Selasa, 06 Maret 2012

Semalam Menikmati Limex Sriwijaya


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (4)

kelanjutan dari : Terkunci di Stasiun Tanjung Karang 

Setelah antri hampir 2 jam di depan loket. Akhirnya kami bisa mendapatkan tiket juga. Kereta yang akan berangkat ini namanya kereta Limex Sriwijaya. Melayani jurusan Tanjung Karang sampai Palembang (Stasiun Kertapati). Kereta ini terdiri dari rangkaian gerbong kelas bisnis dan eksekutif. Kami memilih yang kelas bisnis untuk menghemat biaya. Tetapi kenyataannya, kereta bisnis di Sumatra ini sekelas kereta ekonomi di Jawa. Saya dan Hilmy bercanda, mungkin kalau di kelas eksekutif mirip dengan kelas bisnis di Jawa.

Begitu masuk ke dalam kereta, situasi kelas bisnis ini memang tak ubahnya kelas ekonomi. Banyak orang yang merokok, dan yang paling banyak adalah orang yang tidak duduk dikursi tetapi dengan alas koran mereka tidur dibawah kursi. Kereta belum berjalan tetapi semua orang sudah mencari tempat terbaiknya. Ada yang tiduran di kursi. Ada yang tiduran di bawah dan sela-sela kursi. Melihat pemandangan seperti ini nampaknya Hilmy heran. “Kok kereta bisnis seperti ini ya”. Tak ubahnya kereta bisnis, begitu pikir Hilmy. Tapi tak apa, kita akan menikmati perjalanan ini.

Kami bertiga duduk terpisah. 3 tiket yang kami punya ternyata hanya 2 tiket saja yang duduknya bersebelahan. 1 tiket lagi duduknya terpisah meskipun masih dalam 1 gerbong. Hilmy “ngalah” untuk duduk di kursi yang agak berjauhan itu. Sedang saya dan Melyn duduk bersebelahan. 

Pukul 21:00 kereta mulai berjalan perlahan. Saya tidak tau seperti apa kondisi di luar karena yang nampak dari jendela hanya gelap. Saya dan Melyn hanya tertegun melihat pemandangan di dalam kereta ini. Semua orang sedah menempatkan dirinya masing-masing. Mencoba terlelap mengikuti alur laju dari kereta ini. Saya mencoba untuk ikut tidur, namun mata ini rasanya tak bisa terpejam. Iseng-iseng saya pinjam “sleeping bag” punya Hilmy. Dengan sleeping bag ini, di sela-sela kursi saya mencoba tidur seperti penumpang lain.. Ternyata enak juga. Dengan sleeping bag dan bantal menggunakan sarung, saya langsung terlelap. Malam ini, di sebuah kereta di antara Tanjung Karang dan Palembang kami menikmati perjalan ini. Dengan semilir angin serta kegelapan di luar kami mencoba mengikuti alurnya. Saya terus tertidur dibawah, Melyn tertidur di kursi sedang Hilmy entah sedang apa di kursi bagian belakang. 

Kereta beberapa kali berhenti di stasiun pemberhentian. Banyak pedagang asongan yang masuk. Beberapa goncangan pada kereta seperti mengusik tidur. Saya dan Melyn mencoba bertukar posisi. Dia tidur di bawah dengan sleeping bag dan saya tidur di kursi. Tetapi sepertinya ia tidak bisa nyenyak tidur di bawah sehingga kami bertukar posisi lagi. Entah Palembang masih jauh atau sudah dekat, yang ada di luar masih gelap dan gelap.

***

Suasana di luar sudah mulai terang. Kereta masih melaju dan saya sudah terbangun. Melyn sepertinya juga sudah terbangun sedari tadi. Hilmy yang tadinya duduk di belakang sekarang sudah bergabung bersama. Entah kami sudah sampai mana, tapi sepertinya Palembang masih jauh. Jam sudah menunjuk pukul 6 pagi. Suasana fajar di luar begitu indah, warna langit yang biru kemerahan, dan matahari yang masih malu-malu untuk keluar dari peraduannya. Saya dan Hilmy kemudian duduk di sambungan antar gerbong. Rupanya ada juga penumpang yang duduk disambungan antar gerbong ini. Ada 3 orang yang sudah tua duduk disana, dari percakapannya bisa dipastikan mereka adalah orang Jawa yang sedang merantau ke Sumatra. Saya mencoba membuka percakapan. Mereka adalah para transmigran dari Jawa yang sudah bermukim lama di Pulau Sumatra ini. Logat jawanya masih kental. Melihat kakek dan nenek ini saya jadi ingat kakek nenek saya di kampung.

