Senin, 02 April 2012

Sahur Pertama di Kereta Sindang Marga


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (8)

 kelanjutan dari : Senja dan Durian Tanjungenim

Saya terbangun dan mendapati saya masih ada di sebuah ruang tunggu stasiun di Muara Enim, Sumatra Selatan. Nampaknya tadi saya tertidur dengan tas yang masih terpangku. Jam sudah menunjuk lebih dari pukul 12 malam. Suasana stasiun masih seperti tadi, sepi. Saya melihat Melyn dan Hilmy yang duduk agak berjauhan juga nampak lelah dan mengantuk.

Sudah nampak ada petugas datang, tapi loket juga belum di buka. Di dekat saya ada seorang bapak paruh baya yang nampaknya juga sedang menunggu. Selang beberapa saat kami mulai membuka percakapan dan berbincang. Nampaknya bapak ini akan menjemput anaknya yang sedang naik kereta ke Muara Enim. Bapak ini sudah lama tinggal di Sumatra tetapi asalnya dari Kroya, Jawa Tengah. Pertama kali ke Sumatra ketika ongkos bus dari Kroya ke Jakarta masih 8000 rupiah. Wah, tahun berapa itu ya. Pasti sudah lama sekali. 

Dengan kondisi terkantuk saya berbincang dengan bapak ini. Ia bertanya kepada saya tujuan saya ke Sumatra. Saya bilang saya bersama 2 kawan saya ingin keliling Sumatra. Bapak itu lalu bertanya tujuan kami keliling Sumatra untuk apa. Saya jawab kalau tujuan kami keliling ini untuk petualangan saja.

Nampaknya bapak ini sebelumnya mengira bahwa tujuan saya keliling Sumatra adalah untuk dakwah. Saya bertanya-tanya dalam hati, apa wajah saya ini ada aura pendakwah ya. Hahaha. Dengan tersenyum saya menjelaskan bahwa tujuan saya dan 2 kawan saya adalah untuk sekedar berpetualang saja.

Bapak itu lalu bercerita tentang organisasi yang diikutinya. Sambil setengah sadar karena kantuk saya sayup-sayup mendengarkan. Jadi bapak ini mempunyai organisasi keagamaan dimana organisasi itu sering mengirim orang untuk dakwah keliling. Mungkin karena hal itu pula, bapak ini mengira saya yang sedang berkeliling Sumatra ini sedang berdakwah juga. Tiba-tiba saya ingin melihat cermin malam ini.

Melyn dan Hilmy dari kejauhan saya lihat tersenyum-senyum. Mungkin mereka mendengar percakapan saya dengan bapak ini. Dan mereka membayangkan saya di tawari untuk ikut jihad. Di ujung percakapannya, mungkin hanya untuk memberi gambaran contoh saja, bapak ini berujar “Kalau mas mau ikut Jihad, misalnya ke Palestina. Nanti mas berangkat kesana, kebutuhan keluarga mas (anak dan istri) nanti di tanggung bersama oleh anggota-anggota organisasi”

Saya hanya tersenyum saja. Sampai kemudian kami saling diam dan tak berapa lama petugas membuka loket penjualan tiket. Jadi tiket di jual belakangan karena petugas harus memastikan bahwa kereta berjalan dan hampir sampai di Muara Enim ini. Tiket ke Lubuk Linggau masih tersedia dan baru kali ini saya membeli sebuah tiket kereta dan tiketnya di tulis tangan oleh petugasnya. Jadi tidak ada system cetak, yang ada ketika kami memesan 2 tiket bapak petugasnya menulis dengan tangan 3 tiket itu. Tiket kereta bisnis Sindang Marga seharga 60.000 rupiah dari Muara Enim sampai ke Lubuk Linggau. Sepertinya kami bertiga ini satu-satunya penumpang yang naik dari Stasiun Muara Enim.

Kereta belum datang dan kami harus menunggu lagi. Sembari menunggu saya mencari toilet di stasiun ini. Tapi nampaknya tidak ada toilet yang saya temukan. Melyn yang sepertinya ingin ke toilet bertanya kepada petugas tadi. Bapak petugas menunjukkan arah ke toilet sekaligus memberikan kuncinya yang ternyata ia pegang. Hahaha. Ternyata toiletnya ada 1 dan itu terkunci. Kirain ada toilet umum.

Menunggu agak lama, sesaat kemudian datanglah kereta yang kami tunggu sedari tadi. Kereta Sindang Marga menuju Lubuk Linggau. Jam di tangan menunjuk pukul 2 pagi. Padahal jadwal di papan pengumuman yang terpasang, kereta ini seharusnya berangkat dari stasiun ini pukul 23. Bapak petugas yang tadi menjual tiket itu menunjukkan di gerbong mana kami harus naik. “Terserah gerbong berapa saja yang penting kosong” begitu katanya. Saya jadi berpikir, yang membuka loket, menjual tiket, sampai menunjukkan gerbong adalah petugas yang sama. Saya melihat satu-satunya petugas yang ada di stasiun ya cuma bapak petugas satu itu. Jangan-jangan ia merangkap dari kepala stasiun, penjual tiket, penunggu stasiun sampai pengatur sinyal kereta. Hahaha

Kami bertiga kemudian masuk ke kereta. Ada sebuah gerbong yang tidak terlalu penuh sehingga kami bisa duduk leluasa di tempat itu. Tak berapa lama kereta jalan dan kemudian perlahan meninggalkan Stasiun Muara Enim menuju Lubuk Linggau. Saya terkantuk tetapi baru menyadari bahwa kami harus sahur. Ini adalah sahur pertama kami di Bulan Puasa kali ini. Di luar gelap entah menyusuri hutan mana. Hilmy katanya sudah kenyang makan nasi goreng di Pasar Muara Enim. Saya dan Melyn lantas membeli mie gelas dan menyedunya. Sahur pertama kami dalam perjalanan kali ini. Sangat sederhana, tapi mungkin ini akan membuat kami selalu mengenang perjalanan ini. Kereta, gelap, pedalaman Sumatra Selatan, dan mie gelas. Syahdu! 

sahur pertama di kereta antara Muara Enim - Lubuk Linggau

Tidak ada komentar:

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...