Kamis, 28 Februari 2008
masih menunggu
Rabu, 27 Februari 2008
Lihat, Dengar, Rasakan
Dia telah berdiri, coba berlari
Tak pernah dia jelang hidup yang inginkan
Kilau hari-hari dan birunya langit
Terhapus rasa indah, terpejam oleh lelah
Dalam lelahnya mata nikmat dunia menjelma
Sejenak dia berharap malam tanpa batas
Bunda selalu tanamkan jangan pernah menyerah
Jalani dan panjatkan, kelak syukur kau ucapkan
Pada diri Nya ku mohonkan
Mudahkan hidupnya, hiasi dengan belai-Mu
Sucikan tangan-tangan yang memegang erat harta
Terangi harinya dengan lembut mentari-Mu
Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka
Selasa, 26 Februari 2008
Untukmu, Wee
Kita tak pernah tahu, apakah semua itu sebuah prolog dalam lintasan rel panjang yang memang disajikan untuk kita.. Yang dulu begitu menggetarkan hatimu.. Diselingi tangisan2 yang menelenggelamkan jiwaku akan masa lalu..
Jika aku bisa memutar masa lalu, mungkin aku akan membelokkan perjalananku.. Untuk bisa "memberi lebih".. Namun sekarang aku harus yakini kata2mu..
Sekarang adalah sekarang..
Dulu adalah dulu..
Semoga kisah masa lalu bisa lebih mendewasakan.. Menyegarkan hidup kita sekarang...
Terima kasih atas sebuah pengalaman yang luar biasa untuk kita..
Menjadi sebuah kisah klasik yang tak terlupakan oleh..
Lagunya kurang satu tuh... Temani Aku by Sheila On 7...
Hehhehheehhe...
Rabu, 20 Februari 2008
Gempa (Lagi)
Aku harus ikut keluar rumah bareng tetangga-tetangga yang tampaknya sudah biasa menghadapi gempa.
Semoga semuanya baik-baik saja...
Senin, 18 Februari 2008
Puisi AADC
Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
Dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya..
Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja.
Tangisku.. Pembelajaran Buatku..
Acara itu berkisah tentang seorang kakek pemetik teh, yang hidup bersama dengan istrinya dan seorang cucu mereka. Mereka hidup serba kekurangan. Dengan pendapatan hanya Rp.6000/hari sebagai buruh pemetik teh. Mereka hidup sangat sederhana. Untuk makan pun hanya sepiring nasi dengan garam. Yup, hanya dengan garam. Tanpa sayur dan lauk apapun.
Namun yang membuat aku tercengang adalah mereka tidak pernah mengeluh, selalu tersenyum. Sangat ikhlas walaupun untuk hidup saja mereka harus bersusah payah.
Ketegaran mereka luar biasa, selalu bersyukur dengan apa yang mereka raih.
Aku jadi keinget kejadian waktu aku kelas 3 SMP. Aku diceritain ma guru Bahasa Indonesiaku, tentang adik kelas yang waktu itu kelas 1. Rumahnya di daerah Sapuran kira-kira 30 km dari sekolah. Pada saat itu ia berusaha untuk sekolah terbaik di kotaku, mungkin karena kesungguhannya untuk sekolah. Pada sore hari sebelum hari pertama masuk sekolah. Ia harus berjalan kaki ke kota karena orang tuanya yang hanya petani tidak sanggup untuk memberi uang saku. Ia hanya membawa uang saku Rp. 500. Dengan niatan untuk menginap di rumah kenalan pamannya di kota. Semangatnya sungguh luar biasa. Yang ia harapkan hanya bisa memperoleh pendidikan terbaik. Mungkin dengan harapan untuk mengangkat kehidupan keluarganya. Sungguh cita2 yang sangat mulia.
Teringat dua cerita itu, rasanya aku sangat malu. Ingin menangis. Selama ini aku sering menghambur-hamburkan uang. Tidak pernah menghargai yang namanya uang. Ternyata masih banyak orang yang nasibnya lebih buruk dari aku. Namun aku tak pernah bersyukur atas itu.
Semoga dengan teringat cerita2 itu, aku selalu bersyukur atas apa yang aku peroleh.
Semoga aku ingat pada mereka. Mereka yang menganggap hidup bukan sebagai beban. Namun impian2 yang penuh optimisme.
Sabtu, 16 Februari 2008
Pura-pura
Aku masih yakin, kepura-puraan itu bisa menjadi sempurna. Walau kepura-puraan bisa menjadikan seluruh badan ini termakan ego.
Hilang kenikmatan dari semua nilai-nilai yang dinamakan ketenangan.
Pura-pura cuma bualan. Sifat dasar sebuah kemunduran. Pemakan nilai-nilai kejujuran.
Karena kejujuran adalah inti dari hidup. Penolong kehidupan.
Ah, semakin bingung saja aku.
Anti Kemapanan
Dulu kalimat itu begitu aku agung2kan, namun dalam realitanya aku tidak bisa mencerna kalimat yang penuh makna itu.