Kereta terus berjalan. Yang kami lihat diluar adalah tanaman sawit, pohon karet juga tanah kering yang penuh rerumputan. Kadang kala diselingi dengan alang-alang yang tinggi. Dari sela-selanya kami bisa melihat pancaran matahari pagi yang mulai merambat naik. Tetapi kereta ini sering juga berhenti. Di Pulau Sumatra ini, kereta penumpang harus “mengalah” dengan kereta pengangkut batubara. Jadi misal berpapasan dengan kereta batubara, maka kereta harus berhenti terlebih dahulu. Akhirnya setelah hampir 11 jam kami di kereta, tibalah kami di Stasiun Kertapati, Palembang. Ya, kami baru sampai di Palembang jam 8 siang. 

Hilmy berbincang dengan salah seorang penumpang di sambungan gerbong

Berpapasan dengan kereta pengangkut batu bara

Hilmy menikmati perjalananya haha

Suasana pagi dari dalam kereta

Keadaan di dalam kereta

Sepasang kakek nenek yang terpaksa duduk disambungan kereta

Terkunci di Stasiun Tanjung Karang

*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (3)

kelanjutan dari : Rajabasa dan Anggur Jamu 

Siang ini kami ke Stasiun Bandar Lampung (Tanjung Karang) dengan tujuan untuk membeli tiket kereta malam ke Palembang, sekaligus numpang mandi di stasiun kereta tersebut.  Sejak kemarin dari Purwokerto, kami belum mandi sama sekali. Sesampai di stasiun kami mencoba melihat jadwal kereta ke Palembang. Namun sayang tak ada loket buka sama sekali. Dari informasi diketahui bahwa loket di buka 2 jam sebelum kereta jalan. Lucunya, kalau di loket hanya bisa dibeli 2 jam sebelum kereta berangkat, tiket bisa dibeli di agen tiket jauh-jauh hari. Jadi misalnya untuk hari ini kereta akan berangkat pukul 9 malam, maka loket di stasiun baru buka jam 7 malam. Tapi anehnya di agen sudah di jual, bahkan jauh-jauh hari kita bisa memesan. Yang jadi pertanyaan, apabila tiket sudah terjual habis di agen, apakah loket akan tetap buka?

Beberapa orang menawari kami untuk membeli tiket di agen. Kami menolak, dengan pertimbangan harga tiket di agen pasti jauh lebih mahal dibanding dengan tiket yang di jual di loket. Kami mencoba berspekulasi nanti malam saja, meski agak khawatir mendengar penuturan banyak orang tentang susahnya membeli tiket di loket karena keterbatasan jumlahnya. Ah, inilah potret jasa di negara ini, meski sudah diurus oleh perusahaan yang ‘katanya’ milik negara sekalipun!

Dari loket-loket yang masih kosong melompong itu kami mencoba masuk ke dalam stasiun. Dengan membayar peron Rp.7500 untuk 3 orang kami diperbolehkan. Sesampai di dalam, Hilmy mondar-mandir mengambil foto. Melyn duduk melepas lelah. Ada kereta penuh penumpang yang akan berangkat. Selang beberapa waktu, kereta itu berjalan mengikuti alur perjalannya. Dari deretan kursi ruang tunggu, kami duduk melepas lelah. Hilmy berjalan agak menjauh mencari kamar mandi umum di stasiun untuk mandi. Namun tiba-tiba beberapa petugas pengamanan datang ke arah kami.
“Keluar-keluar, pintu akan di tutup! Silahkan mau keluar apa terkunci disini sampai malam”
Kami bertiga kebingungan. Kenapa kami di suruh keluar? Bukankah stasiun kereta buka 24 jam? Tapi begitu masuk ke stasiun kereta ini kami disuruh keluar lagi.

