Jumat, 22 Juni 2012

Manisnya Buka Puasa di Solok


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (13)

kelanjutan dari : Bus Gila dan Teluk Bayur
 
Semilir angin sore begitu menyejukkan. Akhirnya setelah berhari-hari berderu di atas kendaraan, kini kami bisa beristirahat sejenak. Menyeka keringat kami di sebuah kampung di tanah Minang. Menunggu waktu berbuka di hari kedua bulan puasa tahun ini. Di pinggiran Kota Solok, Sumatra Barat ini kami melepas lelah kami.

Empat puluh tahun lalu, adik kakek saya yang baru berumur 20 tahun ketika itu merantau untuk menjadi guru sekolah dasar di Pulau Mentawai, Sumatra Barat. Lama tinggal di Sumatra Barat, adik kakek saya ini akhirnya menikah dengan gadis Minang yang dikenalnya disini. Sejak saat itu, beliau akhirnya menetap dan tinggal disini bersama keluarganya. 

Dan di rumah kakek saya ini kami bertiga transit. Mereka menyambut kami dengan hangat, dengan keramahan dan logat bicara orang Minang yang begitu enak didengar. Baru pertama kali saya mengunjungi rumah adik kakek saya ini. Sebelumnya, saya pernah bertemu dengan keluarga ini ketika mereka berkunjung ke Jawa waktu saya masih kecil, kira-kira 17 tahun yang lalu. Kini setelah sekian lama akhirnya saya dipertemukan kembali dengan keluarga ini. 

Yang membuat saya sedikit trenyuh adalah ketika mendapati album foto di rumah ini. Di dalamnya masih tersimpan foto mereka sekeluarga ketika mereka berkunjung ke Jawa, termasuk foto saya ketika kecil. Saya sangat bahagia mendapati foto-foto saya ini. Dan tentu saja saya bahagia mereka masih menyimpannya.





Akhirnya adzan magrib yang ditunggu-tunggu berkumandang juga. Waktunya berbuka puasa. Dan tentunya, yang membuat buka puasa kali ini begitu istimewa adalah menu makanan khas Minang. Kalau kami biasa menikmati masakan Padang/Minang di Jawa, kini kami bisa menikmatinya langsung di Tanah Minang.

Saya, Hilmy dan Melyn begitu lahap menikmati buka puasa ini. Tentu ini akan menjadi salah satu menu buka puasa yang istimewa dalam perjalanan kali ini karena hari-hari kedepan kami harus menikmati buka puasa di jalanan lagi.

Rasanya kami tidak ingin beranjak sebelum semua yang tersaji ini habis. Rendang dan barisannya masih saja memaksa kami untuk menengok mereka. Selesai makan, kami beranjak pergi ke masjid dekat rumah untuk shalat tarawih. Ini shalat tarawih pertama kami setelah malam-malam sebelumnya kami ada di jalan.

Dalam sebuah perjalanan, tentu kita akan bertemu dengan manis dan pahitnya sebuah etalase kehidupan. Dan malam ini kami sedang menikmati sedikit manisnya.
Di sebuah kampung di Solok, Sumatra Barat. Saya menemukan masa lalu saya ada dalam album foto. Juga menemukan manisnya sebuah persaudaraan.

1 komentar:

Hilmy Nugraha mengatakan...

rendangnya mantap. minang asli.

ah, aku rindu simbah dan solok.

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...