Tampilkan postingan dengan label kampung minangkabau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampung minangkabau. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juli 2012

Mampir Sekejap ke Padang...


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (16)

kelanjutan dari : Menjelang Sore di Bukittinggi

Pagi ini saya mengalami salah satu periode yang menyedihkan dalam perjalanan ini. Waktu ketika saya harus pamit dengan keluarga yang ada di Solok ini untuk melanjutkan perjalanan. Sudah lama kami tidak bertemu, hampir 17 tahun. Dan belum genap 2 hari kami bertemu, saya harus melanjutkan perjalanan lagi.

Jabat erat nenek di Solok dan seluruh keluarga benar-benar membuat saya berat untuk meninggalkan kota ini. Sambutan hangat mereka ketika kami datang membuat saya ingin tetap ada disini. Namun perjalanan di depan masih panjang. Setelah Saya, Hilmy dan Melyn pamit dan berjalan di jalan setapak depan rumah menuju jalan raya, saya menahan rasa keinginan saya untuk menengok ke belakang lagi. Bukan karena apa-apa, tapi pasti itu akan menambah kesedihan. Dalam hati, saya hanya berucap bahwa suatu saat saya pasti akan kembali lagi ke tempat ini. 

Pagi ini, dari Solok kami akan pergi ke Padang. Lalu sore harinya kami akan naik bus menuju ke Prapat, Sumatra Utara. Masih seperti tempo hari dari Padang ke Solok, perjalanan dari Solok ke Padang menggunakan Jasa Malindo lagi. Jalanan kering dan rusak, beberapa kali harus berhenti karena ada perbaikan jalan. Saya tidak menikmati perjalanan kali ini, mungkin karena masih terbawa perasaan sedih tadi. Hilmy dan Melyn juga tampak lebih banyak diam. Entah kenapa pagi ini terasa sayu bagi kami.

Sesampai di Padang kami kemudian turun di sebuah perempatan menjelang sampai kota. Dari perempatan, kami berpindah naik angkot untuk pergi ke agen Bus ALS. Maksud kami untuk datang terlebih dahulu ke agen bus ini selain untuk membeli tiket bus ke Prapat adalah untuk menitipkan tas-tas berat kami. Kami ingin sejenak menyusuri kota Padang dengan ringan.

Setelah sampai di agen, kami membeli 3 tiket bus jurusan Padang – Medan. Namun dengan rute yang melalui Prapat karena kami berencana untuk turun disana. Bus yang akan kami naiki berangkat pukul 2 siang. Sedangkan jam saat ini sudah menunjuk angka 10 lebih. Masih ada beberapa jam untuk pergi ke pusat kota Padang. Setelah menitipkan tas di agen bus ini, kami kemudian naik angkot menuju pusat kota Padang. Tidak ada yang kami tuju di kota Padang ini, hanya untuk melihat-lihat suasana kotanya saja.

Dalam perjalanan menuju ke kota, saya baru ingat bahwa ada teman saya yang sedang tugas kerja di kota ini. Namanya Polo, teman yang sudah beberapa bulan ini mengerjakan sebuah project di Sumatra Barat. Saya segera menghubunginya untuk minta bertemu. Kami janjian di sebuah tempat di dekat Polres Padang. Kami yang sudah hampir 4 tahun tidak bertemu akhirnya bisa bertemu kembali. Kini kami duduk berempat di sebuah taman di seberang Polres Padang. Sebuah taman dengan sebuah lapangan sepakbola di tengahnya. Tribun penonton lapangan bola itu atapnya khas rumah gadang. 



Dari lapangan, kemudian saya, Hilmy, dan Melyn diantar ke sebuah museum yang tidak jauh dari tempat itu. Namanya museum Adityawarman. Begitu akan masuk ke museum saya heran, karena masuk ke museum ini dikenakan biaya yang tidak lazim. Biaya untuk 1 orang dewasa adalah Rp.2050. Kenapa tidak digenapkan saja, bukankah saat ini sangat susah ditemukan uang Rp.50. Melyn yang penasaran bertanya kepada petugasnya kenapa harus pakai 50 rupiah? Petugas yang ada di loket menjelaskan bahwa 50 rupiah tadi adalah biaya asuransi. 