Kami keluar dari stasiun sambil bertanya-tanya. Adakah kesalahan yang kami buat sehingga kami diusir dari dalam stasiun kereta ini. Yang kami tau, di Pulau Jawa stasiun kereta buka 24 jam. Jam berapapun kita bisa masuk. Kalaupun tidak bawa tiket, bisa masuk dengan tiket peron. Tapi nampaknya di Sumatra ini berbeda. Jadi stasiun kereta hanya buka ketika akan ada kereta yang berhenti atau berangkat saja. Di luar jam itu ya stasiun ditutup!

Kami terusir keluar, dengan kondisi di dalam stasiun tadi kami belum sempat mandi. Badan kumal, kucel, dengan menggotong tas ransel besar. Tapi dengan PD-nya kami masih foto-foto di depan stasiun sampai beberapa orang yang ada disitu melihat kami dengan perasaan iba hahaha.

Di tengah kebingungan, tiba-tiba Febs telfon. Febs ini adalah teman baik dari Filipina. Saya pernah bertemu dengan dia di Jakarta, dan sering mengobrol meski hanya lewat YM atau sms. Kebetulan saat ini dia sedang ada pekerjaan di Lampung. Sebenarnya siang ini dia harus kembali ke Jakarta sehingga tidak bisa menemui kami. Tetapi, mungkin karena mendengar suara saya yang terdengar ‘kelaparan’, dia mengajak kami bertemu terlebih dahulu sebelum dia berangkat ke Bandara. Asik, makan gratis!

Febs dan driver yang akan mengantar dia ke Bandara menyempatkan datang ke stasiun. Kemudian kami diajak ke sebuah tempat makan yang tidak terlalu jauh dari stasiun. Inilah makan pertama kami di Sumatra. Saya, Hilmy, dan Melyn masih dengan tampilan kucel kami yang belum mandi dari kemarin. Bahkan belum tersentuh air sama sekali hari ini. Dengan tisu di tempat makan saya mencoba membersihkan muka. Busyet! Begitu diusapkan ke muka saya, tisunya langsung hitam penuh debu. Melyn senyum-senyum melihat bentuk tisu yang menghitam begitu menyentuh muka saya yang penuh debu ini. Kotor sekali tampilan kami siang ini.

Sempat ngobrol beberapa saat dengan Febs. Namun kami tak bisa lama-lama. Dia sudah harus ke Bandara karena sore ini harus bergegas ke Jakarta. Saya minta diantarkan ke Musem Lampung. Diantarkannya kami bertiga ke Museum Lampung yang kebetulan searah dengan jalan menuju bandara. Sesampainya di museum kami turun, kemudian Febs dan drivernya melanjutkan perjalanan ke Bandara. Febs berpesan untuk menceritakan apa yang ada di dalam museum kepada dia nantinya.
Kami sendiri masuk ke Museum Lampung, suasana sangat sepi. Hampir tak ada orang yang kami temui. Nampaknya museum ini sudah tutup. Entah tutup karena memang sudah jam tutup, atau tutup karena tak ada orang yang datang menyambanginya. Agak kecewa karena kami tak bisa masuk ke dalamnya. Namun satu hal luar biasa yang kami temukan di kompleks museum ini, sesuatu yang bahkan tidak bisa kami dapatkan di stasiun karena sudah terlebih dahulu terusir. Di museum ini ada kamar mandi! Dan untuk pertama kalinya di Sumatra, setelah 24 jam kami di jalan. Di tempat yang tidak terduga ini kami bisa mandi!

Jadi kalau di kemudian hari Febs tanya, “Saya ingin ke Museum Lampung, apa ada yang menarik di dalamnya?” Saya menjawab “Ada satu yang menarik” “Apa?” “Kamar mandi. Karena kami juga tidak tau apa isi dari Museum Lampung itu selain kamar mandinya.” 

Selepas mandi di Museum yang nampak kosong ini, kami melanjutkan perjalanan. Rencananya kami akan jalan-jalan ke kota Bandar Lampung. Tapi ada hal yang membuat saya bingung sebenarnya. Semua orang Indonesia ketika ditanya Ibukota Provinsi Lampung pasti menjawab Bandar Lampung. Di buku-buku sekolah, di internet bahkan dalam tata pemerintahan, Ibukota Provinsi Lampung adalah Bandar Lampung. Tetapi yang saya temui di kota ini, entah itu di petunjuk jalan, papan nama toko, semuanya tertulis Tanjung Karang. Lalu di mana yang namanya Bandar Lampung ibukota Provinsi Lampung? 

