud ibu ini adalah mobil-mobil plat hitam (rata-rata model avanza, xenia dan apv) yang melayani rute Padang – Bukittinggi.

Tak berapa lama, sebuah mobil APV berhenti. Kami kemudian naik ketika sudah ada beberapa penumpang di dalamnya. Mobil ini agak penuh sesak dengan penumpang hampir lebih dari 10 termasuk anak-anak. Di tengah sesak penumpang itu kami mencoba menikmatinya. Namun yang membuat saya tidak terlalu mengeluh dengan sesaknya bus ini adalah aroma durian di mobil ini. Sebelumnya saya kira ini adalah parfum mobil yang rasa durian. Namun ternyata aroma durian itu berasal dari buah durian yang sebenarnya. Dibagian belakang mobil,ada seorang ibu yang membawa durian dengan jumlah banyak untuk dijual di Bukittinggi. Bau durian menghinggapi seluruh bagian mobil. Bau durian ini sungguh enak, bisa dipastikan isinya tak kalah enaknya. Seenak durian yang saya rasakan di Muaraenim tempo hari. Saya dan Melyn senyum-senyum dengan semerbak durian ini karena kami sama-sama suka durian. Sedangkan Hilmy tertunduk lesu, entah karena mual atau karena apa. Ia masih tidak suka durian dan mungkin sangat tersiksa dengan aroma ini.

Tapi percayalah, dalam suatu perjalananan di lain tempat nanti, ia akan makan durian untuk pertama kali dalam hidupnya. Karena durian Sumatra nomor 1 di kelasnya

Senin, 02 April 2012

Sahur Pertama di Kereta Sindang Marga


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (8)

 kelanjutan dari : Senja dan Durian Tanjungenim

Saya terbangun dan mendapati saya masih ada di sebuah ruang tunggu stasiun di Muara Enim, Sumatra Selatan. Nampaknya tadi saya tertidur dengan tas yang masih terpangku. Jam sudah menunjuk lebih dari pukul 12 malam. Suasana stasiun masih seperti tadi, sepi. Saya melihat Melyn dan Hilmy yang duduk agak berjauhan juga nampak lelah dan mengantuk.

Sudah nampak ada petugas datang, tapi loket juga belum di buka. Di dekat saya ada seorang bapak paruh baya yang nampaknya juga sedang menunggu. Selang beberapa saat kami mulai membuka percakapan dan berbincang. Nampaknya bapak ini akan menjemput anaknya yang sedang naik kereta ke Muara Enim. Bapak ini sudah lama tinggal di Sumatra tetapi asalnya dari Kroya, Jawa Tengah. Pertama kali ke Sumatra ketika ongkos bus dari Kroya ke Jakarta masih 8000 rupiah. Wah, tahun berapa itu ya. Pasti sudah lama sekali. 

Dengan kondisi terkantuk saya berbincang dengan bapak ini. Ia bertanya kepada saya tujuan saya ke Sumatra. Saya bilang saya bersama 2 kawan saya ingin keliling Sumatra. Bapak itu lalu bertanya tujuan kami keliling Sumatra untuk apa. Saya jawab kalau tujuan kami keliling ini untuk petualangan saja.

Nampaknya bapak ini sebelumnya mengira bahwa tujuan saya keliling Sumatra adalah untuk dakwah. Saya bertanya-tanya dalam hati, apa wajah saya ini ada aura pendakwah ya. Hahaha. Dengan tersenyum saya menjelaskan bahwa tujuan saya dan 2 kawan saya adalah untuk sekedar berpetualang saja.

Bapak itu lalu bercerita tentang organisasi yang diikutinya. Sambil setengah sadar karena kantuk saya sayup-sayup mendengarkan. Jadi bapak ini mempunyai organisasi keagamaan dimana organisasi itu sering mengirim orang untuk dakwah keliling. Mungkin karena hal itu pula, bapak ini mengira saya yang sedang berkeliling Sumatra ini sedang berdakwah juga. Tiba-tiba saya ingin melihat cermin malam ini.