Dari bagian depan, Museum Adityawarman ini berbentuk khas rumah gadang besar. Di depannya ada sebuah tugu. Sebelum naik tangga masuk ke dalam, ada patung sepasang manusia mengggunakan baju tradisional khas Minang. Seperti kondisi museum pada umumnya di Indonesia, kondisi disini sangat sepi. Di dalam museum menyimpan berbagai macam koleksi sejarah dan budaya Minangkabau. Di ruang utama kami melihat berbagai miniatur rumah adat dan pelaminan yang dipakai untuk pengantin Minang dengan segala pernak perniknya. Juga berbagai tradisi yang ada di Minangkabau ini.

di depan musem

arca adityawarman

sudut museum


Entah kenapa badan saya lemas sekali, tidak ada gairah lagi untuk menyusuri museum ini. Polo, Hilmy dan Melyn kemudian berjalan dari ruangan ke ruangan. Saya memilih untuk duduk dan menunggu mereka di depan saja. Rasa-rasanya ingin makan, tetapi kami masih berpuasa hari ini.
Setelah mereka selesai mengunjungi semua ruangan, kami berempat keluar dari museum. Saya, Hilmy dan Melyn kemudian berpamitan dengan Polo. Kami akan pegi ke agen bus ALS, sedangkan Polo harus melanjutkan perjalanannya kembali.

Dengan sebuah angkot kami menuju ke agen bus ALS. Cuaca Padang siang ini sangat terik, rasa haus menggelayut di tenggorokan. Menjelang Agustus, jalanan sudah mulai berwarna merah putih. Banyak sekali penjual bendera di pinggir jalan. Di sebuah persimpangan menuju agen bus kami turun, lalu berjalan kaki menuju agen bus. Jalan yang tadinya kami pikir tidak jauh, nampaknya jauh juga. Panas dan lelah menambah emosi. Saya berjalan cepat di depan sementara Hilmy dan Melyn di belakang. Rasanya ingin cepat-cepat sampai ke agen bus. Pikiran rasanya sudah buntu. Sesampai di agen bus, saya langsung membeli air minum. Glek, glek, glek. Batal sudah puasa saya hari ini. Pikiran kemudian (rasanya) menjadi terang benderang lagi. Ah, godaan memang selalu nampak lebih indah.

Senin, 23 Juli 2012

Menjelang Sore di Bukittinggi..

*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (15)

kelanjutan dari : Danau Singkarak dan Padang Panjang 

Suasana berdesak-desakan di travel yang membawa kami dari Padang Panjang menuju Bukittinggi tidak begitu saya rasakan. Meski berdesak-desakan namun pemandangan di luar begitu indah. Gunung Singgalang disisi kiri memberikan panorama yang menyejukkan mata. Terlebih dengan aroma mobil yang diselimuti aroma durian. 

Selepas kota Padang Panjang, disisi kiri menuju Bukittinggi kami melewati sebuah papan nama bertuliskan Rumah Puisi Taufiq Ismail. Ada keinginan untuk turun dan berkunjung ke rumah puisi itu, namun diantara ragu akhirnya kami memutuskan untuk tidak turun dan melanjutkan perjalanan kami ke Bukittinggi.

Hampir satu jam ketika beberapa penumpang lain sudah mulai turun dan keadaan travel tidak sesesak sebelumnya. Menjelang masuk ke kota Bukittinggi, beberapa kali kami mengalami kemacetan. Kota ini lumayan ramai, tidak heran kalau menjadi kota yang paling padat penduduknya di Sumatra Barat.

Menjelang masuk tengah kota, pengemudi travel memberi tau kepada kami bahwa ia tidak bisa mengantar sampai ke Jam Gadang. Sehingga kami turun dan berpindah ke angkot agar bisa sampai ke Jam Gadang.

Hilmy sibuk membaca peta kota Bukittinggi di buku Lonely Planet yang ia bawa. Ia menyarankan kami untuk pergi ke Ngarai Sianok terlebih dahulu sebelum pergi ke Jam Gadang. Di sebuah perempatan diantara Jam Gadang dan Ngarai Sianok kami turun dari angkot. Kemudian berpindah angkot lagi menuju Ngarai Sianok.

Sekilas kota Bukittinggi ini adalah kota wisata. Bisa dilihat dari banyaknya penginapan juga wisatawan asing yang kami lihat berlalu-lalang. Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur di sepanjang pulau Sumatra. Kota ini berbukit-bukit (namanya juga sudah pakai bukit ya hehe). Hawa sejuk kami rasakan di kota yang berada pada tepi sebuah lembah bernama Ngarai Sianok ini.

