Senin, 05 Oktober 2015
Lintang Damar Panuluh
Selasa, 04 Agustus 2015
Suwung
Meninggalkan rumah sedemikian lamanya sebagai perantau, tentu kemampuan untuk beradaptasi terhadap lingkungan di luar rumah sudah tertanam dengan kuatnya. Kemampuan tersebut salah satunya adalah bersiap terhadap situasi tidak aman. Namun sekuat-kuatnya kita bertahan terhadap pasang suruh kehidupan di luar rumah/kampung halaman, tetap ada 'ruang kosong' di dalam diri kita. Dan setelah sekian lama, saya menyadari bahwa 'ruang kosong' itu bisa terisi ketika kita pulang. Entah oleh suasana aman di rumah atau adanya kehadiran orang tua kita. Ini mungkin disebabkan karena dari mulai 'njedul' ke dunia, salah satu tempat kita mendapat perlindungan dalam tumbuh kembang kita ya dari orang tua kita atau orang-orang terdekat.
13 tahun saya merantau, pernah ke daerah konflik sekalipun, saya tetap merasa memiliki ruang kosong itu. Namun, setiap pulang ke rumah atau bertemu orang tua, saya merasa ruang kosong itu terisi, lalu ada perasaan nyaman dan aman yang hadir menyertai. Seperti ada yang melindungi kita, setua apapun kita. Meskipun kita sudah tidak anak-anak lagi.
Jika kita ibaratkan hidup kita ini puzzle. Selengkap apapun pencapain kita, tetap akan ada serpihan puzzle yang tidak bisa kita capai dengan usaha kita sendiri. Serpihan puzzle itu hadir dengan bentuk orang yang ketika kita ada disampingnya, kita merasa terlengkapi dan terlindungi. Lalu lengkaplah puzzle hidup kita.
Mungkin ruang kosong itu bisa diartikan dengan suwung.
Selasa, 29 Oktober 2013
Sabtu Malam Kemarin
Bahagia adalah saat bisa menyaksikan White Shoes and The Couple Company dan Payung Teduh berdendang dalam satu malam, di satu tempat. Kehujanan dan kehilangan helm tak mampu menepisnya :)
Senin, 16 September 2013
Selamat Boi!
Ada pesan yang saya ingat ketika kami bertemu di Stasiun Purwokerto. Dia berpesan pentingnya tujuan hidup. Kata Hilmy, ada banyak orang yang ngalor ngidul kesana kemari, tapi dia tidak tau sebenarnya apa yang sedang ia cari. Kalimatnya jleb banget bagi saya :)
Beberapa jam setelah kami bertemu di Semarang, ia mengirimkan sebuah pesan pendek yang memberitahukan bahwa istrinya sedang mengandung. Selamat Boi! :)
Jakarta Yang Bergairah?
Sudah 3 bulan ini saya berpindah tempat tinggal. Setelah hampir 2,5 tahun tinggal di Jakarta Pusat, tengah kota yang hanya 'selemparan batu' dari Monumen Nasional dan dekat dengan fasilitas apapun. Kini saya tinggal di selatan Jakarta. Pertimbangan memutuskan untuk pindah adalah karena saya ingin lebih dekat dari kantor. Memangkas jarak ke kantor yang tadinya hampir 1 jam menjadi beberapa menit saja.
Nampak nyaman pada awalnya, namun ada 1 hal mendasar yang berubah. Jakarta Pusat dengan selatan Jakarta ternyata sangat berbeda. Dari lingkungan, lalu lintas dan fasilitas. Saya kehilangan Jakarta yang bergairah. Yang ketika semua orang berharap bisa meninggalkan Jakarta, namun saya malah merasa nyaman mendiami Jakarta. Saya kehilangan Jakarta, yang ketika saya begitu penat dengan rutinitas pekerjaan, saya bisa pergi ke museum, taman bermain, perpustakaan nasional, dan toko buku hanya dengan berjalan kaki. Saya kehilangan Jakarta dimana saya hanya perlu berjalan sebentar untuk menjangkau halte bus atau stasiun. Saya kehilangan Jakarta, tempat dimana setiap hari saya menunggu Trans Jakarta untuk pergi ke kantor dan bertemu dengan banyak karakter dalam perjalanannya. Berganti-ganti dan terus menerus setiap hari. Saya kehilangan Jakarta yang saya impikan, saat ini.
Namun, dilain sisi, Jakarta membuat saya menjadi seorang pengeluh, seperti dalam tulisan ini ;)
Senin, 25 Maret 2013
De Javu di Bandar Lampung
Beberapa saat setelah pesawat lepas landas, masih dalam keadaan badan pesawat yang miring ke atas karena pesawat baru ‘menanjak’ naik. Pramugari dengan susah payah mendorong ke depan sebuah trolly berisi roti dan air mineral untuk dibagikan kepada penumpang. Ya, semuanya serba terburu-buru karena belum genap 30 menit penerbangan ini, pilot memberitahukan bahwa pesawat akan segera mendarat.