Melyn dan Hilmy dari kejauhan saya lihat tersenyum-senyum. Mungkin mereka mendengar percakapan saya dengan bapak ini. Dan mereka membayangkan saya di tawari untuk ikut jihad. Di ujung percakapannya, mungkin hanya untuk memberi gambaran contoh saja, bapak ini berujar “Kalau mas mau ikut Jihad, misalnya ke Palestina. Nanti mas berangkat kesana, kebutuhan keluarga mas (anak dan istri) nanti di tanggung bersama oleh anggota-anggota organisasi”

Saya hanya tersenyum saja. Sampai kemudian kami saling diam dan tak berapa lama petugas membuka loket penjualan tiket. Jadi tiket di jual belakangan karena petugas harus memastikan bahwa kereta berjalan dan hampir sampai di Muara Enim ini. Tiket ke Lubuk Linggau masih tersedia dan baru kali ini saya membeli sebuah tiket kereta dan tiketnya di tulis tangan oleh petugasnya. Jadi tidak ada system cetak, yang ada ketika kami memesan 2 tiket bapak petugasnya menulis dengan tangan 3 tiket itu. Tiket kereta bisnis Sindang Marga seharga 60.000 rupiah dari Muara Enim sampai ke Lubuk Linggau. Sepertinya kami bertiga ini satu-satunya penumpang yang naik dari Stasiun Muara Enim.

Kereta belum datang dan kami harus menunggu lagi. Sembari menunggu saya mencari toilet di stasiun ini. Tapi nampaknya tidak ada toilet yang saya temukan. Melyn yang sepertinya ingin ke toilet bertanya kepada petugas tadi. Bapak petugas menunjukkan arah ke toilet sekaligus memberikan kuncinya yang ternyata ia pegang. Hahaha. Ternyata toiletnya ada 1 dan itu terkunci. Kirain ada toilet umum.

Menunggu agak lama, sesaat kemudian datanglah kereta yang kami tunggu sedari tadi. Kereta Sindang Marga menuju Lubuk Linggau. Jam di tangan menunjuk pukul 2 pagi. Padahal jadwal di papan pengumuman yang terpasang, kereta ini seharusnya berangkat dari stasiun ini pukul 23. Bapak petugas yang tadi menjual tiket itu menunjukkan di gerbong mana kami harus naik. “Terserah gerbong berapa saja yang penting kosong” begitu katanya. Saya jadi berpikir, yang membuka loket, menjual tiket, sampai menunjukkan gerbong adalah petugas yang sama. Saya melihat satu-satunya petugas yang ada di stasiun ya cuma bapak petugas satu itu. Jangan-jangan ia merangkap dari kepala stasiun, penjual tiket, penunggu stasiun sampai pengatur sinyal kereta. Hahaha

Kami bertiga kemudian masuk ke kereta. Ada sebuah gerbong yang tidak terlalu penuh sehingga kami bisa duduk leluasa di tempat itu. Tak berapa lama kereta jalan dan kemudian perlahan meninggalkan Stasiun Muara Enim menuju Lubuk Linggau. Saya terkantuk tetapi baru menyadari bahwa kami harus sahur. Ini adalah sahur pertama kami di Bulan Puasa kali ini. Di luar gelap entah menyusuri hutan mana. Hilmy katanya sudah kenyang makan nasi goreng di Pasar Muara Enim. Saya dan Melyn lantas membeli mie gelas dan menyedunya. Sahur pertama kami dalam perjalanan kali ini. Sangat sederhana, tapi mungkin ini akan membuat kami selalu mengenang perjalanan ini. Kereta, gelap, pedalaman Sumatra Selatan, dan mie gelas. Syahdu! 

sahur pertama di kereta antara Muara Enim - Lubuk Linggau

Rabu, 07 Maret 2012

Sepenggal Kisah di Kereta Palembang - Muara Enim

*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (6)

kelanjutan dari : Menapak Palembang dari Sudut Jembatan Ampera

Dari Palembang ke Muara Enim

Selepas kemarin seharian menghabiskan waktu di Palembang dan beristirahat semalam, pagi ini kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami. Rute hari ini, dari Palembang menuju Tanjung Enim kemudian lanjut lagi ke Bengkulu. Di Tanjung Enim kami akan mampir ke teman kami yang tinggal disana.