Tak berapa kemudian angkot berhenti persis di pintu gerbang Taman Panorama Ngarai Sianok. Kami bergegas turun, namun sebelum masuk ke Ngarai, kami tertarik untuk masuk ke sebuah museum yang ada di depan Ngarai. Sebuah pesawat AT-16 buatan Amerika Serikat yang ada di depan museum membuat kami penasaran apa yang ada di dalam museumnya.

Namanya Museum Tri Daya Eka Dharma. Kondisi museum ini sangat sepi, hanya kami bertiga yang memasuki museum ini. Namun sesampainya di dalam ternyata pintu masuk museum terkunci. Tidak ada orang sama sekali di museum ini. Sampai pada akhirnya seorang yang masih muda dengan rambut cepak berperawakan tentara keluar dari bagian dalam museum ini. Ia bertanya kepada kami bertiga apakah akan masuk ke dalam museum. Kami mengiyakan bahwa kami akan masuk ke dalam museum. Lalu kami disuruh untuk mengisi buku tamu dan membayar biaya masuk museum seikhlasnya. Seumur-umur baru kali ini saya masuk ke museum yang retribusi masuknya seikhlasnya.

Di dalam museum disajikan berbagai macam persenjataan tentara Indonesia dan asing, termasuk alat-alat komunikasi untuk militer. Seperti museum-museum di Indonesia pada umumnya, kondisinya ya begitu-begitu saja. Selain kota wisata, Bukittinggi ini memang salah satu kota bersejarah di Indonesia. Bukittinggi pernah menjadi ibukota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang dipimpin oleh Syafruddin Prawinegara.

Keluar dari museum kami lalu masuk ke Ngarai Sianok. Kami berdecak kagum pada keindahan Ngarai ini. Sebuah lembah curam (jurang) yang membentuk patahan panjang dengan dinding curam bahkan ada yang tegak lurus. Membentuk lembah hijau dibawahnya dengan sungai kecil memanjang mengikuti alur dari Ngarainya. Di seberang Ngarai nampak Gunung Singgalang berdiri gagah.

Di dalam Taman Panorama Ngarai Sianok ini banyak kami temui pedagang-pedagang yang menjual oleh-oleh khas dari tanah Minang ini. Ada kain tenun, replika rumah gadang dan juga ada lukisan-lukisan dengan panorama khas Minang yang biasa saya lihat di rumah makan Padang.

Masih di dalam kawasan Taman Panorama Ngarai Sianok ini, kami kemudian masuk ke dalam Lubang Jepang. Dulu dalam masa penjajahan Jepang, karena lokasinya yang sangat strategis di tengah-tengah Pulau Sumatra. Bukittinggi dijadikan sebagai pusat komando pertahanan tentara Jepang di Sumatra. Jepang membangun tempat ini selain sebagai pertahanan, dipakai juga sebagai tempat untuk menyimpan amunisi dan perbekalan. Di dalamnya terdapat banyak ruang dengan berbagai macam keperluan tentara Jepang. Saya bergidik ngeri ikut turun memasuki lubang ini. Sampai dibawah suasana remang-remang, jalanan juga bercabang-cabang. Bangunannya sangat kokoh, seperti bangunan-bangunan Jepang lainnya. Bahkan gempa Sumatra Barat ditahun 2009 tidak merusaknya. Entah berapa romusha yang dikerahkan untuk ikut membangun lubang ini. 

salah satu lembah di Ngarai Sianok

Ngarai Sianok
sekitar Ngarai Sianok..

pelukis di Ngarai Sianok

Melyn :P

Tak berapa lama kemudian kami kemudian kembali naik. Saya dan Melyn lalu mencoba menghitung berapa jumlah anak tangga sampai ke atas. Namun antara haus dan lelah berjalan menanjak saya sudah tak mampu menghitungnya lagi. Ada ratusan anak tangga agar kami bisa sampai ke atas lagi. Sesampainya di atas, kami seperti sekelompok orang yang tanpa daya selepas bekerja begitu keras.



Lubang Jepang

Ngos-ngosan sehabis dari Lubang Jepang


Dari Taman Panorama Ngarai Sianok ini kami bergegas naik angkot lagi menuju ke Benteng Fort de Kock. Ini adalah sebuah benteng yang dibangun oleh Belanda di sebuah puncak bukit di Bukittinggi. Benteng ini dibangun tentara Belanda untuk menghadapai rakyat Minangkabau pada saat Perang Paderi. Dari atas bukit ini kita bisa melihat pemandangan kota Bukittinggi dari atas. Disekitar benteng ini kini dibuat menjadi sebuah taman yang hijau dan sejuk.

