Senin, 05 Oktober 2015

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015

Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang tersisa. 


Jarum menunjuk pukul 8 malam, pesawat tujuan Semarang juga sudah tidak ada. Ingin rasanya saya memiliki pintu kemana saja milik Doraemon untuk kemudian bisa sampai disebelah istri saya yang sedang menunggu dengan cemas di ruang operasi. Untuk menemani salah satu hari bersejarah bagi hubungan kami. Melewati hari besar kami, menunggu kelahiran anak kami yang pertama.

Satu jam sebelum saya sampai di Stasiun Gambir, saya masih ada di rumah sendirian karena istri sudah beberapa hari sebelumnya saya antar pulang ke kampung halaman untuk bersiap melahirkan di kota Kudus. Tiba-tiba malam ini, istri saya yang sedang periksa kehamilan biasa/reguler dengan diantar bapak dan ibu mertua, diminta oleh dokter untuk operasi malam ini juga karena air ketuban sudah menipis dan sudah terdapat pengkapuran. 

Istri kemudian menelfon saya untuk kemudian dokternya berbicara langsung untuk menjelaskan alasannya sekaligus meminta ijin. Saya langsung mengiyakan karena pasti dokter lebih tau mana yang terbaik. Hal ini tentu diluar perkiraan kami karena kami merencanakan operasi kelahiran sekitar 1 minggu lagi. Semua yang mendadak ini membuat persiapan kami berantakan, dari jadwal pulang kampung, jadwal cuti, persiapan operasi dll. Saya lalu bergegas mencari cara tercepat agar bisa sampai ke Kudus. Mengejar jadwal pesawat ke bandara sudah tidak memungkinkan, satu-satunya cara adalah naik kereta, namun tiketnya habis tak tersisa.

Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang tersisa. 

Saya akhirnya kembali pulang ke rumah sambil memesan tiket pesawat paling pagi. Sesampai di rumah saya mencoba melupakan rasa kecewa tidak bisa mendampingi istri saya, pada akhirnya berkirim doa dan pengharapan adalah jalan terbaik. Malam ini saya sebenarnya ada pekerjaan di kantor client, namun saya batalkan karena pikiran saya sudah kemana-mana. Saya terus berkomunikasi melalui telfon dengan istri saya untuk menguatkan. Alhamdulillah dia nampak tidak terlalu tegang karena merasa mules saja tidak katanya. Di ruang operasi, dia harus antri menunggu pasien lain yang sedang dioperasi juga.

Akhirnya tiba saatnya dia untuk operasi dan kami sudah tidak bisa berkomunikasi lagi. Bismillah, hanya doa yang bisa saya sertakan untuk mendampinginya. Selang beberapa saat, lewat pukul 12 malam, kakak ipar saya yang menunggu di rumah sakit memberitahukan bahwa operasi sudah selesai dan baik ibu maupun anaknya semua sehat. Air mata saya tidak bisa saya bendung lagi. Saya melompat-lompat histeris sendirian di rumah. Sujud syukur saya panjatkan untuk kemudian saya melihat anak saya untuk pertama kalinya melalui : LINE! 

Nak, bapakmu ini tukang sinyal. Kerjanya berurusan sama sinyal handphone. Tapi masa' untuk meng-adzan-imu saja harus pakai sinyal juga. Hehehe.

Semalam suntuk saya tidak tidur, jam 3 sudah berangkat ke bandara untuk pulang dan menjumpai untuk pertama kalinya; Lintang Damar Panuluh.

Sekarang setiap melihat iklan LINE ini, saya bergidik sekaligus menggumam 'saya tau rasanya!'



---

Selasa, 04 Agustus 2015

Suwung

Sekuat apapun seorang manusia berjuang dan bisa survive pada kondisi buruk sekalipun, tetap ada ruang kosong dalam dirinya.

Meninggalkan rumah sedemikian lamanya sebagai perantau, tentu kemampuan untuk beradaptasi terhadap lingkungan di luar rumah sudah tertanam dengan kuatnya. Kemampuan tersebut salah satunya adalah bersiap terhadap situasi tidak aman. Namun sekuat-kuatnya kita bertahan terhadap pasang suruh kehidupan di luar rumah/kampung halaman, tetap ada 'ruang kosong' di dalam diri kita. Dan setelah sekian lama, saya menyadari bahwa 'ruang kosong' itu bisa terisi ketika kita pulang. Entah oleh suasana aman di rumah atau adanya kehadiran orang tua kita. Ini mungkin disebabkan karena dari mulai 'njedul' ke dunia, salah satu tempat kita mendapat perlindungan dalam tumbuh kembang kita ya dari orang tua kita atau orang-orang terdekat.

13 tahun saya merantau, pernah ke daerah konflik sekalipun, saya tetap merasa memiliki ruang kosong itu. Namun, setiap pulang ke rumah atau bertemu orang tua, saya merasa ruang kosong itu terisi, lalu ada perasaan nyaman dan aman yang hadir menyertai. Seperti ada yang melindungi kita, setua apapun kita. Meskipun kita sudah tidak anak-anak lagi.

Jika kita ibaratkan hidup kita ini puzzle. Selengkap apapun pencapain kita, tetap akan ada serpihan puzzle yang tidak bisa kita capai dengan usaha kita sendiri. Serpihan puzzle itu hadir dengan bentuk orang yang ketika kita ada disampingnya, kita merasa terlengkapi dan terlindungi. Lalu lengkaplah puzzle hidup kita.

Mungkin ruang kosong itu bisa diartikan dengan suwung.

Selasa, 29 Oktober 2013

Sabtu Malam Kemarin



Bahagia adalah saat bisa menyaksikan White Shoes and The Couple Company dan Payung Teduh berdendang dalam satu malam, di satu tempat. Kehujanan dan kehilangan helm tak mampu menepisnya :)

Senin, 16 September 2013

Selamat Boi!

Selepas Idul Fitri bulan lalu, sudah 3 kali saya bertemu dengan sahabat saya, Hilmy. Beberapa hari setelah hari raya, ia datang ke rumah bersama istrinya. Lalu bertemu di Stasiun Purwokerto ketika saya akan kembali ke Jakarta dan terakhir bertemu secara tidak direncanakan di Semarang.

Ada pesan yang saya ingat ketika kami bertemu di Stasiun Purwokerto. Dia berpesan pentingnya tujuan hidup. Kata Hilmy, ada banyak orang yang ngalor ngidul kesana kemari, tapi dia tidak tau sebenarnya apa yang sedang ia cari. Kalimatnya jleb banget bagi saya :)

Beberapa jam setelah kami bertemu di Semarang, ia mengirimkan sebuah pesan pendek yang memberitahukan bahwa istrinya sedang mengandung. Selamat Boi! :)

Jakarta Yang Bergairah?

Sudah lama saya tidak menulis disini. Lebih tepatnya, sudah lama saya tidak menulis. Hanya beberapa postingan dalam setahun ini. Hampir tepat 1 tahun saya memasuki pekerjaan baru saya di Jakarta. Pekerjaan yang menuntut saya untuk bepergian dari kota ke kota, juga melewati malam demi malam tanpa mata terpejam.

Sudah 3 bulan ini saya berpindah tempat tinggal. Setelah hampir 2,5 tahun tinggal di Jakarta Pusat, tengah kota yang hanya 'selemparan batu' dari Monumen Nasional dan dekat dengan fasilitas apapun. Kini saya tinggal di selatan Jakarta. Pertimbangan memutuskan untuk pindah adalah karena saya ingin lebih dekat dari kantor. Memangkas jarak ke kantor yang tadinya hampir 1 jam menjadi beberapa menit saja.

