Selasa, 31 Agustus 2010

Jakarta Pagi Ini

Jakarta, 2 Juli 2010

Pagi ini berjalan dengan penuh tergesa-gesa. Di sebuah kamar dengan gravitasi yang berada di lantai 11 aku membangunkan diri. Hari ini kau harus kembali dari keramaian ibukota. Sepiring nasi, ikan, serta secangkir teh sempat mengisi perut sebelum check out. Di sudut lobby, senyum manis khas orang Indonesia timur dari petugas menyambutku. Dengan cekatan beliau mengerjakan administrasinya. Setelah semua selesai, dengan masih menahan kantuk aku berjalan keluar. Sesampai di ujung jalan segera kupanggil tukang ojek yang sudah berjejer di perempatan.

Setelah tawar menawar ongkos dengan tukang ojek yang logatnya khas Banyumas bagian selatan, kesepakatan harga di sepakati. Langsung aku duduk di jok di belakang ojek. Lalu lintas jakarta menyambut seperti biasa. Letupan suara gas kendaraan yang berirama, seperti  menyiratkan kesombongan yang dalam. Ini Jakarta, tempat dimana asa jutaan manusia Indonesia tertambat. Lampu merah tak lebih dari sekedar penghias. Dari keramaian & kemacetan ini seharusnya aku bersyukur, tak setiap hari aku mengalaminya. Harusnya aku bersyukur masih memacu kendaraanku dengan cepat jam berapapun di Semarang.

Kira-kira 10 menit, sampailah di Stasiun Gambir. Sebenarnya dulu sering lewat depan stasiun. Tapi baru kali ini masuk ke dalam. Stasiun Gambir mengingatkanku akan permainan monopoli edisi nasional yang sering aku mainkan waktu kecil. Stasiun Gambir dalam permainan monopoli ada di 2 kotak setelah Start di samping Monas, satu blok area dengan Bogor. :) Sesampai di Gambir langsung naik ke Bus Damri Bandara, tak lama kemudian bus segera berangkat. Di kanan kiri sepanjang perjalanan kulihat banyak gedung menjulang, inilah tempat dimana orang-orang berpacu dengan waktu tiap hari demi sebuah kehidupan yang banyak fase-nya.

Satu jam berlalu sampailah di Bandara, tempat dimana 2 Proklamator Bangsa di abadikan namanya. Seperti bandara pada umumnya, lalu lalang banyak orang dengan denotasi yang berbeda-beda. Inilah pintu gerbang Indonesia, sebuah gapura ketika orang-orang manca akan mengunjungi Indonesia. Setelah check in dan sebagainya, akhirnya sampai juga di ruang tunggu. Selang beberapa menit kami di persilahkan untuk masuk ke dalam pesawat.

Setelah semuanya siap, mulai berjalanlah itu pesawat. Bismillah gumamku dalam hati. Pesawat mulai naik perlahan. Ketika sudah dalam posisi normal, ku coba melihat keluar dari jendela. Subhanallah, pemandangannya begitu bagus siang itu, cerah dan pemandangan di bawah begitu jelas kelihatan. Dari atas terlihat kota Jakarta dengan jelas, dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Bahkan sesaat terlihat monas dengan 4 cabang jalannya. Selama beberapa kali naik pesawat, inilah pemandangan terbaik yang pernah ku lihat.

Duduk di sampingku 2 orang bule yang sibuk memegang peta Indonesia di tangannya. Sekilas dari obrolannya mereka adalah 2 backpaker yang sedang berkeliling Indonesia. Hmm.. Aku jadi berfikir, kapan ya aku bisa cuti dari kerjaanku, berkeliling Indonesia. Menjangkau Belawan, Padang, Sampit, Labuan Bajo, Manado sampai Raja Ampat. Beberapa saat kemudian disebelah kananku terlihat 3 gunung yang berjajar. Yup, aku bisa memastikan kalau itu adalah Gunung Slamet, Sindoro, & Sumbing. Pegunungan dimana basic kehidupanku dibentuk.