Sebelumnya ketika makan, saya sudah mencoba bertanya kepada teman Febs. “Mas, kalau Bandar Lampung itu dimana? Dari tadi semua petunjuk kok nyebutnya daerah ini namanya Tanjung Karang ya? Bukan kita ini sudah di  Bandar Lampung?”. “Ya Bandar Lampung ya disini ini mas”. “Tapi dari tadi kok tulisannya Tanjung Karang ya mas?”. “Ya Bandar Lampung ya Tanjung Karang ini”. Duh, saya semakin bingung saja. 

Menurut beberapa informasi, dulunya Ibukota Lampung adalah Tanjung Karang. Namun pada tahun 1983 Ibukota Lampung diganti dengan nama Bandar Lampung. Bandar Lampung sendiri adalah gabungan dari 3 daerah yang terintegrasi yakni Tanjung Karang, Teluk Betung, dan daerah Panjang (Kedaton). Jadi ketika Bandar Lampung di jadikan nama kota termasuk sebagai nama Ibukota Provinsi, maka secara otomatis Tanjung Karang menjadi nama kecamatan. Mungkin karena nama Tanjung Karang sudah melekat sebagai nama kota sebelum adanya Bandar Lampung, maka nama di stasiun, nama tempat, papan nama, pasar, tetap dinamai dengan Tanjung Karang. Toh, daerah itu juga masih masuk wilayah Kecamatan Tanjung Karang.

**


Selepas dari Museum kami naik angkot lagi ke arah pusat kota. Definisi ‘pusat kota’ ini beragam. Ada yang menyebut pusat kota adalah pusat ekonomi suatu daerah atau pun pusat pemerintahan. Sore ini kami tidak tau dimana pusat kota Bandar Lampung. Kami hanya berpatokan sederhana. Pusat kota adalah tempat yang paling ramai disuatu daerah. Nah, sepertinya daerah di dekat stasiun yang kami datangi tadi adalah salah satu pusat keramaian di kota Bandar Lampung. Penampilan kami sudah berubah. Penampilan kucel dan bau sudah berganti dengan semerbak wangi dan rapi karena sudah mandi di museum. Di angkot pun sudah berani mencuri pandang ke arah cewek. 

Ketika hampir dekat dengan pasar di dekat stasiun, kami meminta turun. “Stop Pak, kiri.. kiri.. kiri” Tetapi angkot masih saja jalan. Nampaknya isyarat untuk turun dari angkot berbeda-beda tiap daerah. Seorang ibu di dalam angkot memberitahu kami, caranya turun dari angkot di daerah sini adalah dengan ucapan “minggir”. Kamipun serentak berteriak “MINGGIRR!”, dan dalam sekejap sopir angkot langsung memberhentikan angkotnya. Luar biasa keanekaragaman di Indonesia. Isyarat berhenti dari angkot pun berbeda-beda tiap daerah.  

Dari daerah tempat kami turun, kami berjalan-jalan. Menyusuri keramaian pasar di dekat stasiun Tanjung Karang. Pasar di sini tak ubahnya seperti pasar tradisional di Jawa. Kebersihan tidak terjaga, sampah berserakan, tetapi banyak sekali barang yang di jual. Lelah karena muter-muter, kami berhenti di sebuah Masjid. Duduk di serambi sambil ngobrol-ngobrol. Tak terasa, dalam waktu 24 jam kami sudah sampai di Bandar Lampung. Sebuah kota di seberang pulau, Sumatra. 

Setelah agak lama kami istirahat di masjid, kami beranjak kembali ke stasiun. Berharap stasiun sudah buka dan kami sudah bisa membeli tiket. Tetapi sesampai di stasiun pintunya masih ditutup. Suasananya sudah lebih ramai, banyak sekali orang di depan stasiun. Entahlah bagaimana nasib kami, apakah malam ini kami bisa melanjutkan perjalanan ke Palembang, atau harus menerima kenyataan tidak mendapatkan tiket dan bingung kami akan menginap dimana. Entah orang-orang ini siapa, kami juga tak mengenalnya. Apakah mereka juga akan mengantri tiket seperti kami, atau hanya orang yang sedang singgah ke stasiun ini.