Pagi ini kami beranjak pergi ke Stasiun Kertapati Palembang. Dari rumah kerabat Hilmy tempat kami menginap, kami pamit. Kemudian melanjutkan perjalanan kami menggunakan Trans Musi. Karena jalur Trans Musi tidak ada yang melewati Stasiun Kertapati, maka kami berhenti di sebuah halte untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke stasiun dengan sebuah bus kota. Berbeda dengan bus kota pertama yang kami pakai di Palembang kemarin, bus yang ini nampak lebih ‘ramai’. Kondisi bus meski tidak bagus, namun jauh lebih nyaman karena dijaga kebersihannya. Di langit-langit bus di pasang banyak hiasan kartun-kartun berwarna pink yang lucu.

Musik yang diputar didalam bus sangat keras. Lagu dangdut yang berpadu dengan disco. Kami duduk di jok panjang paling belakang. Tetapi aneh, karena setiap hentakan musik yang keras di dalam bus, selalu kami rasakan juga di (maaf) pantat kami. Usut punya usut, setelah kami lihat ternyata di bawah jok yang kami duduki ini adalah loadspeaker yang besar yang saking kerasnya suara, getarannya sampai di pantat kami. 

Lagu yang diputar adalah lagu Cinta Satu Malam yang dibuat disco. Sehingga setiap alunan music yang ‘jedug jedug jedug’, getarannya akan menjadi ‘jedug jedug jedug’ pula menekan pantat kami. Kami tertawa-tawa masih sambil merasakan sensasi getaran ini. Mungkin bagi kawan yang punya masalah susah buang air besar, cobalah naik bus ini dan duduk di jok belakang. Keluar dari bus dijamin lancer buang air besar!

Keluar dari bus kami kemudian menuju ke loket pembelian tiket di Stasiun. Pagi ini kami berencana untuk naik kereta ekonomi tujuan Lubuk Linggau, namun kami akan turun di stasiun Muara Enim. Sesampai di loket kami agak khawatir kalau tiket habis, namun rupanya keberuntungan berpihak kepada kami. Masih ada 3 tiket tersisa meskipun salah satu tiketnya duduknya harus berjauhan tetapi masih dalam satu gerbong.

Sampai di dalam gerbong, Hilmy kembali mengalah untuk duduk terpisah dari saya dan Melyn. Suasana kereta begitu panas dan sesak, mungkin karena ini hari Minggu sehingga banyak orang bepergian. Seperti layaknya kereta ekonomi, para penumpang duduk saling berhadapan. Jarak yang sempit memaksa kaki kita harus bersenggolan dengan kaki orang yang duduk di depan kita. Saya dan Melyn mendapat kursi yang menghadap ke belakang sehingga di perjalanan nanti kami harus duduk mundur. 

Saya duduk di ujung dekat jendela, Melyn di tengah, serta ada laki-laki setengah baya di samping kanannya. Duduk di sebelah depan saya, suami istri yang sudah tua, istri duduk di sampung jendela persis di depan saya, suaminya duduk di tengah di depan Melyn, serta di sebelahnya lagi seorang bapak tua.

Laki-laki disebelah Melyn mengira kami membeli tiket dari calo begitu saya bilang kami beli tiket di loket dan baru saja beli tidak lama sebelum kereta berangkat. Dia bilang biasanya kalau beli tiket dan dapat duduknya terpisah-pisah itu belinya di calo. Saya menjelaskan kepadanya, bahwa kami baru saja beli di loket dan masih tersisa 3 tiket meskipun memang terpisah.