Tak lebih dari 30 menit akhirnya pesawat mendarat dengan goncangan yang keras karena landasan di lapangan terbang ini tidak terlalu panjang. Panas terik menyambut begitu saya turun dari pesawat. Lalu masuk ke dalam ruang pengambilan bagasi yang begitu kecil dan pengap. Bahkan loket pemesanan taksi juga ada di ruangan yang sama. Bagasi datang begitu lambat, bahkan lebih lama dari penerbangannya. Hahaha. Sampai kemudian saya mengambil tas dan bergegas keluar dari ruangan yang penuh sesak itu.
Selamat datang di Bandar Lampung.
Dari bandara, perlahan taksi menuju ke tengah kota. Saya memandang jauh ke luar. Dalam hati bergumam bahwa saya sebenarnya tidak ingin datang ke kota ini. Sampai kemudian lamunan saya terhenti ketika saya melihat sebuah terminal bus di pinggir jalan bertuliskan ‘Terminal Rajabasa’. Ya, saya pernah memiliki sepenggal kenangan di terminal itu bersama Melyn dan Hilmy. Tak jauh dari terminal itu, di kiri jalan saya melihat sebuah bangunan yang tidak asing bagi saya, ‘Museum Lampung’. Saya mengingat moment numpang mandi di dalamnya.
Taksi terus melaju dan dalam perjalanan ke tempat menginap saya, taksi ini juga melewati ‘Stasiun Tanjung Karang’. Tiba-tiba, saya seperti terbawa mesin waktu, mengingat banyak moment di stasiun itu. Tak jauh dari stasiun, taksi tepat berhenti di depan hotel. Saya bergegas masuk dan setelah ribet dengan segala macam administrasinya akhirnya saya bisa tidur di kamar.
Malam selepas maghrib, saya keluar dari hotel untuk mencari makan. Di dekat hotel, ada sebuah tempat makan di sebuah ruko yang memikat saya karena tempatnya yang ramai. Saya masuk ke dalamnya dan sesaat kemudian saya seperti kembali ditarik ke dalam mesin waktu. Saya seperti merasa pernah ada di tempat ini. Sampai kemudian saya teringat bahwa saya, Melyn dan Hilmy pernah diajak makan disini oleh Febs.
Tuhan maha asik. Dulu, saya pernah singgah di kota ini dan tidak ingin kembali ke kota ini lagi. Tapi Tuhan mengirimkan saya ke kota ini lagi. Lalu saya bertemu dengan serpihan-serpihan kenangan ketika dulu saya pernah singgah di sini. Bahkan secara tidak sengaja makan di tempat dahulu saya makan siang untuk pertama kalinya di kota ini.
Tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan kan?
Senin, 21 Januari 2013
Pilihan?
Saya menikmati moment seperti ini.
Kamis, 10 Januari 2013
Bahagia
Bersama seorang kawan kerja, saya duduk di sebuah pojokan tempat makan. Sambil duduk menunggu pesanan, saya sibuk dengan hp saya. Sedangkan teman saya nampaknya sedang menerima telepon dari istrinya. Untuk sementara waktu ia dan istrinya memang terpisah karena ia harus mengerjakan project disini, sedang istrinya ada di rumah mereka yang berbeda kota.
Tiba-tiba saya lihat, teman saya yang masih menerima telepon ini matanya berkaca-kaca. Ah rupanya kabar baik menghampirinya, ia mendapat kabar bahwa istrinya mengandung anak pertama mereka. Anak pertama pernikahan mereka 4 bulan lalu. Oh, rupanya, matanya nampak berkaca-kaca karena bahagia.
Saya belum pernah merasakan perasaan seperti itu. Tapi pastinya bahagia ya?
Minggu, 14 Oktober 2012
Dua Puluh Lima
Minggu, 30 September 2012
Tidak Suka Hujan
Di Jakarta, banyak sekali orang yang hidup di atas gerobak. Kemana-kemana membawa gerobak. Mungkin, kalau siang dipakai untuk memulung sampah dan malamnya dipakai sebagai alas tidur. Hidup dan tidur di atas gerobak. Tidak hanya sendiri, bahkan dengan istri dan anaknya. Pagi, siang, sore dan malam di samping gerobak. Panas dan hujan di atas gerobak.
Di kampung, saya begitu menyukai hujan. Tapi tidak di Jakarta ini.
Saya membayangkan ketika hujan, di mana mereka akan berteduh?
Di kampung, saya begitu menyukai hujan. Tapi tidak di Jakarta ini.
*20/09/2012 19:00 di pinggir jalan daerah Tebet saya melihat serombongan orang yang tinggal di gerobak. satu di antara mereka, seorang ibu dengan garis wajah mirip ibu saya =(
Jumat, 31 Agustus 2012
Jakarta di Akhir Agustus..
Di ujung gang, nampak beberapa ojek langganan sedang menunggu penumpang. Mereka langsung melambaikan tangan begitu melihat saya keluar dari gang. Hanya dengan isyarat anggukan, salah satu dari mereka kemudian mendatangi saya lengkap dengan helmnya. Tanpa bertanya-tanya ongkos dan tujuan, mereka sudah paham jika hari Jumat sore saya keluar kost, maka tujuan saya adalah ke Terminal Rawamangun.