Sesaat kemudian pesawat mendarat setelah agak lama berjalan-jalan di udara karena Bandara di Semarang yang sedang sibuk untuk latihat pesawat kemiliteran. Konyol, jalan-jalan kok di udara. Setelah turun, bergegas aku langsung kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan bandara sampai ke kantor, ku putar lirih sebuah lagu tempo dulu :
"Ke Jakarta aku kan kembali.. Walaupun apa yang kan terjadi... " ( Koes Plus )

Jumat, 18 Juni 2010

Sang Penghibur

Setiap perkataan yang menjatuhkan
Tak lagi ku dengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela
Tak lagi ku cerna dalam jiwa

Aku bukanlah seorang yang mengerti
Tentang kelihaian membaca hati
Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
Tuk merubah nasibnya…

Oh… bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya

Ku gerakkan langkah kaki
Di mana tempat akan bertumbuh
Ku layangkan jauh mata memadang
Tuk melanjutkan mimpi yang terutuh
Masih ku coba mengejar rinduku
Meski peluh membasahi tangan
Lalah penat tak menghalangiku
Menemukan bahagia

O… O…
Bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya

Oo..
Bukankah ku bisa melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya

Bukankah hidup ada penghentian
Tak harus kencang terus berlari
Ku helakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali…
Berlari kembali..
Melangkahkan kaki
Menuju cahaya

Bagai bintang yang bersinar
Menghibur yang lelah jiwanya
Bagai bintang yang berpijar
Menghibur yang sedih hatinya

Sang Penghibur - Padi

Ya Sudahlah

Juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang
Bagai deras ombak yang menabrak karang
Namun ku tahu.. Ku tahu kau mampu tuk tetap tenang
Hadapi ini bersamaku hingga ajal datang
Ya Sudahlah - Bondan Prakoso & Fade 2 Black

Jumat, 07 Mei 2010

Senandung Orang Proyek

Tiap malam, setiap waktu untuk nongkrong di angkringan saya selalu memandang kesuatu sudut. Sudut itu ada dibawah pohon rindang, lurus dengan penjual VCD bajakan yang memutar dangdut dan lagu lama seangkatan Koes Plus dan Obbie Messakh. Sudut itu tiap malam menjadi pelepas penat buat banyak orang. Dibawah rindangnya pohon itu, selalu berkumpul orang-orang pekerja proyek. Mereka pekerja dari luar kota yang mengadu nasib menjadi tukang bangunan yang dibayar harian, membangun sebuah bangunan di Semarang. Ba'da maghrib mereka melepas lelah dengan duduk dibawah pohon, berkaca lurus pada penjual VCD. Mencoba menerawang keluarga mereka di kampung dengan nyanyian-nyanyian syahdu.

Aku kagum dengan mereka, dengan semangat mereka, dengan kerendahan hati mereka. Kagum dengan perjuangan mereka untuk impian keluarga-keluarga mereka di kampung. Aku ingin seperti mereka, menjadi pelita bagi keluarga dan anak-anak mereka.

Efek Pekerjaan

Sejak lulus STM alhamdulillah saya selalu bekerja di dunia Telekomunikasi. Dunia telekomunikasi ini dunia yang tidak pernah berhenti bergerak. Bagi saya yang ada di teknik, service kepada pelanggan harus tetap berjalan, tak peduli itu hari libur, hujan besar, dini hari. Suatu perangkat telekomunikasi yang sudah live, harus terus hidup sepanjang perangkat itu masih dipakai. Perangkat-perangkat ini akan terus selalu upgrade sejalan dengan perkembangan dan teknologi baru. Serta yang paling penting adalah perangkat itu bisa mengikuti dinamika pasar telekomunikasi. Kondisi pasar telekomunikasi sendiri sangat fluktuatif, terlebih di Indonesia dengan tingkat persaingan pasar yang sangat tinggi.  