Nampak nyaman pada awalnya, namun ada 1 hal mendasar yang berubah. Jakarta Pusat dengan selatan Jakarta ternyata sangat berbeda. Dari lingkungan, lalu lintas dan fasilitas. Saya kehilangan Jakarta yang bergairah. Yang ketika semua orang berharap bisa meninggalkan Jakarta, namun saya malah merasa nyaman mendiami Jakarta. Saya kehilangan Jakarta, yang ketika saya begitu penat dengan rutinitas pekerjaan, saya bisa pergi ke museum, taman bermain, perpustakaan nasional, dan toko buku hanya dengan berjalan kaki. Saya kehilangan Jakarta dimana saya hanya perlu berjalan sebentar untuk menjangkau halte bus atau stasiun. Saya kehilangan Jakarta, tempat dimana setiap hari saya menunggu Trans Jakarta untuk pergi ke kantor dan bertemu dengan banyak karakter dalam perjalanannya. Berganti-ganti dan terus menerus setiap hari. Saya kehilangan Jakarta yang saya impikan, saat ini.

Namun, dilain sisi, Jakarta membuat saya menjadi seorang pengeluh, seperti dalam tulisan ini ;)


Senin, 25 Maret 2013

De Javu di Bandar Lampung

Semuanya serba terburu-buru.

Beberapa saat setelah pesawat lepas landas, masih dalam keadaan badan pesawat yang miring ke atas karena pesawat baru ‘menanjak’ naik. Pramugari dengan susah payah mendorong ke depan sebuah trolly berisi roti dan air mineral untuk dibagikan kepada penumpang. Ya, semuanya serba terburu-buru karena belum genap 30 menit penerbangan ini, pilot memberitahukan bahwa pesawat akan segera mendarat.

Tak lebih dari 30 menit akhirnya pesawat mendarat dengan goncangan yang keras karena landasan di lapangan terbang ini tidak terlalu panjang. Panas terik menyambut begitu saya turun dari pesawat. Lalu masuk ke dalam ruang pengambilan bagasi yang begitu kecil dan pengap. Bahkan loket pemesanan taksi juga ada di ruangan yang sama. Bagasi datang begitu lambat, bahkan lebih lama dari penerbangannya. Hahaha. Sampai kemudian saya mengambil tas dan bergegas keluar dari ruangan yang penuh sesak itu.

Selamat datang di Bandar Lampung.

Dari bandara, perlahan taksi menuju ke tengah kota. Saya memandang jauh ke luar. Dalam hati bergumam bahwa saya sebenarnya tidak ingin datang ke kota ini. Sampai kemudian lamunan saya terhenti ketika saya melihat sebuah terminal bus di pinggir jalan bertuliskan ‘Terminal Rajabasa’. Ya, saya pernah memiliki sepenggal kenangan di terminal itu bersama Melyn dan Hilmy. Tak jauh dari terminal itu, di kiri jalan saya melihat sebuah bangunan yang tidak asing bagi saya, ‘Museum Lampung’. Saya mengingat moment numpang mandi di dalamnya.

Taksi terus melaju dan dalam perjalanan ke tempat menginap saya, taksi ini juga melewati ‘Stasiun Tanjung Karang’. Tiba-tiba, saya seperti terbawa mesin waktu, mengingat banyak moment di stasiun itu. Tak jauh dari stasiun, taksi tepat berhenti di depan hotel. Saya bergegas masuk dan setelah ribet dengan segala macam administrasinya akhirnya saya bisa tidur di kamar.

Malam selepas maghrib, saya keluar dari hotel untuk mencari makan. Di dekat hotel, ada sebuah tempat makan di sebuah ruko yang memikat saya karena tempatnya yang ramai. Saya masuk ke dalamnya dan sesaat kemudian saya seperti kembali ditarik ke dalam mesin waktu. Saya seperti merasa pernah ada di tempat ini. Sampai kemudian saya teringat bahwa saya, Melyn dan Hilmy pernah diajak makan disini oleh Febs.

Tuhan maha asik. Dulu, saya pernah singgah di kota ini dan tidak ingin kembali ke kota ini lagi. Tapi Tuhan mengirimkan saya ke kota ini lagi. Lalu saya bertemu dengan serpihan-serpihan kenangan ketika dulu saya pernah singgah di sini. Bahkan secara tidak sengaja makan di tempat dahulu saya makan siang untuk pertama kalinya di kota ini.

Tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan kan?

Senin, 21 Januari 2013

Pilihan?


Saya menikmati moment seperti ini.

Mengisi Minggu Sore dengan duduk di lantai paling atas kost tempat saya tinggal. Membaca buku-buku yang tidak bisa saya baca di hari biasa. Lalu melihat turunnya senja di langit Jakarta. Mungkin tak seindah senja di depan rumah saya di kampung. Tapi saya sedang belajar bahwa segala sesuatu tidak semuanya harus memiliki pembanding (juga diperbandingkan). Segala sesuatu memiliki sisinya sendiri, -juga memiliki alasan tersendiri barangkali-. Meski seperti yang pernah aku bilang kepada dia, tidak semua hal di dunia ini membutuhkan alasan. Meskipun akibat selalu berawalan dengan sebab.

Dari tempat duduk saya ini, saya bisa melihat lantai 3 kost depan. Dimana setiap Minggu Sore saya selalu melihat ada sepasang lelaki dan wanita duduk berbincang di beranda kost mereka. Saya tidak tau (atau tidak mendengar) apa yang mereka perbincangkan meski sorot mata mereka sudah menerjemahkan apa yang mereka perbincangkan (saya sok tau untuk yang satu ini).  Lalu perbicangan antara mereka akan di tutup dengan pelukan serta ciuman mesra di bibir dan kening sang wanita. Sang wanita lalu mencium tangan sang pria ketika mereka berjabat setelah itu.

Sang Pria lalu turun memanggul ranselnya ke lantai bawah, mengambil motornya di parkiran. Dari atas balkon lantai 3, wanita itu menunggu sambil memandang terus ke bawah.  Ketika sang pria sudah berjalan menjauh dan tak nampak lagi punggungnya, wanita itu baru beranjak masuk ke dalam kamarnya. Sederhana, namun  ‘dalam’. Dan sepenggal kejadian itu akan terulang lagi di hari minggu-minggu berikutnya, dan sepertinya saya sudah mulai terbiasa untuk terbawa ritme, diantara perpisahan sementara mereka setiap minggunya.

Ada Sabtu dimana mereka bertemu, ada Minggu ketika mereka terpisah. Itu masalah pilihan.

Baru kemarin saya menyelesaikan bacaan Novel ‘Pulang’. Ada karakter yang membekas sekali dengan saya, membaca karakternya saya seperti membaca karakter saya sendiri. Saya sangat berterima kasih dengan penulis novel itu karena setidaknya saya bisa kembali memasuki hidup saya lebih dalam lagi. Seperti berkaca, barangkali. Dan yang paling membekas dari novel itu adalah sepenggal surat dari Dimas Suryo (tokoh di novel itu) kepada anaknya, Lintang Utara. Ah, dalam sekali surat itu. Kamu tentu tau kenapa.

Senja kini turun dengan cantiknya, selepas hari-hari gelap belakangan ini di Jakarta. Banjir sempat menyeruak di kost tempat saya tinggal. Ah, rasanya Januari semakin absurd bagi saya. Dan kini sudah mendekati akhir Januari, kamu tentu ingat percakapan kita tentang akhir Januari kan? Melihat senja seperti ini, saya rindu masa lalu. Bukan masa lalu penuh kegelapan itu, tentunya. 

Ijinkan saya mengutip sebuah kalimat diakhir novel Pulang, “.. Lebih mudah untuk tidak memilih, seolah tak ada konsekuensi. Tetapi seperti katamu, memilih adalah jalan hidup yang berani.”

Kamis, 10 Januari 2013

Bahagia

Bahkan selepas maghrib, kota ini masih panas.

Bersama seorang kawan kerja, saya duduk di sebuah pojokan tempat makan. Sambil duduk menunggu pesanan, saya sibuk dengan hp saya. Sedangkan teman saya nampaknya sedang menerima telepon dari istrinya. Untuk sementara waktu ia dan istrinya memang terpisah karena ia harus mengerjakan project disini, sedang istrinya ada di rumah mereka yang berbeda kota.