Dari benteng ini kemudian kami berjalan lagi menuju Jembatan Limpapeh. Jembatan ini menghubungan antara Benteng Fort de Kock ke Kebun Binatang Bukittinggi. Jembatan ini persis diatas sebuah jalan utama di Bukittinggi, Jalan Ahmad Yani.  Setelah sampai di kebun binatang ini, saya memisahkan diri dari Hilmy dan Melyn. Saya tidak suka dengan sebuah kebun binatang dengan konsep mengurung binatangnya. Bagi saya hal itu semacam penyiksaaan yang dipertontonkan. Saya duduk menunggu di depan pintu masuk kebun binatang dimana ada replika rumah gadang juga disini.

Selepas Hilmy dan Melyn berkeliling, kemudian kami bertemu kembali di depan pintu gerbang kebun binantang. Dari tempat itu kami kemudian berjalan kaki ke arah Pasar Ateh yang ada di dekat Jam Gadang.

Di dekat pasar kami mampir untuk shalat asar di Masjid Raya Bukittinggi. Saya dan Hilmy kemudian bergegas mengambil wudhu dan shalat asar. Suasana masjid begitu ramai, terlebih ini adalah bulan ramadhan. Selesai shalat berjamaah berdua kami keluar dari masjid. Saat kami keluar, banyak sekali orang yang berjalan masuk ke masjid. Dan tak beberapa lama kemudian terdengar adzan. Saya dan Hilmy berpadangan sambil bertanya-tanya. Kok baru adzan asar ya. Padahal kami mengira sudah asar sehingga kami langsung bergegas shalat asar. Nampaknya kami masih berpegang kepada jadwal shalat asar di Jawa, padahal ini sudah di Sumatra. Bahasa Belandanya kegasiken!

Di depan Masjid Raya Bukittinggi ada semacam pasar wisata. Namanya ‘Pasar Pabukoan Wisata Bukittinggi’. Di pasar ini dijajakan berbagai macam makanan khas Minang. Kondisi pasarnya sangat ramai dengan banyak orang yang membeli makanan untuk berbuka puasa. Ini seperti surganya kuliner makanan khas Minang. Kami kemudian membeli beberapa untuk bekal kami buka puasa hari ini.

Jembatan Limpapeh

Dari atas Jembatan Limpapeh




Dari pasar pabukoan ini kami berjalan lagi ke arah Jam Gadang. Menuju Jam Gadang kami melewati Pasar Ateh yang sedang ramai orang hilir mudik. Meskipun ramai, namun suasananya tetap saja nyaman. Akhinya, setelah putar-putar sampailah kami ke Jam Gadang. Sebuah menara jam sebagai simbol kota Bukittinggi. Kota bersejarah tempat kelahiran tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Hatta dan Agus Salim. 

Jam Gadang tahun 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai hadian dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, controleur Fort de Kock. Jam ini digerakkan secara mekanik oleh mesin yang di dunia hanya ada 2 yaitu Jam Gadang ini dan Big Ben di London Inggris. 




Namun sayang ketika kami sampai di Jam Gadang cuaca sangat mendung dan akhirnya turun hujan. Kami bertiga berteduh persis di sebuah bangunan di sekitar Jam Gadang. Lama berteduh namun hujan tak reda, akhirnya ditengah rintik hujan kami nekat mencari angkot untuk pergi ke Terminal Air Kuning. Terminal dimana kami harus mencari travel untuk kembali ke Solok. Sesampainya di Air Kuning hujan belum reda. Sementara travel ke Solok sore ini jarang kami temukan.

Kami bertiga berdiri di emperan toko sambil kedinginan. Di samping saya, ada ibu-ibu penjual es yang nampak cemberut dagangannya tidak laku karena hujan. Kadang hujan memang menyejukkan, namun ada kalanya hal seperti ini yang kami temui. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya kami menemukan travel menuju Solok. Kami bergegas masuk dengan kondisi baju agak basah. Menikmati perjalanan kami pulang ke Solok.

Di jalan menuju pulang, hari mulai gelap. Kami membatalkan puasa kami dengan jajan yang kami beli tadi di pasar dekat Masjid Raya Bukittinggi. Travel melaju dengan cepatnya, samar-samar diantara kegelapan saya melihat lagi Danau Singkarak di sisi kanan. Ah, hari ini saya merasakan banyak kesyahduan.