Tak lama kemudian, setelah semakin banyak orang berdatangan dan berkumpul di bukalah pintu stasiun oleh petugas. Secara refleks, orang-orang yang tadinya di luar itu berhamburan masuk dan berebutan ke arah loket penjualan tiket. Ternyata orang-orang yang tadi berkumpul di depan stasiun adalah orang yang sore ini akan antri membeli tiket juga. Mereka berhamburan ke dalam dean loket dan secara otomatis membentuk antrian panjang ke belakang. Beruntung, di tengah tidak sadarnya kami akan hal ini, Hilmy dan Melyn sudah ikut berlari ke arah loket penjualan tiket sehingga otomatis kami sudah ikut antri untuk membeli tiket. 

Tapi taukah kawan? Loket penjualan kereta ini baru akan di buka pukul 19.00 untuk keberangkatan kereta pukul 21:00. Dan saat orang berhamburan untuk antri itu jam di tangan kiriku ini masih menunjuk pukul 17:30. Ya kami akan menunggu sampai loket ini buka pukul 19:00 nanti.

Itulah senja pertama kami di Pulau Sumatra. Menikmati antrian di dalam stasiun yang gelap. Dengan harap-harap cemas apakah kami masih dapat tiket untuk malam ini. Tapi semua akan kami nikmati, senja yang samar ini. Pada saat nantinya akan kami temui senja yang lebih indah dari ini.

"The road of life twists and turns and no two directions are ever the same. Yet our lessons come from the journey, not the destination.” - Don Williams, Jr

Di depan Stasiun Tanjung Karang

Masih di depan Stasiun Tanjung Karang

Terusir dari dalam stasiun :D

Antri tiket...

Suasana pasar di dekat stasiun..

Masih duduk antri tiket..

Rajabasa dan Anggur Jamu

*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (2)

kelanjutan dari : Bus Siput dan Panasnya Lampung

Kami bersiap untuk bergegas turun dengan ransel-ransel kami. Saya bertanya kepada penumpang yang lain untuk memastikan bahwa kami belum sampai di Terminal Rajabasa. Kami memantapkan diri untuk turun sebelum Terminal Rajabasa. Dari obrolan kami ketika di kapal, kami mendapat saran untuk tidak masuk ke Terminal Rajabasa. Terlebih untuk kami yang baru pertama kali datang kesini. Ada 3 orang berbeda yang menyarankan kami untuk turun sebelum terminal dengan alasan keamanan. Terminal Rajabasa ini terkenal dengan banyaknya kejadian tidak menyenangkan yang di terima oleh para calon penumpang terutama dari para calo. Sesampainya di Bakaheuni tadi saya memang sempat buka google kemudian search keyword “Terminal Rajabasa”. Nampaknya memang benar, banyak sekali informasi tentang “seramnya” Rajabasa. Mungkin kondisi sekarang sudah jauh lebih baik dengan adanya pengamanan yang diperketat, tapi sepertinya kami memang harus turun dari bus sebelum memasuki Terminal Rajabasa untuk lebih safe-nya. 

Panas terik, itulah komentar kami ketika pertama kali turun dari bus. Dari tempat turun tersebut kami segera naik angkot tujuan ke Stasiun Bandar Lampung. Kami berharap bisa melepas lelah dan mandi di stasiun karena sejak kemarin kami masih belum tersentuh air sedangkan muka sudah penuh dengan debu yang melekat.

Di atas angkot kami bertemu dengan seorang ibu penjual jamu gendong. Kami bertegur sapa dan kami baru tau kalau beliau asalnya dari Solo. Masih di atas angkot, saya membeli jamu beras kencur untuk mengurangi haus di tengah panasnya terik siang. Hilmy sepertinya tertarik untuk membeli juga. Dia memesan jamu kunir asem. Melyn bergeming ketika Hilmy menawarinya. Sepertinya Melyn punya kenangan tidak baik dengan rasa jamu yang pernah dia coba pertama kali ketika menyaksikan karnaval di Solo. 