Sudah 2 tahun ini saya bertugas di kantor ini. Tepatnya di bagian core network, spesialisasi saya adalah MSS/MGw Engineer. Saya bekerja sama dengan tim, yang terdiri dari 3 orang. Kami menghandle sekitar 17 node yang menghandle area Jawa Tengah. Pekerjaan ini mengharuskan saya untuk standby pada hari kerja, dan 7 x 24 jam ketika saya oncall. Pada saat oncall, jam berapapun ada trouble yang diinfokan dari NOC (Network Operation Center) saya harus menghandle alarm tersebut. Untuk alarm-alarm minor mungkin bisa dibaikan dan ditunda sampai jam kerja, tapi untuk alarm-alarm yang critical dimana mempengaruhi traffik dan service kepada pelanggan maka harus diselesaikan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya :)). Misalkan di tengah malam, ada info trouble dan itu alarm critical maka kita harus cepat-cepat untuk menyelesaikannya, misal tidak bisa di remote dari kost maka kita harus datang ke kantor saat itu juga.

Dulu, awal-awal disini menghadapi trouble-trouble ini saya agak gugup. Tapi mungkin gugup yang positif. :) Menerima trouble, saya buru-buru datang ke kantor dan menyelesaikannya meskipun itu jam 11 malam dan posisi hujan. Saya begitu menikmatinya. Tapi ketika sekarang sudah 2 tahun disini, rasanya biasa-biasa saja. Ketika ada trouble malam yang "kurang" urgent, saya seakan-akan malas untuk datang ke kantor. Mungkin karena jenuh. Padahal kalau mau berfikir dengan logika hal ini sangat tidak dibenarkan. Misalnya ada perangkat saya yang trouble dan mungkin pelanggan akan merasakan efeknya, misalnya susah call dan sebagainya. Misalnya 1 pelanggan yang ada di area yang mengalami trouble itu adalah ibu hamil yang sudah mau melahirkan. Sedangkan dia tidak bisa menelepon ke dokter / rumah sakit untuk menolong kelahirannya karena jaringan yang sedang ada trouble. Wah betapa saya merasa bersalah kalau seperti itu.

Tapi bayangan perandaian itu saya jadikan patokan. Bahwa seberapa kecilnya efek trouble itu pasti ada efeknya kepada pelanggan. Padahal banyak hal yang menggangu pelanggan ketika mereka tidak bisa menerima layanan dengan baik. Mudah-mudahan dengan ini saya semakin semangat kerjanya. Memberikan layanan terbaik yang saya bisa berikan ke pelanggan. Minimal pahala dari mereka yang bisa bersilaturahmi dengan jaringan ini kecipratan juga untuk saya.. Amin.. :)

Merinding

Banyak hal dalam hidup yang membuat hidup kita berwarna. Banyak juga kejadian yang membuat kita bangga, senang bahkan sampai merinding. Ada banyak hal yang membuat saya merinding setiap mengalaminya.

1. Mendengarkan Lagu Indonesia Raya dinyanyikan puluhan ribu suporter dalam 1 stadion ketika menonton pertandingan sepakbola


2. Mendengar suara nyanyian suporter sepanjang pertandingan di stadion


3. Menonton pertandingan bulutangkis tim nasional Indonesia 

Rabu, 05 Mei 2010

Glenn Fredly - Pada Satu Cinta

Masihkah mungkin
Ku kembali tuk mengisi harimu
Yang jelas hati
Ku tak lagi sanggup jauh darimu

Chorus:
Aku kan berjanji
Takkan mengulang segala kesalahan
Aku kan mengabdi
Pada satu cinta dan itu dirimu
Jujur ku hanya seorang lelaki
Yang terkadang tak lepas dari goda

Harus kumiliki
Kesempatan tuk menyayangmu lagi

Chorus:
Aku kan berjanji
Takkan mengulang segala kesalahan
Aku kan mengabdi
Pada satu cinta dan itu dirimu
Jujur ku hanya seorang lelaki
Yang terkadang tak lepas dari goda

Kulihat kau ragu
Adakah yang telah mengganti aku

Chorus:
Aku kan berjanji
Takkan mengulang segala kesalahan
Aku kan mengabdi
Pada satu cinta dan itu dirimu
Jujur ku hanya seorang lelaki
Yang terkadang tak lepas dari goda

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...