Tiba-tiba saya lihat, teman saya yang masih menerima telepon ini matanya berkaca-kaca. Ah rupanya kabar baik menghampirinya, ia mendapat kabar bahwa istrinya mengandung anak pertama mereka. Anak pertama pernikahan mereka 4 bulan lalu. Oh, rupanya, matanya nampak berkaca-kaca karena bahagia.

Saya belum pernah merasakan perasaan seperti itu. Tapi pastinya bahagia ya?

Surabaya, awal Desember 2012

Minggu, 14 Oktober 2012

Dua Puluh Lima

Malam itu ia sibuk mencorat-coret sebuah kertas..
Sebuah kertas putih ia corat-coret dengan garis, lingkaran dan kata-kata yang harus ia pikirkan benar apa yang hendak ia tulis. Ada garis mendatar berwarna merah dan garis menurun berwarna hitam. Garis itu berawal di ujung atas kertas, kemudian melingkar menuju titik tengah kertas. Dengan diselingi dengan beberapa tulisan di antara garis-garisnya, perpaduan garis dan tulisan itu membentuk sebuah peta. Peta hidup!
Seperti remaja seusianya ketika itu, ia masih terbawa ueforia dari novel yang Ayat-Ayat Cinta yang ia baca. Tokoh utama di dalam novel itu digambarkan memiliki sebuah peta hidup. Ia ingin meniru tokoh utama dalam novel tersebut untuk membuat peta hidup. Malam itu, ia berfikir keras tentang pandangannya ke depan. Tentang keinginan dan mimpi-mimpinya yang kemudian ia tulis dan gambarkan di peta hidupnya. Setelah selesai, ia melipat kertas bergambar peta hidup itu serapi-rapinya. Lalu meletakkan di tempat terbaik dan rahasia yang ia miliki.
Sejenak kemudian ia pejamkan mata, seraya berdoa untuk apa yang telah dituliskannya..
Hari berganti hari, tahun demi tahun berlalu begitu cepat. Banyak peristiwa yang terjadi. Ada suka dan duka. Banyak yang datang, banyak pula yang pergi. Ada yang singgah sekejap, ada pula orang-orang yang selalu mengiringi apapun langkah dan pilihannya. Ia terus berusaha untuk menggapai semua keinginan dan harapkan yang pernah dituliskannya di dalam peta hidup.
Malam ini ia sibuk mencorat-coret sebuah kertas..
Manusia boleh berencana, tetapi pada intinya adalah Tuhan yang menentukan. Pada suatu titik, ia menyadari bahwa peta hidup yang ia tuliskan bertahun-tahun lalu itu adalah bagian dari sebuah doanya. Ada banyak hal yang ia tuliskan dalam peta hidup bisa ia capai. Meskipun banyak hal pula yang tidak atau belum tercapai. Bersyukur untuk semua hal yang telah tercapai dan tidak menyesali hal yang tidak tercapai. Ia mengganggap bahwa peta hidup selain sebagai doa, bisa juga sebagai pengingat bahwa hidup harus selalu mempunyai harapan.
Malam ini ia membuka lagi peta hidupnya. Sudah sampai di ujung akhir dari apa yang ia tuliskan ketika itu. Tepat 6 tahun lalu, ketika berumur 19 tahun ia menuliskan peta hidupnya untuk pertama kalinya. Hari ini, peta itu usai. Tepat diusianya yang ke-25.
Ia melipat rapi kertas berisi peta hidup itu. Lalu menjadikannya sebuah burung kertas. Diterbangkannya burung kertas itu dari ujung atas kantornya yang menjulang di selatan Jakarta. Kertas itu melayang-layang jauh ke bawah. Hidup terus berjalan dan tetap harus memiliki harapan. Ia membuka lagi sebuah kertas yang masih putih bersih.
Sejenak kemudian ia pejamkan mata, seraya berdoa untuk apa yang akan dituliskannya..
Ia mengambil pena dan menuliskan sebuah judul di ujung atas kertas “Peta Hidup Jilid Dua –Ginanjar Adhi Yuwana”

Minggu, 30 September 2012

Tidak Suka Hujan

Di kampung, saya begitu menyukai hujan. Tapi tidak di Jakarta ini.

Di Jakarta, banyak sekali orang yang hidup di atas gerobak. Kemana-kemana membawa gerobak. Mungkin, kalau siang dipakai untuk memulung sampah dan malamnya dipakai sebagai alas tidur. Hidup dan tidur di atas gerobak. Tidak hanya sendiri, bahkan dengan istri dan anaknya. Pagi, siang, sore dan malam di samping gerobak. Panas dan hujan di atas gerobak.

Di kampung, saya begitu menyukai hujan. Tapi tidak di Jakarta ini.

Saya membayangkan ketika hujan, di mana mereka akan berteduh?

Di kampung, saya begitu menyukai hujan. Tapi tidak di Jakarta ini.

*20/09/2012 19:00 di pinggir jalan daerah Tebet saya melihat serombongan orang yang tinggal di gerobak. satu di antara mereka, seorang ibu dengan garis wajah mirip ibu saya =(

Jumat, 31 Agustus 2012

Jakarta di Akhir Agustus..

Sore ini nampak terik. Beberapa hari terakhir, Jakarta sangat panas dan kering. Dengan tas ransel yang sedikit ringan hari ini, saya melangkah keluar dari kost. Menyusuri jalanan gang untuk keluar ke jalan raya.

Di ujung gang, nampak beberapa ojek langganan sedang menunggu penumpang. Mereka langsung melambaikan tangan begitu melihat saya keluar dari gang. Hanya dengan isyarat anggukan, salah satu dari mereka kemudian mendatangi saya lengkap dengan helmnya. Tanpa bertanya-tanya ongkos dan tujuan, mereka sudah paham jika hari Jumat sore saya keluar kost, maka tujuan saya adalah ke Terminal Rawamangun.

"Tumben bang, wangi sore ini. Habis keramas ya" gurau saya setelah memakai helm kemudian perlahan motor berjalan.
"Haha, tau aja mas ini. Hari Jumat mas, spesial dong. Mandi lalu jumatan" kata abang ojek.

Jalanan sore ini tidak terlalu macet dibanding Jumat seperti biasanya. Mungkin karena masih banyak orang yang belum kembali lagi ke Jakarta setelah mudik lebaran. Sebelum sampai perempatan Matraman, abang ojek belok ke sebuah jalan alternatif. Memang sama ramainya. Tapi setidaknya lebih dekat. Jalan alternatif ini persis di pinggir rel kereta api.

Diantara deru kendaraan yang berhamburan, sebuah kereta api lewat dengan suara khasnya. Sejajar dengan jalan raya dimana ribuan motor dan mobil sedang berjalanan berpacu dengan waktu juga. Suara ramai jalan, suara kereta yang khas, dan hiruk pikuk kendaraan yang melintas seakan memberi sensasi tersendiri untuk saya. Rasanya merinding.

Tak berapa lama kemudian, sampailah di Terminal Rawamangun. Saya bergegas ke sebuah loket bus untuk mengambil tiket yang sudah saya pesan lewat telfon sebelumnya. Waktu baru beranjak dari pukul 17 lebih sedikit, padahal bus baru akan berangkat pukul 18.30.

Saya duduk di depan loket untuk menunggu. Seorang ibu yang duduk disamping saya kemudian menyapa. Kami lantas berbincang. Nampaknya ibu ini akan pergi ke Palembang, sedangkan bus yang akan ia naiki belum datang padahal sudah menunggu hampir 5 jam. "Harusnya jam 1 mas, tapi ini sudah jam segini belum datang juga. Baru diganti sama nasi sebungkus sama air. Kalau gini rasanya capek, menunggu, udah nggak shalat pula". Saya bingung mau menjawab apa. Saya hanya mencoba mendengarkan cerita ibu ini.