Angkot masih berjalan dan saya iseng mengamati ibu penjual jamu menjajakan jamunya. Saat ibu penjual jamu menuang jamu ke plastik, selain beras kencur nampaknya ditambahkan cairan lain juga. Dari botol lain, diambilnya cairan berwarna hitam dan di tambahkan ke beras kencurnya. Percampuran antara beras kencur dan sedikit cairan itu dituang ke plastik. Saya masih tidak ngeh, pikir saya mungkin memang ramuan jamunya harus dikasih seperti itu. Tetapi hal yang sama juga dilakukan ibu penjual jamu ketika membuatkan jamu kunir asem pesanan Hilmy. Cairan warna hitam itu masih ditambahkan ke kunir asemnya. Saya masih penasaran tetapi jamu itu juga sudah masuk ke perut saking hausnya. Hilmy juga nampak langsung menenggak jamunya.

Namun seketika saya ingat. Saat saya masih kecil dan sering membeli jamu di kampung. Saya juga sering melihat penjual jamu menuangkan cairan hitam ke dalam jamunya. Saya baru ingat kalau cairan hitam seperti yang penjual jamu tadi tambahkan adalah anggur hitam. Bukan seperti anggur merahnya Meggi Z yang memabukkan.

Ibu penjual jamu yang baik, memberi petunjuk kami ke stasiun

Bus Siput dan Panasnya Lampung


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (1)
Peta rute Purwokerto -  Bandar Lampung

Entah berapa banyak gelengan dan senyuman paling manis yang sudah saya persembahkan sedari pagi. Badan kucel dan tampilan kumal karena belum mandi sejak kemarin rupanya tak menyurutkan orang-orang ini untuk menjauh dari kami. Mereka terus mendekat, bahkan sambil menarik-narik ransel kami. Tidak, mungkin itu kata paling sederhana yang kami ucapkan untuk menolaknya. Kami terus berjalan melangkah, bak artis yang cuek dikerubuti wartawan yang begitu menantikan jawaban dari kami atas gosip-gosip terbaru.
Mereka tak putus asa, terus merancau dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Kami sok dingin dengan muka yang kami buat sedatar mungkin untuk menjaga penampilan kami. 

Ups, mungkin saya kebanyakan berkhayal setelah semalam suntuk duduk terpaku di bus malam. Setelah saya pikir, tidak mungkin wartawan bertanya kepada artis “Mau kemana mas? Naik ojek mari”, “Mau naik travel mas? Bisa kami antar sampai tujuan”, atau pertanyaan “Sudah sarapan mas? Kalau belum mari mampir kemari. Ada rames, telur, teh hangat juga ada kok mas, monggo” 

Nampaknya siang ini kami sudah sampai di Pelabuhan Bakaheuni, Provinsi Lampung. Inilah pintu gerbang Pulau Sumatra. Dari pelabuhan di ujung paling timur Pulau Sumatra ini, kami akan memulai perjalanan kami. Semua masih nampak lancar ketika kami bisa keluar dari komplek pelabuhan setelah harus berjejal dengan penumpang lain yang turun dari kapal. Juga banyaknya kondektur bus, driver travel, ataupun calo yang menjajakan jasanya. Bak berasa artis yang diserbu wartawan untuk diwawancarai.

Keluar dari pelabuhan, kami segera naik ke sebuah bus yang sudah terparkir di Terminal Bakaheuni. Ransel-ransel kami naikkan, duduk kami di bangku paling belakang agar bisa leluasa memandang ke seluruh sudut bus.

“Selamat Datang di Sumatra! Para penumpang yang terhormat, selamat datang di dalam bus ini. Bus ini akan membawa anda sampai di Bandar Lampung kira-kira dalam waktu 2 jam. Bus ini dilengkapi dengan 2 pintu masing-masing 1 di depan dan 1 di belakang. Jika menemui kesulitan silahkan menghubungi staff kami yang akan melayani. Semoga perjalanan ini menyenangkan dan selamat sampai tujuan”.

Jangan bayangkan rangkaian kalimat tersebut keluar dari suara ‘pramugari’ cantik yang ada di bus ini. Itu hanya kata-kata imajinasi saya yang memang sudah saya siapkan untuk menghadapi segala kemungkinan transportasi yang kami naiki. Bisa dibilang, untuk sekedar menghibur diri. Secara kasat mata kita sudah bisa menilai bagaimana kondisi transportasi di negara kita ini. Dan kami pun sudah memprediksi bahwa tranportasi seperti inilah yang akan kami dapatkan di kota-kota lain yang akan kami datangi kelak

Bus ini nampak tua dan tak terawat. Jok dan kaca beberapa sudah terlepas dari tempatnya. Seperti layaknya bus ekonomi pada umumnya. Tapi mungkin inilah “menu” selamat datang kepada kami. Bus dengan tulisan “FULL MUSIC” tapi sunyi senyap berganti dengan derit suara bus tua yang nampak berat menanjak. Serta erangan suara knalpot yang menghaburkan gulungan asap hitam sebagai jejaknya.