Dari obrolan berikutnya antara dia dan beberapa penumpang lain, saya baru tau kalau pembelian tiketnya katanya susah. Harus pesan beberapa hari dulu atau terpaksa beli di calo jika tiket di loket sudah habis. Jadi orang itu setengah tidak percaya kami mendapat tiket dengan mudah tanpa lewat calo. Dalam hati saya hanya bisa bersyukur, beruntungnya kami mendapat kemudahan. Beli hanya beberapa menit sebelum keberangkatan di loket, dan tiket masih tersisa untuk kami.
Kereta mulai berjalan perlahan meninggalkan Palembang. Yang saya lihat di luar hanya lahan-lahan kosong yang penuh dengan rumput dan beberapa rawa. Panas terik menghiasi perjalanan kami ini. Tangan tak pernah jauh dari selembar kertas untuk sekedar berkipas. Kereta penuh sesak, panas dan pengap.

Suami istri yang duduk di depan saya juga merasakan panas sepertinya. Tangan ibu yang duduk di depan saya ini terus mengibaskan kipasnya sambil bercakap dengan suaminya yang duduk di tengah. Mereka bercakap dengan bahasa jawa yang dialegnya tidak asing bagi saya. Beberapa saat kemudian beliau membuka percakapan menanyakan tujuan kami akan pergi kemana. Saya menjawab pertanyaannya dengan bahasa jawa juga. Suasana kemudian menjadi lebih cair. Saya mengobrol dengan mereka berdua menggunakan bahasa jawa kromo untuk orang yang lebih tua. Melyn di sebelah saya hanya duduk sambil senyum-senyum saja karena tidak terlalu banyak menguasai Bahasa Jawa.

Dari obrolan ini saya baru tau bahwa mereka akan pulang ke rumah mereka di Lubuk Linggau setelah semalam pentas siaran wayang kulit di sebuah stasiun radio di Palembang. Bapak ini adalah seorang dalang. Beliau dan istrinya ini berasal dari Yogyakarta namun pindah ke Sumatra ini. Meskipun jauh dari kampung halaman di  Yogyakarta, bapak dan komunitasnya masih mempertahankan budaya asal mereka di Jawa untuk tetap berkembang termasuk di tanah perantauan mereka di Sumatra. 

Nampaknya tradisi wayang kulit juga berkembang di daerah Sumatra dibawa oleh para perantau Jawa yang ada di Sumatra. Bukan hanya wayang kulit, namun berbagai kesenian Jawa seperti Campursari, Gending Jawa, Tayub, dan Ketoprak. 

Kereta terus melaju dan panas membuat kami sedikit terkantuk. Bapak dan Ibu yang duduk di depan saya ini mulai tertidur, meskipun sang istri tidak sepenuhnya tidur karena setiap bapaknya terbangun selalu ikut bangun untuk menawarkan minum kepada suaminya. Lalu jika suaminya ingin minum, langsung dituangkannya minum dari termos yang mereka bawa. Ah, di usia yang sudah tak muda, pasangan di depan saya ini sungguh romantis.

Layaknya kereta ekonomi pada umumnya. Banyak sekali pedagang asongan di kereta ini. Dari yang umum seperti jualan minuman dan makanan ringan sampai ada yang jualan wingko babat! Tentu yang jual juga menggunakan bahasa jawa. Namun yang menarik perhatian saya adalah banyaknya perempuan yang menjajakan sawo matang. Entah karena daerah ini penghasil buah sawo atau didatangkan dari daerah lain.