Saya sendiri setelah lebaran, baru seminggu di Jakarta. Jakarta bagi saya semakin 'absurd' saja. Namun tidak dipungkiri bahwa di kota ini ketergantungan hidup saya terhadap pekerjaan. Dan dengan pekerjaan di Jakarta pula, saya bisa mewujudkan impian saya. Bisa dibilang benci tapi juga sayang.

Bus yang akan saya naiki datang, saya bergegas naik. Bus kemudian berangkat dengan penumpang yang tidak terlalu penuh. Perlahan-lahan meninggalkan Jakarta, untuk kemudian kembali lagi ke kota ini. Benci tapi sayang. "..ke Jakarta aku kan kembali" begitu liriknya lagunya Koes Plus.

*postingan random nggak jelas di dalam bus, semata-mara untuk mengisi waktu :P *
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Senin, 30 Juli 2012

Singgah ke Samosir

*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (18)

kelanjutan dari : Semalam Diantara Padang - Parapat


samosir!


Bus jurusan Medan – Padang ini terus berjalan menembus pagi. Dari kampung ke kampung dilewati, pemandangan pedesaan di Sumatra Utara ini sungguh membuat perasaan hati jauh lebih nyaman. Hilmy dan Melyn yang duduk di depan saya juga sudah bangun. Hilmy kemudian sibuk dengan peta yang ia bawa. 

Tak lama kemudian, bus berbelok ke dalam sebuah terminal yang tidak jelas papan petunjuknya. Bus berhenti dan kondektur bus bergegas turun. Kondektur bus memanggil seorang laki-laki muda yang sedang duduk di depan biro wisata yang ada di terminal. Kami sendiri masih ragu apakah kami sudah sampai di Parapat atau belum. Lelaki muda tadinya duduk di depan biro wisata itu kemudian naik ke dalam bus. Ia memberitau dengan bahasa Inggris yang fasih kepada seorang Marco bahwa ini sudah sampai di Parapat.

Saya, Hilmy dan Melyn kemudian turun mengemas barang bawaan kami. Marco dan Vera juga turun disini. Tas-tas yang besar diturunkan dari bagasi. Ternyata dari Terminal Parapat menuju dermaga ke Danau Toba kami harus menggunakan angkot. Sebuah angkot datang mendekat dan menawarkan jasanya menuju ke pelabuhan. Melyn yang orang Medan sudah merasa sampai di kampung halamannya. “Opung, berapa sampai ke pelabuhan?” tanya Melyn kepada laki-laki tua yang menjadi pengemudi angkot. “Tiga ribu” pengemudi angkot menjawab dengan sangat lempeng, hampir tanpa ekspresi.

Saya, Hilmy dan Melyn kemudian naik ke dalam angkot. Diikuti Marco, Vera serta 2 orang Inggris yang tadi ikut bus ALS itu. Angkot terisi 6 penumpang namun rasanya sudah sesak sekali. Barang bawaan kami berenam nampaknya besar-besar. Kami maklum dengan bawaan mereka yang besar mengingat perjalanan mereka yang berbulan-bulan.

Tak sampai 10 menit sampailah kami di Pelabuhan Tigaraja, Parapat. Parapat ini masuk wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. Pelabuhan ini ramai karena ini adalah jalur penghubung menuju ke Pulau Samosir. Di sekitar pelabuhan ada sebuah pasar dan beberapa biro jasa wisata. Turun dari angkot kami langsung ‘diserbu’ penawaran jasa penginapan baik di Parapat maupun di Tuktuk. Kami berusaha menolak karena kami tidak akan menginap malam ini.

Seorang opung yang menyuruh kami untuk masuk ke dalam kantornya yang sudah dipenuhi banyak wisatawan asing. Tak menyerah karena kami menolak penawaran penginapan yang ditawarkan, ia menawarkan jasa travel untuk perjalanan kami ke Medan nanti malam.

Di Pelabuhan kami naik ke sebuah kapal yang bertujuan Tuktuk di Pulau Samosir. Di kapal kami bertemu lagi dengan Vera dan Marco. Pemandangan Danau Toba yang baru pertama kali saya kunjungi ini sungguh indah. Cuaca yang sangat cerah menghiasi perbukitan di Samosir yang khas dengan cemaranya. 

penyeberangan tigaraja

ornamen pada kapal parapat-tuktuk

hilmy, saya, melyn, vera, dan marco


Di depan, Pulau Samosir terbentang begitu besarnya. Kapal kemudian perlahan mulai berjalan ‘membelah’ Danau Toba, danau terbesar di Asia Tenggara. Saya sangat bersyukur bisa sampai di tempat yang indah ini. Perjalanan dari Parapat ke Tuktuk ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam.
Di atas kapal, kami bertiga banyak berbincang dengan Vera dan Marco. Tentang pengalaman perjalanan mereka ke Asia Tenggara. Yang saya salut dari mereka adalah kuatnya riset. Mereka tau bahwa meskipun Indonesia mayoritas penduduknya muslim, penduduk disekitar Danau Toba ini adalah nonmuslim. Selain itu jauh-jauh hari mereka sudah memesan penginapan di Tuktuk. 

Mereka traveler yang tidak menghitung jumlah destinasi namun focus untuk menikmati interaksi terhadap tempat yang mereka kunjungi. Hal ini berbeda dengan kami, pejalan pemula yang terobsesi mendatangi banyak tempat namun kadang jauh dari interaksi dengan tempat yang kami kunjungi.
Semakin lama, Pulau Samosir semakin dekat. Dari kejauhan kami melihat perkampungan di Samosir dengan cemara-cemaranya. Di tebing sebuah bukit ada tulisan Samosir. Mungkin seperti tulisan “Hollywood” di Hollywood Hills.

Kami mengira di Tuktuk adalah sebuah pelabuhan. Nampaknya kami yang kurang mencari informasi sebelum keberangkatan menjadi kecele. Tuktuk adalah sebuah perkampungan dengan banyak hotel persis di pinggir Danau Toba. Di Tuktuk, kapal akan berhenti di depan hotel-hotel yang persis ada di pinggir Danau Toba. Jadi setiap hotel yang di pinggir danau semacam mempunyai ‘dermaga’ sendiri-sendiri. 

tomok dari kejauhan, dengan gereja tua yang menjulang

parapat dari kejauhan

tomok dan bukit-bukitnya

di atas kapal menuju tuktuk

'kondektur' kapal dengan pemandangan hotel-hotel tuktuk di depannya


Vera dan Marco yang tadi bersama kami juga sudah turun di sebuah hotel. Kami berpamitan ketika mereka harus turun setelah melewati perjalanan bersama dari Bukittinggi. Kami kemudian berbagi alamat jejaring sosial untuk tetap saling berkomunikasi.

Sebagian penumpang sudah turun di hotel-hotel yang mereka tuju. Kini giliran kami yang bingung akan turun dimana. Akhirnya kami turun di tempat perhentian terakhir kapal. Bukan di sebuah pelabuhan, namun di belakang rumah yang persis ada di tepi Danau Toba. Dari belakang rumah itu kami berjalan melalui sebuah jalan setapak kecil menuju ke jalan besar.

Di sebuah jalan yang agak besar dengan kondisi yang rusak, kami berjalan tak tentu arah. Yang penting kami sudah sampai di Samosir pikir kami. Ketika kami berjalan, saya berandai-andai ke Hilmy dan Melyn. “Andaikan di depan kita tiba-tiba ada persewaan sepeda atau motor ya”. Baru beberapa detik kalimat pengandaian itu keluar, di depan sebuah tanjakan yang kami lewati tiba-tiba ada sebuah toko dan persewaan sepeda motor di kiri jalan. Tuhan maha baik.

