Kamis, 07 April 2011

Cerpen Pertama - Belum Ada Judul :))

Senja ini suasana nampak temaram, perlahan-lahan kereta yang kutumpangi ini berjalan. Meninggalkan Stasiun kemudian melaju mengikuti lajurnya. Aku duduk di ujung gerbong pinggir jendela yang nampak kusam karena usia. Berat rasanya meninggalkan kota ini, kota yang selama 8 tahun mengisi setiap catatan harianku. Di mulai dari kerja serabutan sebagai loper koran, tukang parkir, ojek payung. Sampai kemudian di terima kerja paruh waktu sebagai kasir di restoran cepat saji sehingga dapat melanjutkan pendidikan untuk kuliah, di luar waktu kerja.

Kemarin aku resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Ya, aku berkuliah di Fakultas Pendidikan dan sejak awal aku niatkan ingin menjadi guru di kampung sesudah lulus kuliah. Kini keinginanku sudah tercapai. Setelah peluh, juga keluh kesah kadang mengisi hari-hariku bekerja sekaligus kuliah di Kota. Kini saatnya aku pulang dan mengabdikan diriku menjadi guru Sekolah Dasar di kampung. Kereta ekonomi ini terus melaju, diiringi gegap gempita pedangan asongan juga penyedia jasa lainnya. Pikiranku sudah meloncat-loncat ingin segera sampai di kampung. Bertemu sanak saudara serta melepas penat kehidupan ibukota yang selama ini aku jalani.

Kereta ini terus melaju, suasana di luar sudah mulai gelap. Namun hujan yang menyertainya membawaku pada kilatan masa lalu sebelum aku meninggalkan kampung. Suasana 8 tahun lalu yang membawa kisah panjang, penuh retorika. Namun seperti kisah cinta remaja pada umumnya, yang responsive juga penuh ledakan-ledakan kecil keindahannya.

… 8 Tahun lalu :
“Marni, tak usah menangis. Bukankah kita pernah berjanji bahwa kita harus jadi orang yang berhasil? Aku harus merantau seperti laki-laki desa lainnya. Yang bekerja di kota kemudian membawa uang untuk anak dan istrinya. Aku ingin kerja dan aku ingin kuliah demi masa depan kita” aku mencoba meyakinkan
“Iya, tapi apa harus ke kota? Bukankah bisa kerja di desa saja, di kota tetangga juga masih ada tempat untuk kuliah” Marni mencoba bertanya
“Tapi mau kerja apa kita di desa? Menjadi buruh tani dengan penghasilan tidak tentu yang hanya ramai pada musim tanam juga panen. Bagaimana aku bisa melanjutkan kuliah?” Aku mencoba realistis
“Iya, tapi aku takut kalau kamu pergi ke kota kamu akan berubah? Aku takut kamu seperti Kang Parno, Kang Budi juga orang-orang lain yang terpikat kepada kehidupan kota sehingga mencampakkan anak dan istri mereka”
“Marni, percayalah. Aku akan jaga sikap juga hati. Ketika kamu meyakini aku akan pulang membawa berita baik untuk kita, membawa cinta kita juga kesungguhan kita untuk menjalani hubungan ini. Aku akan kembali. Akan ada fase dimana kita harus berjuang untuk kehidupan juga ada fase dimana kita bisa melihat kehidupan ini secara utuh dengan senyum kebahagiaan”
“Iya, tapi kamu harus janji. Kamu akan datang, untuk kita.”
“Pasti aku akan datang. Aku ingin kamu percaya, seperti keyakinanku agar kita bisa menjalani kehidupan yang lebih baik” Aku menegaskan
“Kamu janji?” Marni kembali bertanya
“Aku janji, di atas bukit ini, di tengah rintik gerimis ini. Aku pasti kembali, dengan keyakinan kamu juga akan menungguku kembali. Pada suatu hari di mana semua nampak berbeda, namun hati kita masih sama. Seperti cinta yang menyatukan kita saat ini”
“Iya, aku akan menunggu kamu dan takkan ada yang bisa menggantikan kamu. Sampai suatu saat kehidupan masing-masing dari kita membaik dan kamu mengucap janji suci di depan Ayahku untuk kehidupan kita selamanya”
“Aku janji..”
Sore yang syahdu itu mengalun, Marni dengan berat hati melepasku di agen bus yang tak jauh dari desa kami. Keinginanku untuk kehidupan kami di masa datang yang lebih baik memaksaku untuk pergi ke kota. Menyambung kehidupan juga mewujudkan cita agar aku bisa kembali ke desa. Untuk keluargaku juga Marni yang akan menungguku.