Selain pedagang, kereta ini juga dipenuhi dengan banyaknya pengamen yang mengamen secara berkelompok. Datang silih berganti dari satu kelompok ke kelompok lain. Sepanjang jalan hampir ada pengamen yang menyanyi di gerbong ini. Tapi yang membuat heran adalah lagu yang mereka nyanyikan sama. Sama-sama lagu menye-menye! Entah saya yang tidak update dengan lagu jaman sekarang atau emang lagunya yang tidak terkenal, lagunya sungguh benar-benar membuat saya ingin menutup telinga. Padahal suara pengamen dan kemampuan musik pengamen di kereta ini bagus-bagus. Sayangnya lagunya kok ya yang model seperti itu. Lama-lama saya gemes juga, lalu saya pasang headset di telinga kemudian menyalakan musik dari hp saya. Tiba-tiba sepenggal lirik lagu Jangan Ada Luka - Nicky Astria menggema di telinga saya. 

Ohh.. Rindu..
Rindu lagu tentang ketegaran jiwa
Ohh.. Jiwa
Jiwa yang menggeliat bukan gelisah

***

Kereta beberapa kali berhenti dari stasiun ke stasiun. Beberapa kali berhenti juga ketika harus bersinggungan dengan kereta pengangkut batubara. Perjalanan panas, sementara kaki harus bersesakan dengan penumpang lain. Di luar ya nampak hanya kebun yang gersang dan terik. Sungguh ini pengalaman yang tak ternilai harganya. Naik kereta ekonomi menyusuri daerah tengah yang membelah Sumatra Selatan. Keberuntungan mendapatkan tiket, bertemu dengan suami istri dari Jawa, pengamen lagu menye-menye.

Setelah 4 jam berlalu akhirnya sampai juga kami di Stasiun Muara Enim. Saya menjabat tangan dan berpamitan dengan bapak ibu di depan saya. Sang Ibu berpesan dengan tutur kata yang lembut untuk berhati-hati di perjalanan dan diberikan kemudahan. Mungkin itulah pertemuan pertama dan terakhir kami. Pertemuan singkat namun bagi saya penuh makna.

Saya, Hilmy dan Melyn beranjak keluar dari kereta.  Di luar, teman kami Tata dan keluarganya sudah menunggu. Dari Stasiun Muara Enim kami menuju ke rumah mereka di Tanjung Enim. Kira-kira menempuh waktu kurang dari 1 jam. Di dalam perjalanan tiba-tiba suara pengamen di kereta dengan lagu menye-menyenya mengantui saya. Sial.

Selasa, 06 Maret 2012

Semalam Menikmati Limex Sriwijaya


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (4)

kelanjutan dari : Terkunci di Stasiun Tanjung Karang 

Setelah antri hampir 2 jam di depan loket. Akhirnya kami bisa mendapatkan tiket juga. Kereta yang akan berangkat ini namanya kereta Limex Sriwijaya. Melayani jurusan Tanjung Karang sampai Palembang (Stasiun Kertapati). Kereta ini terdiri dari rangkaian gerbong kelas bisnis dan eksekutif. Kami memilih yang kelas bisnis untuk menghemat biaya. Tetapi kenyataannya, kereta bisnis di Sumatra ini sekelas kereta ekonomi di Jawa. Saya dan Hilmy bercanda, mungkin kalau di kelas eksekutif mirip dengan kelas bisnis di Jawa.

Begitu masuk ke dalam kereta, situasi kelas bisnis ini memang tak ubahnya kelas ekonomi. Banyak orang yang merokok, dan yang paling banyak adalah orang yang tidak duduk dikursi tetapi dengan alas koran mereka tidur dibawah kursi. Kereta belum berjalan tetapi semua orang sudah mencari tempat terbaiknya. Ada yang tiduran di kursi. Ada yang tiduran di bawah dan sela-sela kursi. Melihat pemandangan seperti ini nampaknya Hilmy heran. “Kok kereta bisnis seperti ini ya”. Tak ubahnya kereta bisnis, begitu pikir Hilmy. Tapi tak apa, kita akan menikmati perjalanan ini.

Kami bertiga duduk terpisah. 3 tiket yang kami punya ternyata hanya 2 tiket saja yang duduknya bersebelahan. 1 tiket lagi duduknya terpisah meskipun masih dalam 1 gerbong. Hilmy “ngalah” untuk duduk di kursi yang agak berjauhan itu. Sedang saya dan Melyn duduk bersebelahan. 