4 Bulan yang lalu ketika masih di Semarang aku begitu termotivasi dengan kalimat itu. Aku mencoba mencari sisi lain dunia ini. Mencoba berpetualang,, kalau istilah edensor-nya mencari mozaik2 hidup kita yang berserakan penuh misteri. Aku mencoba merajut hidup baru, yang tentunya penuh tantangan. Mencari kerja yang penuh dengan peluh, mencoba memaknai hidup dari sudut pandang yang berbeda.
Sekarang aku berada beribu kilometer dari tanah leluhurku, di ujung barat Indonesia. Banda Aceh tepatnya. Kota yang sedang berbenah karena dihantam badai yang luar biasa dahsyat, Tsunami. Kota yang menamakan diri kota "syariah" namun dari pandangan kasat mata masih banyak penduduknya yang memaknai syariah hanya dengan jilbab. Namun sendi2 kehidupannya masih jauh dari syariah yang kaffah. Rasanya syariah baru sebatas slogan2 semata, belum mengakar dalam darah penduduknya.
Kembali ke masalah kemapanan. Aku mengira perjalanan kesini akan menjadi titik awalku mencari mozaik2 hidupku. Namun slogan "Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan" versi Andrea Hirata belum menjamah hatiku. Masih setengah2 menurutku, belum ada tekad kuat. Masih takut dengan teori kapitalisme. Masih menganggap uang adalah segala kunci menuju tujuan.
Aku masih terkungkung bahwa hidup sejahtera itu harus bergelar sarjana. Masih bergumul dengan teori hidup mapan harus jadi pegawai kantoran, berangkat pagi pulang sore. Membosankan!!! Aku ingin jadi peracun kemapanan, menjelajah mimpi2 yang kadang penuh dengan rancauan dan khayalan kelas medioker.
Namun sekarang aku belum mampu mewujudkannya. Masih terpana dengan kenyataan bahwa hidup nomaden kurang mengasyikkan. Lebih menikmati slogan "Makan gak makan asal kumpul" yang turun temurun di amini oleh sanak kadang tetuaku. Aku masih berharap gelar itu tersanding di namaku walaupun aku penganut faham "Jangan mau seumur hidup jadi orang gajian" versi Master Valentino Dinsi. Aku masih yakin, sepuluh tahun kedepan, orang Indonesia masih menganggap gelar itu cerminan dari diri seseorang. Padahal gelar2 itu banyak kosongnya. Gelar2 penipu diri. Menelenggelamkan diri demi sebuah kebanggaan semu. Tong kosong nyaring bunyinya. Tapi sampai kapanpun aku masih percaya dengan tetuah "Adigang Adigung Adiguna".
Namun masih ada tekad dalam hidupku kelak. Aku harus berani madhep pandhito, mencari kebenaran yang hakiki. Merasakan sari pati hidup. Mencari mozaik hidupku di seberang lautan, diseberang samudra. Menjangkau segenap benua, demi sebuah kehausan diri akan makna hidup.
Meskipun sekarang masih tenggelam dalam kehidupan semu penenggelam jiwa.
Kamis, 14 Februari 2008
Perjalanan Menggoreskan Hati
Hari ini lumayan mengasikkan untukku. Aku berkesempatan main ke Kreung Raya di daerah Pelabuhan Malahayati, kurang lebih 30 km dari Banda Aceh. Di sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang luar biasa indah karena jalannya ada di tepian pantai timur Aceh. Meskipun perjalanan terasa "menyesakkan" karena di sepanjang jalan kita melewati daerah-daerah yang terkena gelombang tsunami, dengan rumah-rumah penampungan yang menggores hati.
Sebelum sampai ditujuan kita mencoba masuk jalan ke hutan. Di daerah yang selama konflik Aceh mungkin orang akan berfikir 7 kali untuk melewatinya. Namun sayang, yang kita lihat hanya padang gersang. Hutan gundul yang sangat panas dan tandus. Kemudian kita lanjutkan perjalanan semula ke Pelabuhan Malahayati.
Sesampai disana, aku disuguhi pemandangan yang begitu indah, kita berada di atas bukit dengan pemandangan pelabuhan dan laut yang begitu indah di bawahnya. Seperti negeri diatas awan. Walaupun dengan pemandangan miris juga, melihat salah satu daerah yang terparah terkena gelombang tsunami. Yang kini penuh dengan rumah-rumah bantuan, dan masyarakat yang mencoba menata hidupnya kembali. Cukup lama aku di atas bukit ini, menikmati pemandangan yang mungkin tidak akan aku temui lagi setelah aku keluar dari Aceh.
Setelah itu kita memutuskan pulang, namun tidak lupa masuk ke Pelabuhan Malahayati sekedar untuk foto didepan kapal yang sedang berlabuh.
Sungguh perjalanan yang menggoreskan hati.
Selasa, 12 Februari 2008
Bunga di Padang Gersang
Memberi semerbak hati ini..
Ah, ini cuma mimpi..
Apa ada bunga di padang gersang ?
Bukan,
Ini bukan mimpi
Bunga itu cahaya..
Merancau jiwa ini..