*****
Kereta masih melaju setengah perjalanan menuju ke kotaku ketika bayangan Marni tiba-tiba muncul di tengah hujan yang menghiasi. Marni, sosok di kehidupanku sejak kami masih duduk di SMA. Kita berpisah sore itu di agen bus yang mengantarku ke Ibukota. Tangisnya meledak saat melepasku, tapi keyakinan di hati kami masing-masing membawa kami untuk sebuah keyakinan yang lain yang lebih baik. Sejak aku pergi, kami masih terus berkomunikasi jarak jauh sampai 6 bulan kemudian Marni mengirim surat kepadaku. Surat terakhir itu berisi bahwa Ayahnya tak menyetujui hubungan kami serta melarang kami untuk berkomunikasi entah apa alasannya. Semenjak saat itu suratku untuk Marni menjadi surat yang tak berbalas. Kata-kataku menjadi angin, karena tak pernah terdengar dimana tujuan. Hatiku gelap tanpa pencerahan. Dia menghilang entah dimana. Aku ingin berontak saat itu, tapi aku masih percaya bahwa Marni masih memegang janjiku juga janjinya. Kita akan ada pada altar yang mengikat kami selamanya. Aku masih terus berjuang, untuk Marni. Aku masih berharap untuk Marni, meski aku tak tau dimana saat ini.

Kini aku sudah sampai di kampung halaman, bertemu keluargaku juga kerabatku. Tapi tak kujumpai Marni. Entahlah, tak tau kenapa aku masih mengharap dia. Dari kerabat-kerabat dan tetangga di kampung mereka tak mengetahui keberadaan Marni. Kata mereka, Marni dan keluarganya di usir dari kampung ketika keyakinan keluarga mereka berbeda dengan mayoritas penduduk kampung. Rumahnya di bakar tak tersisa. Aku makin hancur, motivasiku akan kehidupan yang aku cari di ibukota kini entah kemana. Aku ingin mencari, tapi entah kemana. Aku mengetuk pintu mimpiku untuk tau dimana Marni. Aku datangi paranormal kelas ‘ecek-ecek’ sampai paranormal yang sudah melek teknologi karena sudah membuka iklan online. Tapi mereka tak mendapat petunjuk dimana Marni. Aku berjalan dan terus berjalan mencari, sampai di bukit dimana kami berpisah aku terpaku. Di tengah hujan yang memisahkan kami aku bersujud. Andai dia ada juga merasakan getaran ini. Ingin aku terjun menerjang hujan untuk bertemu Marni. Tapi tetap saja tak bisa kutemukan Marni..

Lama-lama aku tak kuasa, aku harus kembali ke tujuan awal kehidupanku. Kini aku menjadi guru sekolah dasar sesuai cita-citaku dulu. Entah untuk Marni entah tidak, aku tak tau. Hati ini kosong. Kini aku mengajar di sebuah SD yang jauh dari kampungku. Karena aku guru paling muda di sekolah tersebut, aku di berikan tugas untuk mengajar kelas 1. Tiap hari kucurahkan sepenuhnya perhatianku untuk murid-muridku, entah apa alasannya. Mungkin untuk melupakan Marni. Hari berganti hari semua nampak berjalan begitu saja. Aku diberkahi anak-anak didik yang pintar, lucu dan menggemaskan. Meskipun ini pengalaman pertamaku mengabdikan diriku menyalurkan ilmu yang sudah aku terima selama kuliah.

Hari ini hari yang di tunggu murid-muridku di kelas. Ini hari pertama mereka mendapat raport semester 1. Dua malam aku begadang untuk mengoreksi nilai ujian serta menulis manual raport mereka. Ini juga hari yang aku tunggu, karena setelah ini aku bisa libur semester. Persiapan untuk membagi raport sudah selesai, nilai sudah komplit, rangking sudah aku urutkan dari rangking pertama. Undangan orang tua murid untuk mengambil raport sudah dibagikan.

Kini aku duduk di depan kelas bersiap membaginya. Anak-anak serta orangtuanya masing-masing sudah berkumpul. Aku akan memanggil orangtua dari anak yang memperoleh rangking pertama kemudian kedua dan seterusnya. Ku ambil raport paling atas, kusebut nama siswi yang rangking 1 dengan lantang, “Untuk rangking 1 semester ini di peroleh oleh ananda Nisya Putri putri dari Bapak/Ibu Malik, untuk orangtua atau wali di harap maju kedepan” Suara tepuk tangan membahana seisi kelas disertai derap langkah orang tua anak yang maju kedepan. Tapi entah kenapa tanganku kaku, kakiku serasa lumpuh melihat siapa yang maju ke depan. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Aku tau ini bukan mimpi, tapi apakah ini menjadi ending untuk perjuanganku selama ini.

Aku diam terpaku. Matanya nampak sayu, menunduk syahdu. Dia masih seperti dulu, dia Marni. Mengambil raport untuk anaknya. Aku tak percaya akan hari ini, aku juga tak percaya apakah matahari akan terbit besok.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

usul judul:
janji marni hanya sekedar janji

judi bola mengatakan...

di kasi judul dong biar jadi bagus

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...