Perlahan bus mulai berjalan keluar dari terminal. Jalanan nampak terus menanjak meninggalkan pelabuhan. Kalau bus ini boleh mengeluh, mungkin ia sudah mengeluh. Laju bus ini sangat lambat, bahkan saking lambatnya sampai beberapa kali didahului oleh truk-truk besar yang membawa barang-barang berat. Kondektur bus mondar mandir dari depan ke belakang untuk menarik ongkos dari para penumpangnya. Dari label yang dipasang di kaca depan, tarif sudah terpampang dengan tulisan besar : Rp. 17.000. Itulah ongkos bus ekonomi dari Bakaheuni sampai Bandar Lampung.

Kami duduk di barisan kursi belakang sambil terkantuk. Jalanan mulus, tapi kondisi bus memang sudah sangat memprihatinkan. Panas juga debu beterbangan. Pemandangan di luar nampak kering dan gersang. Kami mencoba menikmatinya dan tidak boleh mengeluh. Ini baru titik awal dan akan banyak hal lain entah itu manis atau pahit yang akan alami yang lebih “menakjubkan” dari ini.

Di sepanjang jalan kami menemukan banyak nama desa yang sepertinya sudah familiar kami dengar. Karena Provinsi Lampung ini dulunya adalah daerah tujuan transmigrasi, sehingga banyak sekali nama daerah yang menggunakan nama-nama layaknya kampung di Pulau Jawa. Blambangan, Kedaton, Pringsewu, Pekalongan, Sidomulyo, Sri Menanti juga nama sebuah daerah yang sama persis dengan kampung saya di Jawa yakni Wonosobo. Menurut data di Wikipedia, demografi penduduk di Provinsi Lampung hampir 60% lebih berasal dari Suku Jawa.

Bus sudah melaju lebih dari 2 jam namun kami masih belum sampai di kota Bandar Lampung. Beberapa kali bus sudah berhenti untuk menurunkan penumpang. Mungkin, jarak ke kota Bandar Lampung sudah dekat. Kami hanya bisa menebak-nebak saja meski memang nama jalan yang kami lalui ini, masih belum nampak di peta kota Bandar Lampung yang ada di buku Lonely Planet. Buku inilah yang kami bawa sebagai pegangan dalam perjalanan kali ini.
Yang kami lihat di luar masih debu, kering dan panas. Inilah menu selamat datang kami. Kami baru sampai di titik ujung perjalanan kami. Masih ada ribuan kilometer di depan yang akan menyambut. Entah itu dengan panas, dingin, terik, ataupun hujan. Dan kami akan menikmati perjalanan ini. Seperti sebuah perjalanan kehidupan yang menguatkan dan menyenangkan. Karena letupan setiap peristiwanya yang tak bisa kita tebak alurnya. I’m excited!

Melyn dan Hilmy di atas kapal Merak - Bakaheuni
Saya dan Hilmy di atas kapal Merak - Bakaheuni

Minggu, 26 Februari 2012

Suatu Hari Yang Pasti...

    gambar dari sini
"Suatu hari yang pasti. Aku akan membuang segenap imajinasi tentangmu ke dalam sebuah botol. Membuangnya ke laut. Ke tengah deburan ombak. Melayang dan terombang-ambing meninggalkan bayangmu. Kamu, yang akan melewati sisa hidup bersama takdirmu itu"

#Sayup

Sayup-sayup aku mendengarmu..
Bagai gugusan lagu..
Dan kumandang syair kesayangan kita dari radio..

Sedang bintang di luar sana nampak berkilauan..
Batas keindahan nampak jauh
Berkedip dalam fatamorgana
Terurai seiring langkah kita

Suatu malam di tengah Jakarta
Aku melihat bintang
Juga bayang..
Bayang yang kini jauh terbentang..

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...