Danau Singkarak dan Padang Panjang


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (14)

kelanjutan dari : Manisnya Buka Puasa di Solok

Dulu, ketika belum pernah datang ke Sumatra Barat, saya selalu membayangkan bahwa daerah ini sangat indah. Keindahannya saya imajinasikan seperti lukisan-lukisan yang saya lihat di rumah makan Padang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.  Dalam lukisan-lukisan di rumah makan Padang biasanya digambarkan tentang indahnya rumah gadang, bukit-bukit, sawah-sawah dan danau.

Kini hal tersebut ada semua di hadapan saya. Dalam sebuah perjalanan menggunakan travel dari Solok ke Padang Panjang, semua imajinasi saya tentang lukisan itu kini benar-benar nyata. Diantara riuh rendah kecepatan travel dengan pengemudi yang terobsesi menjadi pembalap, saya berdecak kagum.

Di sisi kiri saya melihat Danau Singkarak dengan rumah-rumah gadang di tepiannya. Sementara gugusan bukit dan persawahan hijau yang lapang di sisi kanan begitu menyejukkan mata. Jalanan yang berkelok-kelok persis di pinggir danau nampak tidak terlalu ramai. Ah, saya kira ini salah satu puncak keindahan perjalanan kami ke Sumatra kali ini.

Hilmy dan Melyn duduk di depan samping pengemudi. Sementara saya duduk di belakang sambil termangu mendengar bapak-bapak berbicara dengan Bahasa Minang yang sama sekali saya tidak paham maksudnya. 

Di tepi Danau Singkarak, terlihat juga sebuah jalur kereta. Rel kereta penghubung antara Padang Panjang – Solok – Sawahlunto. Dulunya, jalur kereta ke Sawahlunto dibangun pemerintahan kolonial Belanda karena melihat Sawahlunto sebagai kota penghasil batubara. Sehingga jalur kereta ini lebih difungsikan sebagai jalur transportasi batubara. Namun ketika produksi batubara dari Sawahlunto ini sudah menurun, jalur kereta ini dipakai untuk kereta wisata. Salah satu kereta wisatanya bernama “Mak Itam”. Sayangnya kereta wisata ini hanya beroperasi pada akhir pekan sehingga kami tidak bisa mencobanya.

Merasakan lekak-lekuk tepian Danau Singkarak dengan pengemudi travel yang terobsesi menjadi pembalap sungguh membuat hati gundah gulana. Terlebih tadi malam nenek di rumah Solok bercerita tentang Danau Singkarak ini dari sisi ‘lain’. Beliau bercerita tentang beberapa kejadian mobil tercebur ke danau ini dan tidak dapat ditemukan. Juga tentang mistisnya danau ini. Mengingat cerita tadi malam dan merasakan pengemudi travel ini begitu ngebutnya, dalam hati hanya bisa beristighfar. Astaghfirullah yang berselang-seling dengan Subhanallah melihat indahnya danau ini.

salah satu sudut pasar diantara Solok - Padang Panjang

Tak berapa lama kemudian, gapura bertuliskan ucapan selamat datang di Padang Panjang nampak di depan kami. Di sebuah pertigaan setelah gapura kami turun dari travel untuk kemudian berganti ke sebuah angkot untuk menuju pusat kota. 

Saya memperhatikan di Padang Panjang ini banyak sekali sekolah dan universitas. Mungkin bisa disebut sebagai ‘kota pelajar’-nya Sumatra Barat. Suasana kotanya lebih ramai dibandingkan dengan Solok yang kami datangi sebelumnya. 

Di angkot kami bertanya-tanya kepada para penumpang lain bagaimana kami bisa sampai ke tujuan kami, Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minang (PDIKM). Seorang ibu dengan anaknya yang masih kecil memberi informasi detail bagaimana cara kami agar sampai kesana.

Untuk menuju ke PDIKM  kami harus berganti angkot lagi. Di angkot kedua, nampak 2 wanita muda yang jaim. Untuk memastikan kami tidak salah angkot, kami bertanya kepada mereka. Ternyata mereka juga punya tujuan yang searah dengan kami. Namun selepas pertanyaan itu, kami tidak melanjutkan percakapan lagi. Rasanya enggan untuk bertanya lagi ketika melihat wajah mereka yang begitu jaim. 