Seorang ibu menyambut kami dengan sumringah. Di depan tokonya di pinggir jalan perkampungan Tuktuk, ia menawarkan sewa sepeda motor kepada kami. “Tidak mahal, ini murah karena minyak sekarang susah didapat” ibu itu bergeming ketika kami menawar biaya sewa sepeda motor agar murah. Setelah tercapai kesepakatan biaya sewa, kami menitipkan tas-tas kami di toko milik ibu ini. “Tidak disertai STNK? Nanti kalau ada polisi bagaimana?” tanya Hilmy. Ibu pemilik sepeda motor menjawab “Tidak apa-apa, kalau polisi bilang saja kalian turis”

Sebelum pergi, Hilmy kembali bertanya “Bu, di sini tempat yang paling bagus view-nya dimana?”. Ibu ini menjawab dengan lantang dan tanpa ekspresi, namun menurut saya sangat mantap. “Semua tempat disini bagus, kalau tidak bagus bukan Samosir namanya!”. Tegas. Mantap.

Dari tempat persewaan,  kami kemudian pergi ke daerah Tomok. Sebuah perkampungan yang mengingatkan saya akan desa-desa yang digambarkan pada buku-buku dongeng ketika saya masih kecil. Dengan perbukitan hijau, jalanan yang sepi dan gereja-gerejanya. Di Tomok ini pula terdapat berbagai makam dan benda-benda peninggalan zaman megalitik dan purba. Berdiri di depan sebuah rumah adat besar yang ada di Tomok membuat kami terpukau dengan kebudayaan disini.

Berputar-putar diantara Tomok dengan Tuktuk dengan jalan yang ada di tepian Danau Toba membuat kami mengiyakan kenapa banyak wisatawan dari luar negeri datang kesini. Mungkin tidak seindah beberapa puluh tahun silam, namun bagi kami ini salah satu keindahan yang orang Indonesia akan rugi jika melewatkan. 

buku bacaan kami di jalan untuk mengusir suntuk

saya, melyn dan hilmy

selamat datang di samosir!

rumah adat di tomok


Setelah putar-putar tak tentu arah dan hanya duduk-duduk di tepian Danau Toba melihat lalu lalang kapal, menjelang sore kami mengembalikan motor dan mengambil tas kami. Kami berencana untuk kembali ke Parapat lagi. Kami duduk disebuah dermaga pinggir danau di untuk menunggu kapal menuju Parapat yang lewat.

Beberapa anak kecil nampak mandi dan mencuci di pinggir danau. Cuaca yang panas terik membuat saya, Hilmy dan Melyn lebih banyak duduk di bawah pohon sambil mengamati anak-anak kecil ini mandi. Kapal tak kunjung lewat, sementara air danau menarik-narik kami untuk merasakan kesegarannya. Hilmy mengajak saya untuk berenang di danau. Panas terik dan dahaga karena puasa menjadikan saya tak kuasa untuk menolaknya. Kami turun ke danau dan mandi di tengah terik matahari siang. Rasanya begitu menyegarkan namun seketika muka kami menjadi belang-belang. 

menunggu kedatangan kapal


Celana masih basah karena berenang ketika kapal kemudian lewat, Melyn segera memberi aba-aba agar kapal merapat karena kami akan naik. Dengan celana yang masih basah, saya dan Hilmy kemudian naik ke kapal. Saking panasnya matahari, baru beberapa saat masuk ke kapal, celana saya perlahan-lahan kering dengan sendirinya. Kapal kemudian banyak berhenti untuk menaikkan penumpang di depan hotel-hotel di sekitar Tuktuk. Rasa segar setelah mandi di danau membuat saya mengantuk. Saya tertidur di dalam kapal, sementara Hilmy sibuk jalan-jalan di bagian atas kapal.

Sesampai di Parapat kami bergegas pergi ke kamar mandi umum yang ada di pasar untuk mandi dan  berganti pakaian. Berenang di danau dengan kondisi cuaca yang sangat terik membuat kulit mulai bersisik. Saya ingin cepat-cepat mandi dengan air yang bersih. Air mengalir dengan deras di bak kamar mandi. Saya penasaran dari mana datangnya air deras ini, sedangkan ibu-ibu di Samosir yang sempa kami temui tadi mengeluh kekurangan air bersih disana. Selepas mandi saya kemudian berjalan menuju belakang kamar mandi untuk menghilangkan penasaran saya dari mana datangnya air disini. Nampaknya sebuah selang tersambung menuju ke danau. Berarti air yang mengalir deras ke bak tadi berasal dari air danau juga. Kalau gitu tidak ada bedanya saya mandi di danau sama mandi di kamar mandi umum dong. Sama-sama air danau. Ah, sudahlah.

Rabu, 25 Juli 2012

Semalam Diantara Padang - Parapat


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (17)

kelanjutan dari : Mampir Sekejap ke Padang

Suasana nampak mulai mendung dan gerimis. Kami beranjak masuk ke dalam bus yang akan berangkat ini. Bus dengan rute panjang dari Padang menuju ke Medan. Beberapa penumpang meski tidak banyak juga mulai naik ke dalam bus. Keadaan bus lumayan bersih, dengan sebuah toilet di bagian belakang.



Tidak lama kemudian pengemudi bus dan kondekturnya masuk ke dalam bus. Perlahan-lahan bus mulai berjalan meninggalkan agen. Suasana jalanan sepi karena gerimis sudah berganti menjadi hujan. Pengemudi bus mengemudikan bus ini dengan nyaman, sedangkan kondekturnya sedari tadi sibuk memilih kaset lagu yang akan diputar.

Keadaan di dalam bus semakin lama semakin dingin. Hilmy dan Melyn yang duduk di depan saya juga mulai memakai jaket mereka. Untuk mengurangi dingin, saya keluarkan sarung saya untuk krukuban. Rute yang akan dilalui bus ini adalah dari Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, Padang Sidempuan baru kemudian akan masuk wilayah Sumatra Utara.

Satu jam selepas dari kota Padang, kami melewati jalan dengan hutan yang rindang di kanan dan kirinya. Jalanan sedikit menanjak dengan pemandangan yang menajubkan. Diantara jalan yang menanjak dan berliku kami melihat ada jembatan kereta diatasnya, lalu di bawahnya ada sebuah air terjun persis di pinggir jalan. Ada juga sungai yang mengalir dengan cantik, namanya Sungai Batang Anai. Hujan dan hijaunya hutan disekitarnya semakin menambah kecantikan tempat ini. Daerah ini adalah kawasan Lembah Anai. 

Jembatan kereta yang ada di atas adalah jalur kereta yang menghubungkan antara Padang dengan Sawahlunto. Jalur itu pula yang tempo hari saya lihat ada di tepian Danau Singkarak. Kawasan Lembah Anai sudah terkenal dari jaman Belanda sebagai kawasan yang cantik. Belanda pula yang membangun jalan raya dan jalur kereta mengikuti alur sungai Batang Anai ini.

Namun yang sangat kami sayangkan adalah kami hanya bisa menikmati pesona Lembah Anai dari dalam bus dan tidak bisa turun. Bus terus berjalan sehingga kami hanya bisa melihat Lembah Anai dalam tempo yang sekejap. Inilah alasan kenapa suatu saat nanti kami harus mengulang perjalanan kami di Sumatra ini dengan kendaraan sendiri. Agar bisa berhenti di tempat-tempat yang kami kehendaki.

Dari Lembah Anai bus kemudian mulai melewati jalur Padang Panjang – Bukittinggi. Jalur ini juga yang kemarin kami lewati dalam perjalanan Solok – Bukittinggi. Menjelang pukul 5 sore sampailah kami di Bukittinggi. Suasana di luar bus masih hujan, bus berhenti di sebuah agen di Bukittinggi untuk menaikkan beberapa penumpang.