Pukul 21:00 kereta mulai berjalan perlahan. Saya tidak tau seperti apa kondisi di luar karena yang nampak dari jendela hanya gelap. Saya dan Melyn hanya tertegun melihat pemandangan di dalam kereta ini. Semua orang sedah menempatkan dirinya masing-masing. Mencoba terlelap mengikuti alur laju dari kereta ini. Saya mencoba untuk ikut tidur, namun mata ini rasanya tak bisa terpejam. Iseng-iseng saya pinjam “sleeping bag” punya Hilmy. Dengan sleeping bag ini, di sela-sela kursi saya mencoba tidur seperti penumpang lain.. Ternyata enak juga. Dengan sleeping bag dan bantal menggunakan sarung, saya langsung terlelap. Malam ini, di sebuah kereta di antara Tanjung Karang dan Palembang kami menikmati perjalan ini. Dengan semilir angin serta kegelapan di luar kami mencoba mengikuti alurnya. Saya terus tertidur dibawah, Melyn tertidur di kursi sedang Hilmy entah sedang apa di kursi bagian belakang. 

Kereta beberapa kali berhenti di stasiun pemberhentian. Banyak pedagang asongan yang masuk. Beberapa goncangan pada kereta seperti mengusik tidur. Saya dan Melyn mencoba bertukar posisi. Dia tidur di bawah dengan sleeping bag dan saya tidur di kursi. Tetapi sepertinya ia tidak bisa nyenyak tidur di bawah sehingga kami bertukar posisi lagi. Entah Palembang masih jauh atau sudah dekat, yang ada di luar masih gelap dan gelap.

***

Suasana di luar sudah mulai terang. Kereta masih melaju dan saya sudah terbangun. Melyn sepertinya juga sudah terbangun sedari tadi. Hilmy yang tadinya duduk di belakang sekarang sudah bergabung bersama. Entah kami sudah sampai mana, tapi sepertinya Palembang masih jauh. Jam sudah menunjuk pukul 6 pagi. Suasana fajar di luar begitu indah, warna langit yang biru kemerahan, dan matahari yang masih malu-malu untuk keluar dari peraduannya. Saya dan Hilmy kemudian duduk di sambungan antar gerbong. Rupanya ada juga penumpang yang duduk disambungan antar gerbong ini. Ada 3 orang yang sudah tua duduk disana, dari percakapannya bisa dipastikan mereka adalah orang Jawa yang sedang merantau ke Sumatra. Saya mencoba membuka percakapan. Mereka adalah para transmigran dari Jawa yang sudah bermukim lama di Pulau Sumatra ini. Logat jawanya masih kental. Melihat kakek dan nenek ini saya jadi ingat kakek nenek saya di kampung.

Kereta terus berjalan. Yang kami lihat diluar adalah tanaman sawit, pohon karet juga tanah kering yang penuh rerumputan. Kadang kala diselingi dengan alang-alang yang tinggi. Dari sela-selanya kami bisa melihat pancaran matahari pagi yang mulai merambat naik. Tetapi kereta ini sering juga berhenti. Di Pulau Sumatra ini, kereta penumpang harus “mengalah” dengan kereta pengangkut batubara. Jadi misal berpapasan dengan kereta batubara, maka kereta harus berhenti terlebih dahulu. Akhirnya setelah hampir 11 jam kami di kereta, tibalah kami di Stasiun Kertapati, Palembang. Ya, kami baru sampai di Palembang jam 8 siang. 

Hilmy berbincang dengan salah seorang penumpang di sambungan gerbong

Berpapasan dengan kereta pengangkut batu bara

Hilmy menikmati perjalananya haha

Suasana pagi dari dalam kereta

Keadaan di dalam kereta

Sepasang kakek nenek yang terpaksa duduk disambungan kereta

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...