Tidak jauh dari pusat kota, hanya sekitar 15 menit sampailah kami ke tujuan kami. Sebuah gapura penunjuk Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minang (PDIKM) terpampang besar di pinggir jalan. Kami turun dari angkot untuk kemudian berjalan tidak seberapa jauh ke pintu gerbang PDIKM.





Sebuah bangunan besar bergaya Minang kini ada di depan kami. Antara perasaan takjub dan bersyukur bisa sampai di sini. Tempat ini begitu luas dengan banyak pepohonan dan rerumputan hijau. Di tengahnya berdiri gagah sebuah rumah gadang besar, seolah-olah menjadi simbol kejayaan Minangkabau dimasa lalu.

Padang Panjang Kota Serambi Mekah

Di depan PDIKM

Serombongan wisatawan asing nampak keluar dari dalam dengan bus yang sudah menunggu di luar. Saya, Hilmy dan Melyn bergegas masuk. Ini pengalaman pertama saya masuk ke dalam rumah gadang. Melewati tangga depan, kami masuk ke anjungan. Anjungan adalah bagian yang lebih tinggi dari bagian dasar rumah, ditandai dengan adanya anak tangga.

Di dalam saya merasakan agak goyang dengan suara berderit. Mungkin karena baru pertama kalinya. Kalau diibaratkan ini rumah yang dihuni sebuah keluarga, setiap ada orang yang berjalan menghentak, seluruh anggota keluarga akan merasakan.


Di dalam bangunan utama ini, disajikan beberapa cerita sejarah Minangkabau yang terdapat pada koleksi-koleksi fotonya. Ada juga perpustakaan dengan koleksi buku-buku sejarah Minangkabau. Termasuk tentang berbagai macam model rumah gadang dan asal muasalnya. Salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Sumatra Barat Moh Hatta, mendapat apresiasi yang sangat baik di tempat ini. 

Kami kemudian turun ke lantai dasar. Di lantai dasar ini disajikan beberapa pakaian tradisional Sumatra Barat. Karena tidak ada orang yang menunggu di lantai dasar ini maka kami iseng-iseng mencobanya. 








Selepas dari bangunan utama ini, kami kemudian bergegas keluar untuk melanjutkan perjalanan kami ke Bukittinggi. Melewati pintu lain yang berbeda dengan pintu masuk kami tadi, kami melewati sebuah jembatan gantung yang indah. Sungguh tempat ini menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan menjadikannya indah.

Kemudian kami kembali ke jalan raya untuk menunggu transportasi ke Bukittinggi. Jalan raya di dekat PDIKM ini adalah jalan raya penghubung antara Padang – Padang Panjang – Bukittinggi. Seorang ibu pemilik warung di pinggir jalan sekitar PDIKM menunjukkan cara kami untuk pergi ke Bukittinggi. Untuk pergi ke Bukittinggi, ibu itu menyarankan kami untuk naik travel yang banyak lewat di jalan ini. Travel yang dimaksud ibu ini adalah mobil-mobil plat hitam (rata-rata model avanza, xenia dan apv) yang melayani rute Padang – Bukittinggi.

Tak berapa lama, sebuah mobil APV berhenti. Kami kemudian naik ketika sudah ada beberapa penumpang di dalamnya. Mobil ini agak penuh sesak dengan penumpang hampir lebih dari 10 termasuk anak-anak. Di tengah sesak penumpang itu kami mencoba menikmatinya. Namun yang membuat saya tidak terlalu mengeluh dengan sesaknya bus ini adalah aroma durian di mobil ini. Sebelumnya saya kira ini adalah parfum mobil yang rasa durian. Namun ternyata aroma durian itu berasal dari buah durian yang sebenarnya. Dibagian belakang mobil,ada seorang ibu yang membawa durian dengan jumlah banyak untuk dijual di Bukittinggi. Bau durian menghinggapi seluruh bagian mobil. Bau durian ini sungguh enak, bisa dipastikan isinya tak kalah enaknya. Seenak durian yang saya rasakan di Muaraenim tempo hari. Saya dan Melyn senyum-senyum dengan semerbak durian ini karena kami sama-sama suka durian. Sedangkan Hilmy tertunduk lesu, entah karena mual atau karena apa. Ia masih tidak suka durian dan mungkin sangat tersiksa dengan aroma ini.

Tapi percayalah, dalam suatu perjalananan di lain tempat nanti, ia akan makan durian untuk pertama kali dalam hidupnya. Karena durian Sumatra nomor 1 di kelasnya

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...