"Tumben bang, wangi sore ini. Habis keramas ya" gurau saya setelah memakai helm kemudian perlahan motor berjalan.
"Haha, tau aja mas ini. Hari Jumat mas, spesial dong. Mandi lalu jumatan" kata abang ojek.
Jalanan sore ini tidak terlalu macet dibanding Jumat seperti biasanya. Mungkin karena masih banyak orang yang belum kembali lagi ke Jakarta setelah mudik lebaran. Sebelum sampai perempatan Matraman, abang ojek belok ke sebuah jalan alternatif. Memang sama ramainya. Tapi setidaknya lebih dekat. Jalan alternatif ini persis di pinggir rel kereta api.
Diantara deru kendaraan yang berhamburan, sebuah kereta api lewat dengan suara khasnya. Sejajar dengan jalan raya dimana ribuan motor dan mobil sedang berjalanan berpacu dengan waktu juga. Suara ramai jalan, suara kereta yang khas, dan hiruk pikuk kendaraan yang melintas seakan memberi sensasi tersendiri untuk saya. Rasanya merinding.
Tak berapa lama kemudian, sampailah di Terminal Rawamangun. Saya bergegas ke sebuah loket bus untuk mengambil tiket yang sudah saya pesan lewat telfon sebelumnya. Waktu baru beranjak dari pukul 17 lebih sedikit, padahal bus baru akan berangkat pukul 18.30.
Saya duduk di depan loket untuk menunggu. Seorang ibu yang duduk disamping saya kemudian menyapa. Kami lantas berbincang. Nampaknya ibu ini akan pergi ke Palembang, sedangkan bus yang akan ia naiki belum datang padahal sudah menunggu hampir 5 jam. "Harusnya jam 1 mas, tapi ini sudah jam segini belum datang juga. Baru diganti sama nasi sebungkus sama air. Kalau gini rasanya capek, menunggu, udah nggak shalat pula". Saya bingung mau menjawab apa. Saya hanya mencoba mendengarkan cerita ibu ini.
Saya sendiri setelah lebaran, baru seminggu di Jakarta. Jakarta bagi saya semakin 'absurd' saja. Namun tidak dipungkiri bahwa di kota ini ketergantungan hidup saya terhadap pekerjaan. Dan dengan pekerjaan di Jakarta pula, saya bisa mewujudkan impian saya. Bisa dibilang benci tapi juga sayang.
Bus yang akan saya naiki datang, saya bergegas naik. Bus kemudian berangkat dengan penumpang yang tidak terlalu penuh. Perlahan-lahan meninggalkan Jakarta, untuk kemudian kembali lagi ke kota ini. Benci tapi sayang. "..ke Jakarta aku kan kembali" begitu liriknya lagunya Koes Plus.
*postingan random nggak jelas di dalam bus, semata-mara untuk mengisi waktu :P *
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Senin, 30 Juli 2012
Singgah ke Samosir
kelanjutan dari : Semalam Diantara Padang - Parapat
| samosir! |
| penyeberangan tigaraja |
| ornamen pada kapal parapat-tuktuk |
| hilmy, saya, melyn, vera, dan marco |
| tomok dari kejauhan, dengan gereja tua yang menjulang |
| parapat dari kejauhan |
| tomok dan bukit-bukitnya |
| di atas kapal menuju tuktuk |
| 'kondektur' kapal dengan pemandangan hotel-hotel tuktuk di depannya |
| buku bacaan kami di jalan untuk mengusir suntuk |
| saya, melyn dan hilmy |
| selamat datang di samosir! |
| rumah adat di tomok |
| menunggu kedatangan kapal |
Rabu, 25 Juli 2012
Semalam Diantara Padang - Parapat
kelanjutan dari : Mampir Sekejap ke Padang
Selasa, 24 Juli 2012
Mampir Sekejap ke Padang...
kelanjutan dari : Menjelang Sore di Bukittinggi
| di depan musem |
| arca adityawarman |
| sudut museum |
Senin, 23 Juli 2012
Menjelang Sore di Bukittinggi..
kelanjutan dari : Danau Singkarak dan Padang Panjang
| salah satu lembah di Ngarai Sianok |
| Ngarai Sianok |
| sekitar Ngarai Sianok.. |
| pelukis di Ngarai Sianok |
| Melyn :P |
| Lubang Jepang |
| Ngos-ngosan sehabis dari Lubang Jepang |
| Jembatan Limpapeh |
| Dari atas Jembatan Limpapeh |
Lintang Damar Panuluh
Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...
-
Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...
-
Peta di atas adalah ruteku jika ingin pulang dari Semarang ke Wonosobo. Biasanya lewat jalur yang warnanya merah. Berhubung bosen lewat jala...
-
*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (14) kelanjutan dari : Manisnya Buka Puasa di Solok Dulu, ketika be...