Ada beberapa wisatawan asing yang naik dari agen bus ALS di Bukittinggi ini. Jalur Bukittinggi, Parapat (Danau Toba) sampai ke Banda Aceh adalah salah satu rute favorit dari para wisatawan asing. Biasanya dari Bukittinggi, mereka akan singgah ke Danau Toba. Diantaranya adalah beberapa wisatawan asing yang naik dari agen bus di Bukittinggi ini. 

Dari beberapa percakapan, kami kemudian berkenalan dengan 2 orang wisatawan dari Swiss yang duduk persis di depan Hilmy dan Melyn. Mereka memperkenalkan diri dengan nama Vera dan Marco. Sepasang muda mudi dari Swiss yang sudah 6 bulan ini berpetualang di Asia Tenggara. Setelah mengunjungi Thailand dan Malaysia, mereka kemudian pergi ke Padang dan Bukittinggi. Dari Bukittinggi mereka akan menuju ke Danau Toba dan Banda Aceh untuk kemudian kembali ke negara mereka melalui Singapura.

Jalanan selepas dari Bukittinggi mulai berliku. Hutan Bukit Barisan yang hijau menghias di kanan dan kirinya. Pemandangan begitu indah ketika jalan raya ada di atas bukit dan kita bisa melihat gugusan perbukitan dengan pepohonan yang luas. Kabut tipis-tipis menyelimuti perbukitan dengan gerimis yang menambah syahdu suasana. 

Kondektur bus memutar lagu-lagu india yang bising. Saya membayangkan kami sedang ada di dalam bus yang mengitari perbukitan di Kashmir dengan iringan lagu-lagu India. Serta penumpangnya yang saling bercengkerama dan berjoget. Membayangkan di sebelah saya adalah Kareena Kapoor yang jelita itu. Ah, ini bukan di India boi.

Mungkin karena kondektur bus mendengar jeritan hati kami yang merasa tersiksa dengan lagu india yang bising itu. Ia menggantinya dengan lagu-lagu Ebiet G Ade.
Menurut saya, lagu-lagu Ebiet G Ade adalah lagu yang paling enak didengarkan ketika kita sedang ada di jalan. Paling nyaman dipakai untuk merenung ketika kita sedang punya pandangan jauh ke luar bis. Terlebih suasana hujan di luar sunggu membuat perjalanan ini berkesan sekali.

Di tengah lamunan saya, Hilmy dan Melyn. Vera bertanya kepada kami judul lagu yang sedang diputar di bus ini. Dia suka dengan lagu yang diperdengarkan. Nampaknya ia tau mana lagu yang bagus dan mana yang kurang bagus. Vera lalu bersiap menuliskan nama penyayi dan judul lagu di sebuah kertas yang telah ia persiapkan. Dari liriknya kami menjawab kalau ini adalah lagu Ebiet G Ade, judulnya Berita Kepada Kawan. Mungkin Vera tidak mengetahui arti dari liriknya karena menggunakan bahasa Indonesia. Tapi musik tentu adalah bahasa yang universal. Dan disini, puluhan ribu kilometer dari tempat asalnya, dengan budaya dan bahasa yang berbeda dari negaranya. Di tengah perjalanannya di pelosok Sumatra, ia bertemu dengan sebuah lagu yang tanpa ia ketahui arti liriknya adalah bercerita tentang sebuah perjalanan.
“..perjalanan ini terasa sangat menyedihkan. sayang engkau tak duduk di sampingku kawan. banyak cerita yang mestinya kau saksikan..” | Berita Kepada Kawan – Ebiet G Ade

Bus terus berjalan ketika langit mulai gelap. Pukul 7 malam ketika bus akhirnya berhenti di depan sebuah rumah makan. Banyak sekali bus antar kota berhenti disini. Saya, Hilmy dan Melyn kemudian makan Sate Padang yang belum kesampaian dari kemarin. Kalau kemarin kami sudah makan masakan Minang di tanah Minang. Kini kami ingin merasakan sate Padang yang terkenal itu. 

Hampir berhenti 1 jam, bus kembali melanjutkan perjalanannya. Suasana bus makin lama makin dingin.  Kami semua kedinginan, bahkan wisatawan-wisatawan dari Eropa yang sudah terbiasa dengan hawa dingin saja mereka kedinginan di bus ini. Saya menduga pengatur AC di bus ini rusak, karena saya melihat pengemudi bus juga kedinginan. Kalau pengatur AC tidak rusak, tentu pengemudi bus sudah menaikkan suhunya agar ia tidak kedinginan. Namun yang saya lihat, pengemudi bus sampai melilitkan sarung pada badannya untuk mengurangi dingin.

Kami kemudian tertidur pulas. Beberapa kali saya terbangun karena dingin yang luar biasa di bus ini. Dua orang laki-laki dari Inggris nampak berkali-kali pergi ke toilet bus karena dinginnya.
Sekitar jam 12 saya terbangun dan melihat bahwa bus sudah memasuki daerah Padang Sidempuan. Menjelang sahur, bus kembali berhenti disebuah rumah makan. Banyak sekali bus yang berhenti di tempat ini. Dari nama daerah dan logat bicara orang-orang yang ada disitu, saya mengira bahwa kami sudah masuk wilayah Sumatra Utara.

Saya, Hilmy dan Melyn kemudian makan sahur. Saya memperhatikan dari sejak kami di Lampung sampai di sini, Sumatra Utara, kebanyakan kami berhenti di tempat makan yang menyajikan makanan Padang. Sehingga kami tidak terlalu sudah beradaptasi dengan makanan selama dalam perjalanan. Marco dan Vera tidak makan, mereka hanya menyedu teh hangat untuk mengurangi dingin. Disisa perjalanan, kami lebih banyak tidur. Bangku sebelah saya kosong sehingga saya bisa tidur dengan lebih leluasa.

Saya terbangun ketika hari nampak sudah sedikit terang. Jam menunjuk angka 7 lebih. Parapat sepertinya masih jauh. Di luar yang kami lihat adalah perkampungan-perkampungan yang tenang cenderung sepi. Nama daerahnya sudah mengandung nama-nama Batak. Suasana pagi yang indah gumam saya.

Selasa, 24 Juli 2012

Mampir Sekejap ke Padang...


*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (16)

kelanjutan dari : Menjelang Sore di Bukittinggi

Pagi ini saya mengalami salah satu periode yang menyedihkan dalam perjalanan ini. Waktu ketika saya harus pamit dengan keluarga yang ada di Solok ini untuk melanjutkan perjalanan. Sudah lama kami tidak bertemu, hampir 17 tahun. Dan belum genap 2 hari kami bertemu, saya harus melanjutkan perjalanan lagi.

Jabat erat nenek di Solok dan seluruh keluarga benar-benar membuat saya berat untuk meninggalkan kota ini. Sambutan hangat mereka ketika kami datang membuat saya ingin tetap ada disini. Namun perjalanan di depan masih panjang. Setelah Saya, Hilmy dan Melyn pamit dan berjalan di jalan setapak depan rumah menuju jalan raya, saya menahan rasa keinginan saya untuk menengok ke belakang lagi. Bukan karena apa-apa, tapi pasti itu akan menambah kesedihan. Dalam hati, saya hanya berucap bahwa suatu saat saya pasti akan kembali lagi ke tempat ini. 

Pagi ini, dari Solok kami akan pergi ke Padang. Lalu sore harinya kami akan naik bus menuju ke Prapat, Sumatra Utara. Masih seperti tempo hari dari Padang ke Solok, perjalanan dari Solok ke Padang menggunakan Jasa Malindo lagi. Jalanan kering dan rusak, beberapa kali harus berhenti karena ada perbaikan jalan. Saya tidak menikmati perjalanan kali ini, mungkin karena masih terbawa perasaan sedih tadi. Hilmy dan Melyn juga tampak lebih banyak diam. Entah kenapa pagi ini terasa sayu bagi kami.