Meracuni kelopak ini..
Membual mimpi ini..
Ups, kau bukan bunga harapan..
Kau pesona fatamorgana..
Peracun mimpi..
Tak lebih dari ilusi..
10 tahun yang akan datang...
aku akan ada disampingmu...
entah berapa banyak pertemuan...
dan perpisahan...
saat itu tangan kita menyatu...
hati kita terpagut...
saat itu kita yakini...
pertemuan kita adalah...
pertemuan karena takdir...
Malam ini aku teringat puisi itu, puisi yang 5 tahun lalu aku berikan kepada sebuah wanita.
Saat-saat cinta monyet itu bersemi. Tanpa rasa malu...
Yup, kepada seorang wanita...
Yang jauh disana, dengan kehidupan barunya...
Dengan bahagianya...
Maaf, aku pernah mengecewakanmu...
Membuatmu menangis...
Apakah ada maaf darimu untukku?
Untuk hati yang terasing ini?
Hari ini aneh banget
Hari ini aku terasa aneh bgt, padahal hari2ku juga seperti hari2 lainnya :
- 09.00 = Bangun tidur
- 09.00-10.00 = Tiduran lagi..
- 10.00-10.45 = Ngecek email ma buka2 fs..
- 10.45-11.00 = Mandi
- 11.15-12.15 = Berangkat ke kantor liat situasi..
- 12.15-13.00 = Makan siang ( + sarapan juga )
- 13.00-16.00 = Pergi ke site..
- 16.00-18.30 = Chat..
- 18.30-20.00 = Shalat + makan
- 20.00-sekarang = Browsing (Lagi)
Tapi kok masi ngrasa aneh ya? knapa nih?
Perjalanan Jiwa
ada kalimat2 yang mengingatkan aku kalau selama ini aku tidak berada pada jalan yang benar...
----
Seorang sufi bercerita tentang perjalanan jiwanya
Dia berkata : Hatiku pernah gelisah memikirkan lima perkara
Sehingga aku sibuk mencari jawabannya
Ternyata aku mendapatkannya dalam lima perkara pula,
Pertama, aku mencari berkah dalam mengejar keperluan hidup
Aku menemukannya saat aku melakukan Shalat Dhuha
Kedua, aku mencari penerang dalam alam kubur
Aku menemukannya saat aku melakukan Shalat Malam
Ketiga, aku mencari jawaban untuk pertanyaan Munkar dan Nakir
Aku menemukannya saat aku membaca Al Qur'an
Keempat, aku mencari alat pegangan saat meniti Shiratal Mustaqim
Aku menemukannya saat aku berpuasa dan bersedekah
Dan kelima, aku mencari naungan Arasy
Dan aku menemukannya saat aku mengasingkan diri dan beribadah kepada Allah
Sekarang hatiku beristirahat dengan tenang.
Gak Semangat
Mudah-mudahan itu bisa jadi kenyataan, walaupun buat konsentrasi kerjaku disini menurun drastis dan tidak bersemangat..
Minggu, 10 Februari 2008
== terbang ==
menembus bayang...
selalu melayang...
menerjang...
buangkan sayang...
karena aku sang...
pecundang...
Kamis, 07 Februari 2008
Elegi Esok Pagi
Izinkanlah kukecup keningmu - Bukan hanya ada didalam angan - Esok pagi kau buka jendela - Kan kau dapati seikat kembang merah - Engkau tahu aku mulai bosan - bercumbu dengan bayang-bayang - Bantulah aku temukan diri - Manyambut pagi membuang sepi - Izinkanlah aku kenang sejenak perjalanan oh oh oh oh.... - Dan biarkan kumengerti - apa yang tersimpan dimatamu oh oh....... - Barangkali di tengah telaga - ada tersisa butiran cinta - dan semoga kerinduan ini - bukan jadi mimpi di atas mimpi - Izinkanlah aku rindu pada hitam rambutmu oh oh oh oh...... - Dan biarkan ku bernyanyi - demi hati yang risau ini oh oh......
< gak bisa ketemu lagi >
tak harus risih lagi karena diinfus...
tak harus akrab lagi dengan jarum suntik...
tak harus dijejali obat lagi...
yah, ternyata sakit itu ndak enak...
tapi ada satu yang bikin sedih...
jadi gak bisa ketemu lagi...
Lintang Damar Panuluh
Jakarta, 20 Agustus 2015 Di sudut Stasiun Gambir saya mendadak lemas. Tidak ada lagi tiket kereta tujuan ke Semarang untuk malam ini yang...

-
Peta di atas adalah ruteku jika ingin pulang dari Semarang ke Wonosobo. Biasanya lewat jalur yang warnanya merah. Berhubung bosen lewat jala...
-
Kapan kamu pergi jauh untuk pertama kalinya sendiri? Waktu itu tahun 2002 ketika saya belum genap berumur 15 tahun. Baru lulus SMP dan mas...
-
Kalau ada suatu tempat yang selalu ingin saya kunjungi ketika bepergian, tempat itu adalah Pelabuhan & Pantai. Saya suka dengan laut, bi...