Sesampai di Padang kami kemudian turun di sebuah perempatan menjelang sampai kota. Dari perempatan, kami berpindah naik angkot untuk pergi ke agen Bus ALS. Maksud kami untuk datang terlebih dahulu ke agen bus ini selain untuk membeli tiket bus ke Prapat adalah untuk menitipkan tas-tas berat kami. Kami ingin sejenak menyusuri kota Padang dengan ringan.

Setelah sampai di agen, kami membeli 3 tiket bus jurusan Padang – Medan. Namun dengan rute yang melalui Prapat karena kami berencana untuk turun disana. Bus yang akan kami naiki berangkat pukul 2 siang. Sedangkan jam saat ini sudah menunjuk angka 10 lebih. Masih ada beberapa jam untuk pergi ke pusat kota Padang. Setelah menitipkan tas di agen bus ini, kami kemudian naik angkot menuju pusat kota Padang. Tidak ada yang kami tuju di kota Padang ini, hanya untuk melihat-lihat suasana kotanya saja.

Dalam perjalanan menuju ke kota, saya baru ingat bahwa ada teman saya yang sedang tugas kerja di kota ini. Namanya Polo, teman yang sudah beberapa bulan ini mengerjakan sebuah project di Sumatra Barat. Saya segera menghubunginya untuk minta bertemu. Kami janjian di sebuah tempat di dekat Polres Padang. Kami yang sudah hampir 4 tahun tidak bertemu akhirnya bisa bertemu kembali. Kini kami duduk berempat di sebuah taman di seberang Polres Padang. Sebuah taman dengan sebuah lapangan sepakbola di tengahnya. Tribun penonton lapangan bola itu atapnya khas rumah gadang. 



Dari lapangan, kemudian saya, Hilmy, dan Melyn diantar ke sebuah museum yang tidak jauh dari tempat itu. Namanya museum Adityawarman. Begitu akan masuk ke museum saya heran, karena masuk ke museum ini dikenakan biaya yang tidak lazim. Biaya untuk 1 orang dewasa adalah Rp.2050. Kenapa tidak digenapkan saja, bukankah saat ini sangat susah ditemukan uang Rp.50. Melyn yang penasaran bertanya kepada petugasnya kenapa harus pakai 50 rupiah? Petugas yang ada di loket menjelaskan bahwa 50 rupiah tadi adalah biaya asuransi. 

Dari bagian depan, Museum Adityawarman ini berbentuk khas rumah gadang besar. Di depannya ada sebuah tugu. Sebelum naik tangga masuk ke dalam, ada patung sepasang manusia mengggunakan baju tradisional khas Minang. Seperti kondisi museum pada umumnya di Indonesia, kondisi disini sangat sepi. Di dalam museum menyimpan berbagai macam koleksi sejarah dan budaya Minangkabau. Di ruang utama kami melihat berbagai miniatur rumah adat dan pelaminan yang dipakai untuk pengantin Minang dengan segala pernak perniknya. Juga berbagai tradisi yang ada di Minangkabau ini.

di depan musem

arca adityawarman

sudut museum


Entah kenapa badan saya lemas sekali, tidak ada gairah lagi untuk menyusuri museum ini. Polo, Hilmy dan Melyn kemudian berjalan dari ruangan ke ruangan. Saya memilih untuk duduk dan menunggu mereka di depan saja. Rasa-rasanya ingin makan, tetapi kami masih berpuasa hari ini.
Setelah mereka selesai mengunjungi semua ruangan, kami berempat keluar dari museum. Saya, Hilmy dan Melyn kemudian berpamitan dengan Polo. Kami akan pegi ke agen bus ALS, sedangkan Polo harus melanjutkan perjalanannya kembali.

Dengan sebuah angkot kami menuju ke agen bus ALS. Cuaca Padang siang ini sangat terik, rasa haus menggelayut di tenggorokan. Menjelang Agustus, jalanan sudah mulai berwarna merah putih. Banyak sekali penjual bendera di pinggir jalan. Di sebuah persimpangan menuju agen bus kami turun, lalu berjalan kaki menuju agen bus. Jalan yang tadinya kami pikir tidak jauh, nampaknya jauh juga. Panas dan lelah menambah emosi. Saya berjalan cepat di depan sementara Hilmy dan Melyn di belakang. Rasanya ingin cepat-cepat sampai ke agen bus. Pikiran rasanya sudah buntu. Sesampai di agen bus, saya langsung membeli air minum. Glek, glek, glek. Batal sudah puasa saya hari ini. Pikiran kemudian (rasanya) menjadi terang benderang lagi. Ah, godaan memang selalu nampak lebih indah.

Senin, 23 Juli 2012

Menjelang Sore di Bukittinggi..

*cerita jadi Bolang keliling Sumatra bersama Hilmy dan Melyn (15)

kelanjutan dari : Danau Singkarak dan Padang Panjang 

Suasana berdesak-desakan di travel yang membawa kami dari Padang Panjang menuju Bukittinggi tidak begitu saya rasakan. Meski berdesak-desakan namun pemandangan di luar begitu indah. Gunung Singgalang disisi kiri memberikan panorama yang menyejukkan mata. Terlebih dengan aroma mobil yang diselimuti aroma durian. 

Selepas kota Padang Panjang, disisi kiri menuju Bukittinggi kami melewati sebuah papan nama bertuliskan Rumah Puisi Taufiq Ismail. Ada keinginan untuk turun dan berkunjung ke rumah puisi itu, namun diantara ragu akhirnya kami memutuskan untuk tidak turun dan melanjutkan perjalanan kami ke Bukittinggi.

Hampir satu jam ketika beberapa penumpang lain sudah mulai turun dan keadaan travel tidak sesesak sebelumnya. Menjelang masuk ke kota Bukittinggi, beberapa kali kami mengalami kemacetan. Kota ini lumayan ramai, tidak heran kalau menjadi kota yang paling padat penduduknya di Sumatra Barat.

Menjelang masuk tengah kota, pengemudi travel memberi tau kepada kami bahwa ia tidak bisa mengantar sampai ke Jam Gadang. Sehingga kami turun dan berpindah ke angkot agar bisa sampai ke Jam Gadang.

Hilmy sibuk membaca peta kota Bukittinggi di buku Lonely Planet yang ia bawa. Ia menyarankan kami untuk pergi ke Ngarai Sianok terlebih dahulu sebelum pergi ke Jam Gadang. Di sebuah perempatan diantara Jam Gadang dan Ngarai Sianok kami turun dari angkot. Kemudian berpindah angkot lagi menuju Ngarai Sianok.

Sekilas kota Bukittinggi ini adalah kota wisata. Bisa dilihat dari banyaknya penginapan juga wisatawan asing yang kami lihat berlalu-lalang. Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur di sepanjang pulau Sumatra. Kota ini berbukit-bukit (namanya juga sudah pakai bukit ya hehe). Hawa sejuk kami rasakan di kota yang berada pada tepi sebuah lembah bernama Ngarai Sianok ini.

Tak berapa kemudian angkot berhenti persis di pintu gerbang Taman Panorama Ngarai Sianok. Kami bergegas turun, namun sebelum masuk ke Ngarai, kami tertarik untuk masuk ke sebuah museum yang ada di depan Ngarai. Sebuah pesawat AT-16 buatan Amerika Serikat yang ada di depan museum membuat kami penasaran apa yang ada di dalam museumnya.

Namanya Museum Tri Daya Eka Dharma. Kondisi museum ini sangat sepi, hanya kami bertiga yang memasuki museum ini. Namun sesampainya di dalam ternyata pintu masuk museum terkunci. Tidak ada orang sama sekali di museum ini. Sampai pada akhirnya seorang yang masih muda dengan rambut cepak berperawakan tentara keluar dari bagian dalam museum ini. Ia bertanya kepada kami bertiga apakah akan masuk ke dalam museum. Kami mengiyakan bahwa kami akan masuk ke dalam museum. Lalu kami disuruh untuk mengisi buku tamu dan membayar biaya masuk museum seikhlasnya. Seumur-umur baru kali ini saya masuk ke museum yang retribusi masuknya seikhlasnya.

Di dalam museum disajikan berbagai macam persenjataan tentara Indonesia dan asing, termasuk alat-alat komunikasi untuk militer. Seperti museum-museum di Indonesia pada umumnya, kondisinya ya begitu-begitu saja. Selain kota wisata, Bukittinggi ini memang salah satu kota bersejarah di Indonesia. Bukittinggi pernah menjadi ibukota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang dipimpin oleh Syafruddin Prawinegara.

Keluar dari museum kami lalu masuk ke Ngarai Sianok. Kami berdecak kagum pada keindahan Ngarai ini. Sebuah lembah curam (jurang) yang membentuk patahan panjang dengan dinding curam bahkan ada yang tegak lurus. Membentuk lembah hijau dibawahnya dengan sungai kecil memanjang mengikuti alur dari Ngarainya. Di seberang Ngarai nampak Gunung Singgalang berdiri gagah.

Di dalam Taman Panorama Ngarai Sianok ini banyak kami temui pedagang-pedagang yang menjual oleh-oleh khas dari tanah Minang ini. Ada kain tenun, replika rumah gadang dan juga ada lukisan-lukisan dengan panorama khas Minang yang biasa saya lihat di rumah makan Padang.

Masih di dalam kawasan Taman Panorama Ngarai Sianok ini, kami kemudian masuk ke dalam Lubang Jepang. Dulu dalam masa penjajahan Jepang, karena lokasinya yang sangat strategis di tengah-tengah Pulau Sumatra. Bukittinggi dijadikan sebagai pusat komando pertahanan tentara Jepang di Sumatra. Jepang membangun tempat ini selain sebagai pertahanan, dipakai juga sebagai tempat untuk menyimpan amunisi dan perbekalan. Di dalamnya terdapat banyak ruang dengan berbagai macam keperluan tentara Jepang. Saya bergidik ngeri ikut turun memasuki lubang ini. Sampai dibawah suasana remang-remang, jalanan juga bercabang-cabang. Bangunannya sangat kokoh, seperti bangunan-bangunan Jepang lainnya. Bahkan gempa Sumatra Barat ditahun 2009 tidak merusaknya. Entah berapa romusha yang dikerahkan untuk ikut membangun lubang ini. 

salah satu lembah di Ngarai Sianok

Ngarai Sianok
sekitar Ngarai Sianok..

pelukis di Ngarai Sianok

Melyn :P

Tak berapa lama kemudian kami kemudian kembali naik. Saya dan Melyn lalu mencoba menghitung berapa jumlah anak tangga sampai ke atas. Namun antara haus dan lelah berjalan menanjak saya sudah tak mampu menghitungnya lagi. Ada ratusan anak tangga agar kami bisa sampai ke atas lagi. Sesampainya di atas, kami seperti sekelompok orang yang tanpa daya selepas bekerja begitu keras.



Lubang Jepang

Ngos-ngosan sehabis dari Lubang Jepang


Dari Taman Panorama Ngarai Sianok ini kami bergegas naik angkot lagi menuju ke Benteng Fort de Kock. Ini adalah sebuah benteng yang dibangun oleh Belanda di sebuah puncak bukit di Bukittinggi. Benteng ini dibangun tentara Belanda untuk menghadapai rakyat Minangkabau pada saat Perang Paderi. Dari atas bukit ini kita bisa melihat pemandangan kota Bukittinggi dari atas. Disekitar benteng ini kini dibuat menjadi sebuah taman yang hijau dan sejuk.

Dari benteng ini kemudian kami berjalan lagi menuju Jembatan Limpapeh. Jembatan ini menghubungan antara Benteng Fort de Kock ke Kebun Binatang Bukittinggi. Jembatan ini persis diatas sebuah jalan utama di Bukittinggi, Jalan Ahmad Yani.  Setelah sampai di kebun binatang ini, saya memisahkan diri dari Hilmy dan Melyn. Saya tidak suka dengan sebuah kebun binatang dengan konsep mengurung binatangnya. Bagi saya hal itu semacam penyiksaaan yang dipertontonkan. Saya duduk menunggu di depan pintu masuk kebun binatang dimana ada replika rumah gadang juga disini.

Selepas Hilmy dan Melyn berkeliling, kemudian kami bertemu kembali di depan pintu gerbang kebun binantang. Dari tempat itu kami kemudian berjalan kaki ke arah Pasar Ateh yang ada di dekat Jam Gadang.

Di dekat pasar kami mampir untuk shalat asar di Masjid Raya Bukittinggi. Saya dan Hilmy kemudian bergegas mengambil wudhu dan shalat asar. Suasana masjid begitu ramai, terlebih ini adalah bulan ramadhan. Selesai shalat berjamaah berdua kami keluar dari masjid. Saat kami keluar, banyak sekali orang yang berjalan masuk ke masjid. Dan tak beberapa lama kemudian terdengar adzan. Saya dan Hilmy berpadangan sambil bertanya-tanya. Kok baru adzan asar ya. Padahal kami mengira sudah asar sehingga kami langsung bergegas shalat asar. Nampaknya kami masih berpegang kepada jadwal shalat asar di Jawa, padahal ini sudah di Sumatra. Bahasa Belandanya kegasiken!

Di depan Masjid Raya Bukittinggi ada semacam pasar wisata. Namanya ‘Pasar Pabukoan Wisata Bukittinggi’. Di pasar ini dijajakan berbagai macam makanan khas Minang. Kondisi pasarnya sangat ramai dengan banyak orang yang membeli makanan untuk berbuka puasa. Ini seperti surganya kuliner makanan khas Minang. Kami kemudian membeli beberapa untuk bekal kami buka puasa hari ini.

Jembatan Limpapeh

Dari atas Jembatan Limpapeh




Dari pasar pabukoan ini kami berjalan lagi ke arah Jam Gadang. Menuju Jam Gadang kami melewati Pasar Ateh yang sedang ramai orang hilir mudik. Meskipun ramai, namun suasananya tetap saja nyaman. Akhinya, setelah putar-putar sampailah kami ke Jam Gadang. Sebuah menara jam sebagai simbol kota Bukittinggi. Kota bersejarah tempat kelahiran tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Hatta dan Agus Salim. 

Jam Gadang tahun 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai hadian dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, controleur Fort de Kock. Jam ini digerakkan secara mekanik oleh mesin yang di dunia hanya ada 2 yaitu Jam Gadang ini dan Big Ben di London Inggris. 




Namun sayang ketika kami sampai di Jam Gadang cuaca sangat mendung dan akhirnya turun hujan. Kami bertiga berteduh persis di sebuah bangunan di sekitar Jam Gadang. Lama berteduh namun hujan tak reda, akhirnya ditengah rintik hujan kami nekat mencari angkot untuk pergi ke Terminal Air Kuning. Terminal dimana kami harus mencari travel untuk kembali ke Solok. Sesampainya di Air Kuning hujan belum reda. Sementara travel ke Solok sore ini jarang kami temukan.

Kami bertiga berdiri di emperan toko sambil kedinginan. Di samping saya, ada ibu-ibu penjual es yang nampak cemberut dagangannya tidak laku karena hujan. Kadang hujan memang menyejukkan, namun ada kalanya hal seperti ini yang kami temui. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya kami menemukan travel menuju Solok. Kami bergegas masuk dengan kondisi baju agak basah. Menikmati perjalanan kami pulang ke Solok.

Di jalan menuju pulang, hari mulai gelap. Kami membatalkan puasa kami dengan jajan yang kami beli tadi di pasar dekat Masjid Raya Bukittinggi. Travel melaju dengan cepatnya, samar-samar diantara kegelapan saya melihat lagi Danau Singkarak di sisi kanan. Ah, hari ini saya merasakan banyak kesyahduan.

Lintang Damar Panuluh

Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...